Dirut Jakpro Nilai Formula E Bukan Acara Mahal

Dirut Jakpro Nilai Formula E Bukan Acara Mahal
Acara talkshow "Menghitung Formula Sosial-Ekonomi Formula E" di MAJ Senayan, Jakarta, Sabtu (15/2/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Yustinus Paat / FER Sabtu, 15 Februari 2020 | 22:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Utama (Dirut) PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Dwi Wahyu Daryoto, mengatakan, ajang balapan internasional Formula E bukan acara mahal.

Dirut Jakpro Sebut Formula E Selaras Program Jokowi

Terlebih, kegiatan ini selaras dengan program Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempercepat pemakaian kendaraan bermotor listrik, yang telah diatur melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019.

"Relatif (kalau disebut mahal). Saya hanya quote omongan Pak Gubernur DKI, mahal itu kalau dibandingkan dengan yang tidak ada biayanya," Dwi dalam acara talkshow "Menghitung Formula Sosial-Ekonomi Formula E" di MAJ Senayan, Jakarta, Sabtu (15/2/2020).

Dwi membandingkan biaya penyelenggaraan Formula E dengan pembangunan Velodrome untuk track sepeda yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 600 miliar. Oleh karena itu, Jakpro berupaya semaksimal mungkin untuk membangun lintasan balap mobil listrik dengan efektif dan efisien.

"Nah yang sekarang kita juga berusaha untuk mengoptimalkan (anggaran yang ada). Jangan dilihat itunya (anggarannya). Jadi, harus dilihat impact atau dampaknya," tegas Dwi.

Jakpro Klaim Keuntungan Formula E Bisa Rp 600 Miliar

Menurut Dwi, dampak langsung dan tidak langsung dari Formula E akan sangat besar terhadap Jakpro, Pemprov DKI dan bangsa Indonesia. Dia mencontohkan dampak langsung ke Jakpro seperti penjualan tiket dan sponsorship.

"Hitungan spending direct impact money senilai Rp 600 miliar. Kru FEO (badan penyelenggara Formula E) jumlahnya sekitar 2.000 orang, mereka tinggal seminggu, spending untuk akomodasi, transportasi, dan konsumsi, sudah berapa?" kata Dwi.

Selain itu, lanjut Dwi, dampak tidak langsung adalah multiplier effect dari uang yang berputar di masyarakat. Belum lagi dampak promosi dari liputan media. Pasalnya, media coverage dan eksposur dari Fox Sport selaku pemegang hak siar Formula E akan sangat masif. 

"Ajang ini akan disiarkan langsung ke 140 negara secara live selama 45 menit. Dunia akan tahu ternyata Indonesia aman dan kondusif untuk investasi. Waktu Pak Jokowi ke Korea kan mau menarik investor mobil listrik ke Indonesia, nah Formula E ini akan menjadi ajang promosi," tandas Dwi.

Maret 2020, Pengaspalan Monas untuk Formula E

Soal biaya penyelenggaraan, lanjut Dwi, dari PMD (penyertaan modal daerah) sebesar Rp 700 miliar, dua pertiga dipakai untuk hosting fee, dan bank guarantee yang tidak akan hangus. Sementara, hosting fee itu akan dibelanjakan di Indonesia juga oleh kru Formula E Operation (FEO).

"Mereka akan spending uangnya di sini untuk akomodasi dan konsumsi, belum lagi biaya pembangunan grandstand dan lain-lain," kata Dwi.

Dwi menilai, ajang Formula E merupakan investasi jangka panjang. Pasalnya, Indonesia mendapatkan kontrak penyelenggaraan selama lima tahun dari 2020 hingga 2024. Hal ini dinilainya terdapat dampak skala ekonomi, sehingga setiap tahun biaya turun dan profit meningkat.

"Ada pembangunan infrastruktur seperti safety barrier yang tidak hanya sekali pakai, bahkan bisa kita pakai lima tahun. Untuk overlay aspal bisa di-kelotok setelah balapan selesai. Namun, kalau bisa harus kita pertahankan, karena bisa dipakai lagi tahun berikutnya. Alat-alat itu bisa digunakan untuk kerja sama dengan Ikatan Motor Indonesia (IMI) untuk even-even yang lain," tandas Dwi.



Sumber: BeritaSatu.com