Hujan Pengaruhi Membaiknya Kualitas Udara Jakarta

Hujan Pengaruhi Membaiknya Kualitas Udara Jakarta
Ilustrasi hujan. (Foto: Antara)
Ari Supriyanti Rikin / CAH Jumat, 20 Maret 2020 | 19:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kualitas udara di Jakarta sejak empat hari terakhir cenderung membaik. Ini tidak lepas dari pemberlakuan social distancing melalui kerja di rumah atau work from home (WFH), belajar dan ibadah dari rumah untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona (Covid-19),

Namun, hal itu tidak menjadi faktor tunggal membaiknya kualitas udara, sebab masih ada hujan yang turun di Jabodetabek turut membantu tercucinya atmosfer dari polusi.

Kepala Sub Bidang Informasi Pencemaran Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Suradi mengatakan, dari data pengukuran near realtime partikulat PM 10 atau partikel polusi berdiameter kurang dari 10 mikron (seperlima ukuran rambut manusia) per jam di BMKG Kemayoran, sejak Senin (16/3) hingga Kamis (19/3) kecenderungan kualitas udara membaik (kurang dari 50 mikro meter per meter kubik).

"Hanya di jam-jam tertentu yang kadang di level sedang. Namun yang perlu juga diperhatikan bahwa kemungkinan penurunan PM10 ini juga akibat musim hujan," katanya di Jakarta, Jumat (20/3/2020).

Kondisi udara yang baik juga terpantau di pos kualitas udara Cibeureum. Kualitas udara di Bogor dan sekitarnya sejak empat hari terakhir juga terpantau baik dengan konsentrasi di bawah 50 mikro meter per meter kubik.

Suradi mengungkapkan, pada musim hujan konsentrasi PM10 memang cenderung menurun akibat proses pencucian oleh hujan (rain wash).

Oleh karena itu lanjutnya, perlu pengamatan lebih mendalam agar bisa diambil kesimpulan bahwa pengurangan aktivitas kendaraan ini bisa efektif mengurangi polusi di Jakarta.

Terkait sejumlah negara yang melakukan pemberlakuan karantina wilayah (lockdown) karena corona seperti Italia lanjutnya, memang ada penurunan partikel polusi udara.

Suradi mengungkapkan, di Italia bagian utara tingkat polusi udara turun 10 persen setiap pekannya setelah beberapa pekan pemberlakuan lockdown. Partikel yang diamati adalah nitrogen dioksida (NO2).

Senyawa polutan ini termasuk short lived pollutant, hanya bertahan beberapa sehari kemudian terdeposit atau bereaksi dengan gas lain di atmosfer.

Sedangkan di Wuhan, Tiongkok kadar polusi udara turun hingga 25 persen. Senyawa yang terpantau turun yakni
AOD (Aerosol Optical Depth). Aerosol ini salah satu komponen utama yang diperlukan dalam studi kualitas udara yang dapat memberikan informasi mengenai perkiraan pengaruh atmosfer terhadap radiasi sinar matahari yang dipancarkan dan yang dipantulkan.

"Jadi makin banyak debu aerosol di udara makin menghambat radiasi matahari. Karena aerosol menutupi atmosfer," ucapnya.

Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu menilai, perbaikan kualitas udara harus yang bersumber dari kebijakan jangka panjang yang kemudian juga mengubah perilaku masyarakat.

"Poin utama soal polusi udara ini adalah sebaran alat pantau udara yang memadai, riset inventarisasi emisi yang reguler dan bisa dengan mudah kita bisa indentifikasi sumber pencemar udaranya," ungkapnya.

Selain itu juga upaya pengendalian sumber pencemaran udara berdasarkan hasil inventarisasi emisi tersebut menjadi poin utama. Soal keterbukaan data sumber pencemar udara juga penting, sehingga tidak berdebat soal sumbernya dari mana.

"Nah selama tidak ada data sumber pencemar udara dari hasil inventarisasi emisi, kita tidak akan tahu sumber pencemar udara yang kita hirup ini dari mana," ucapnya. 



Sumber: BeritaSatu.com