AS Coba Suap Kapten Kapal Tanker Iran

AS Coba Suap Kapten Kapal Tanker Iran
Seorang anggota kru memeriksa nama baru kapal tanker minyak Iran Adrian Darya, yang sebelumnya dikenal sebagai Grace 1, di lepas pantai Gibraltar, pada 18 Agustus 2019. ( Foto: AFP / Johnny BUGEJA )
Unggul Wirawan / WIR Minggu, 8 September 2019 | 05:55 WIB

Washington, Beritasatu.com- Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah mengkonfirmasi bahwa pihaknya memang menawarkan uang jutaan dolar kepada kapten kapal tanker minyak Iran yang berada di tengah-tengah pertikaian diplomatik.

Brian Hook, Kepala Kelompok Departemen Aksi Iran, mengirimi email kepada kapten Adrian Darya 1 tentang tawaran berlayar ke suatu tempat sehingga AS bisa merebutnya.

Kapal tanker itu diduga memindahkan minyak ke Suriah, dan sementara waktu ditahan oleh otoritas Inggris di Gibraltar pada bulan Juli. Kapal Adrian Darya 1 dirilis bulan lalu setelah Iran memberikan jaminan tentang tujuannya.

Departemen Kehakiman AS, yang telah mencoba untuk memblokir pembebasan Adrian Darya 1, kemudian mengeluarkan surat perintah untuk merebut kapal tanker itu.

Laporan penawaran tunai pertama kali muncul di Financial Times pada Rabu (4/9) dan telah dikonfirmasi oleh departemen luar negeri AS.

“Kami telah melakukan penjangkauan luas ke beberapa kapten kapal serta perusahaan pelayaran,” kata seorang juru bicara kepada kantor berita AFP.

AS telah menempatkan kapal tanker ke daftar hitam Jumat lalu. Departemen keuangan AS menyatakan kapal itu digunakan untuk mengangkut 2,1 juta barel minyak mentah Iran untuk kepentingan Pengawal Revolusi Iran - cabang angkatan bersenjata negara itu yang dinyatakan AS sebagai organisasi teroris.

Menurut Financial Times, Hook mengirim email ke kapten Adrian Darya 1, Akhilesh Kumar yang merupakan warga India, sebelum memberlakukan sanksi pada kapal tersebut.

"Saya menulis dengan berita baik," baca email itu. Pemerintah Trump bersedia membayar kapten beberapa juta dolar untuk mengambil kapal di suatu tempat yang bisa disita oleh otoritas AS.

Email-email itu dilaporkan memuat nomor telepon departemen luar negeri AS untuk memastikan kapten - yang mengambil alih kapal setelah disita - tidak berpikir bahwa tawaran itu palsu.

Kepada Financial Times, Hook mengatakan bahwa departemen luar negeri AS "bekerja sangat erat dengan komunitas maritim untuk mengganggu dan mencegah ekspor minyak ilegal".



Sumber: Suara Pembaruan