Berhenti di Jalan Tol, Modus Pengemudi Hindari Ganjil-Genap

Berhenti di Jalan Tol, Modus Pengemudi Hindari Ganjil-Genap
Petugas kepolisian mengatur lalulintas saat hari pertama penindakan sistem ganjil-genap di kawasan Matraman, Jakarta, Senin (9/9/2019). (Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta)
Bayu Marhaenjati / WBP Selasa, 21 Januari 2020 | 14:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Penerapan ganjil-genap dengan skema tidak penuh waktu, ternyata menjadi celah bagi para pengemudi untuk menyiasati sistem pembatasan kendaraan bermotor roda empat itu. Belakangan, muncul fenomena kendaraan berhenti di jalan tol untuk menghindari sistem ganjil-genap.

Pengamat Transportasi Budiyanto mengatakan, ganjil-genap adalah skema pembatasan lalu lintas untuk mengurai kemacetan akibat pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak terkendali dan tidak sebanding dengan pembangunan infrastruktur jalan. Ganjil-genap, berpedoman pada kalender nasional, kecuali hari Sabtu dan Minggu serta hari libur nasional tidak diberlakukan.

"Waktunya pagi pukul 07.00 sampai dengan 10.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Namun dengan skema waktu yang tidak full time, ternyata celah ini disiasati pengguna jalan dengan berhenti di jalan tol sambil menunggu lewat waktu ganjil-genap," ujar Budiyanto, kepada Beritasatu.com, Selasa (21/1/2020).

Dikatakan Budiyanto, jalan tol merupakan jalan bebas hambatan dengan kecepatan tinggi. Berhenti di jalan tol dapat mengganggu ketertiban, keamanan dan keselamatan lalu lintas, sehingga tidak diperbolehkan atau dilarang kecuali dalam keadaan darurat. "Fenomena ini harus segera dilakukan penertiban baik dengan cara-cara edukatif maupun penegakan hukum," ungkap Budiyanto.

Budiyanto menyampaikan, di dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas & Angkutan Jalan, telah diatur tentang tata cara berlalu lintas seperti Pasal 105:
"Setiap orang yang menggunakan Jalan wajib:
a. Berperilaku tertib dan atau
b. Mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan."

Pasal 106 ayat 4 berbunyi:
"Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mematuhi ketentuan:
a. Rambu- rambu perintah atau rambu larangan.
b. Marka jalan.
c. Gerakan lalu lintas.
d. Berhenti dan parkir, dan seterusnya."

Kemudian, Pasal 118 berbunyi:
"Selain kendaraan bermotor dalam trayek, setiap kendaraan bermotor dapat berhenti di setiap jalan kecuali:
a. Terdapat rambu-rambu larangan berhenti dan atau marka jalan yang bergaris utuh.
b. Pada tempat tertentu yang dpt membahayakan keamanan, keselamatan, mengganggu ketertiban dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan; dan atau
c. Jalan tol."

Menurut Budiyanto, pengemudi yang berhenti di jalan tol dapat dikenakan Pasal 287 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas & Angkutan Jalan. "Pelanggar dapat dikenakan Pasal 287, dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500.000," tandas Budiyanto.

Berikut bunyi Pasal 287:

"Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf a atau marka jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500.000,00."



Sumber: BeritaSatu.com