Dua Partai Pengusung Tidak Boleh Jadi Panitia Pemilih Pemilihan Wagub DKI

Dua Partai Pengusung Tidak Boleh Jadi Panitia Pemilih Pemilihan Wagub DKI
Ketua DPRD DKI, Prasetio Edi Marsudi. ( Foto: Beritasatu.com/Lenny Tristia Tambun )
Lenny Tristia Tambun / CAH Jumat, 31 Januari 2020 | 22:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi mengatakan dua partai pengusung, yaitu Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak boleh masuk dalam susunan pantia pemilih (panlih) pemilihan wakil gubernur (wagub) DKI.

“Nanti dalam susunan panlih semua faksi akan terwakili, kecuali dua partai pengusung. Tidak boleh dimasukkan ke dalam panlih. Supaya tidak menimbulkan adanya intervensi kepentingan,” kata Prasetio Edi Marsudi, Jumat (31/1/2020).

Begitu juga pimpinan panlih nanti, Fraksi PDI Perjuangan tidak akan mengambil posisi tersebut. Pimpinan panlih akan diserahkan kepada anggota dan diharapkannya berasal dari fraksi lain. Namun ia belum bisa menentukan berapa jumlah panlih karena diputuskan dalam rapimgab.

“Ketua Panlih jangan dari PDIP. Nanti dibilang ada intervensi dan segala macam. Dipilih dari partai atau fraksi lain, supaya tidak ada intervensi kepentingan,” terang Prasetio Edi Marsudi.

Politisi PDI Perjuangan ini menerangkan tahapan proses pemilihan wagub DKI. Pertama ia akan memberikan surat kepada Badan Musyawarah (Bamus) DPRD DKI untuk menentukan jadwal penetapan pemilihan wagub DKI.

Kemudian, akan dilakukan rapat pimpinan gabungan (rapimgab) untuk membahas tata tertib pemilihan wagub hasil pansus pemilihan wagub DKI pada tahun 2019 dan pembentukan panlih.

Dilanjutkan dengan menggelar rapat paripurna untuk pengesahan Tatib Pemilihan Wagub. Setelah disetujui, baru dilakukan paripurna pemilihan wagub DKI. Dalam paripurna ini, akan dilakukan voting untuk pemilihan wagub.

“Untuk perhitungan suara, berdasarkan tatib yang disusun pansus, 50 plus 1 dari seluruh jumlah anggota dewan yang berjumlah 106 orang. Pemilihannya kemungkinan akan tertutup, kalau terbuka bisa berantem, tapi kalau tertutup kan enggak tahu siapa milih siapa. Ini bisa lebih fair lagi,” terang Prasetio Edi Marsudi.

 



Sumber: BeritaSatu.com