Defisit Rp 3,2 Triliun, PBB Kehabisan Uang

Defisit Rp 3,2 Triliun, PBB Kehabisan Uang
Foto dokumentasi pada 24 September 2019 Sekretaris Jenderal PBB António Guterres berbicara pada sesi ke-74 Majelis Umum PBB di New York. ( Foto: AFP / Don Emmert )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 10 Oktober 2019 | 06:41 WIB

New York, Beritasatu.com- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan badan dunia yang dikelolanya mengalami defisit US$ 230 juta atau sekitar Rp 3,26 triliun. Pada Senin (7/10), dia mengaku PBB mungkin tak sanggup membayar gaji staf pada akhir Oktober 2019.

“Bulan ini, kami akan mencapai defisit terdalam dekade ini. Kami mengambil risiko memasuki November tanpa cukup uang tunai untuk menutupi gaji. Pekerjaan kami dan reformasi kami dalam bahaya,” kata Guterres.

Dalam sepucuk surat yang ditujukan untuk 37.000 karyawan di sekretariat PBB dan diperoleh oleh AFP, Guterres mengatakan "langkah-langkah kesenjangan tambahan" yang tidak ditentukan harus diambil untuk memastikan gaji dan hak staf dibayarkan.

“Negara-negara Anggota hanya membayar 70 persen dari jumlah total yang diperlukan untuk operasi anggaran rutin kami pada tahun 2019. Ini berarti kekurangan uang tunai sebesar US$ 230 juta pada akhir September. Kami menghadapi risiko menipisnya cadangan likuiditas cadangan kami oleh akhir bulan,” tulisnya.

Untuk mengurangi biaya, Guterres menyebutkan menunda konferensi dan pertemuan dan mengurangi layanan. Pada saat yang sama, PBB juga membatasi perjalanan resmi hanya pada kegiatan penting dan mengambil langkah-langkah untuk menghemat energi.

Seorang pejabat PBB mengatakan dengan syarat anonimitas, Guterres telah meminta negara-negara anggota awal tahun ini untuk meningkatkan kontribusi kepada badan dunia sehingga mencegah masalah arus kas, tetapi mereka menolak.

“Tanggung jawab utama untuk kesehatan keuangan kita terletak pada Negara-negara anggota,” kata Guterres.