Terlalu Kecil, Drainase di Jakarta Akan Diperlebar

Terlalu Kecil,  Drainase di Jakarta Akan Diperlebar
Warga melihat banjir yang menutup Underpass atau terowongan Kemayoran, Jakarta, Minggu (2/2/2020). Banjir di kawasan tersebut diakibatkan intensitas hujan yang tinggi dan drainase yang buruk. (Foto: ANTARA FOTO / Rivan Awal Lingga)
Yustinus Paat / BW Rabu, 4 Maret 2020 | 21:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bakal memperlebar drainase untuk mencegah banjir  di Jakarta. 


"Nanti ada beberapa tempat, kita lihat masih kecil, ya harus dilebarin kalau menurut kita masih kecil, sudah tidak nampung," ujar Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Juaini di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (4/2/2020).


Juaini mengatakan pihaknya akan menggunakan anggaran normalisasi dalam memperbaiki atau memperlebar drainase di Jakarta. Namun,  Juaini tidak memerinci berapa anggaran Pemprov DKI untuk memperlebar drainase.


"Kita lihat ini saja, memang kita ada anggaran normalisasi (untuk memperlebar drainase)," tandas Juaini.


Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, sistem drainase di Jakarta dirancang dengan asumsi curah hujan 100 hingga 150 mililiter. Karena itu, kata Anies, jika terjadi curah hujan 100 hingga 150 mililiter, maka drainase bisa berfungsi dengan baik.


"Jadi kami di Jakarta ini. Sistem drainase yang kita bangun, engineering-nya mengasumsikan 100-150 ml. Ketika hujannya 100-150 ml, maka saluran bisa mengalirkan air. Kalau angka segitu dan tidak mengalirkan, berarti mampet," ujar Anies di Kantor BNPB Jakarta, Senin (2/3/2020).


Namun, kata Anies, jika curah hujan lebih dari 150 ml, maka drainase DKI tidak bisa manampung kapasitas air hujan ekstrem. Dampaknya, menurut dia, air hujan tergenang dan mengakibatkan banjir.


"Itu sama seperti kita pegang gelas, gelasnya kapasitasnya 250 ml, dituang 100 ml itu tumpah, berarti yang pegang salah. Dituang 100 ml kok tumpah? Tapi kalau dituang 500 ml dan tumpah, ya memang kapasitasnya tidak sanggup," tutur Anies.


Karena itu, kata Anies, solusi mengatasi banjir Jakarta tidak melulu pendekatan sungai atau membuat tanggul. Pasalnya, persoalan banjir Jakarta bukan hanya di sungai, tetapi di rumah-rumah, di kampung-kampung dan gedung-gedung. 


"Melihat pola curah hujan, maka solusinya tak cukup hanya dengan pendekatan terkait sungai-sungai saja. Tidak cukup hanya terkait dengan tanggul laut saja. Karena yang dihadapi ada di rumah-rumah, di kampung-kampung, di gedung-gedung. Karena curah hujannya tinggi dan polanya, tidak lagi berpola," terang Anies.


Anies pun mengusulkan solusi mengatasi banjir Jakarta dengan membuat sumur saluran air atau zero run off. Menurut dia, solusi zero run off tersebut efektif untuk mencegah banjir di Jakarta sebagai akibat curah hujan ekstrem.


Apalagi, kata dia, sudah 92 persen  area Jakarta sudah tertutup oleh jalan, gedung, dan rumah. 


"Selama ini yang kita lakukan tanpa ada zero run off, dari atap rumah dikirim ke saluran drainase. Ini masih berjalan baik ketika hujannya hanya 50 ml, 70 ml, 100 ml. Ini mampu menampung sampai 100 ml. Namun,  ketika hujannya 300 ml langsung dikirim ke sistem drainase kita, dia tidak cukup lagi menampung, di situ terjadi genangan. Jadi, zero run off harus sudah menjadi keharusan," pungkas Anies. 



Sumber: BeritaSatu.com