Korban Gusuran Sunter Keluhkan Tidak Boleh Pasang Peneduh

Korban Gusuran Sunter Keluhkan Tidak Boleh Pasang Peneduh
Sejumlah warga korban penggusuran Jalan Agung Perkasa 8 Sunter, Tanjung Priok masih bertahan Rabu (20/11/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Carlos Roy Fajarta Barus)
Carlos Roy Fajarta / WBP Rabu, 20 November 2019 | 23:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Puluhan warga korban gusuran Jalan Agung Perkasa 8 Sunter, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara mengeluhkan sikap petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang tidak berperikemanusiaan karena melarang memasang atap triplek di pinggiran gudang.

"Kalau tenda sudah pasti tidak boleh, langsung dibongkar, tapi kita mau pasang triplek untuk berteduh saja juga tidak boleh, langsung ditegur Satpol PP. Mereka bilang kalau tetap dipasang akan diambil paksa semua sisa-sisa barang yang masih bisa digunakan," ujar Samsul Arifin (35) salah satu korban gusuran Rabu (20/11/2019) kepada Beritasatu.com.

Ia menyebutkan banyak anak-anak yang hidup dalam ketakutan karena petugas kerap lalu lalang di gubuk kecil yang mereka buat di atas saluran air depan gudang Jalan Agung Perkasa 8. "Anak-anak di sini langsung pada masuk ke gubuk kalau ada petugas mendekat. Mereka menangis takut gubuknya dibongkar petugas," tambah Samsul.

Sementara Hasyim (36) warga lainnya menyebutkan para warga bertahan di lokasi jalan tak jauh dari bekas rumah mereka yang digusur. Ia tidak mau direlokasi karena tidak diberikan solusi untuk tetap bertahan hidup di Jakarta.

"Kita di sini mengepul besi bekas dan bertahan hidup dari rejeki tersebut. Kalau kita dipindahkan ke rusunawa apakah peraturan di sana memperbolehkan kami menaruh barang bekas di halaman rusun?" kata Hasyim.

Hasyim menegaskan apa yang dibutuhkan oleh warga Jalan Agung Perkasa 8 bukan tempat relokasi rusunawa melainkan tempat usaha sekaligus tempat tinggal.

"Padahal kita di sini punya KTP DKI Jakarta meski ngurusnya di alamat saudara di daerah Koja, dulu saat pencoblosan memilih Gubernur DKI Jakarta kami semua memilih bapak Anies Baswedan dan bapak Sandiaga Uno. Tapi kenapa sekarang nasib kami seperti tidak diacuhkan seperti ini," tambah Hasyim.

Untuk mandi dan buang air besar para warga Jalan Sunter Perkasa 8 terpaksa menumpang di SPBU Shell yang tidak jauh dari lokasi tersebut. Sedangkan pada malam hari mereka bertahan di sudut pinggir jalan atau di dalam gudang-gudang yang sudah sepi aktivitas pekerja.

"Kami mohon keadilannya, karena kami ini manusia juga yang hendak mencari nafkah untuk bertahan hidup, jangan gusur kami dari tempat kami mencari sesuap nasi," tandasnya

Sementara Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Slamet Riyadi yang tengah memantau menyebutkan pihaknya segera merampungkan pembersihan hingga minggu depan.

"Sehari kita kerahkan 10-15 truk dan dua shovel untuk mengimbangi alat berat yang masih bekerja menghancurkan sisa puing bangunan dan melakukan pengerukan saluran. Sejak penertiban pada 14 November lalu kita sudah mengangkut 820 meter kubik sisa puing untuk dibuang ke Bantar Gebang Bekasi," ungkap Slamet.

Sementara petugas Dishub mengerahkan dua unit mobil derek untuk memindahkan mobil atau truk warga yang masih sering terparkir di Jalan Sunter Perkasa 8.

"Jalanan ini harus steril dari mobil atau truk warga karena akan banyak truk sampah yang datang membersihkan sisa puing-puing bangunan," ujar anggota Dishub Jakarta Utara yang tidak ingin disebutkan namanya.



Sumber: Suara Pembaruan