Polisi Guinea Bissau Sita 1,8 Ton Kokain

Polisi Guinea Bissau Sita 1,8 Ton Kokain
Ilustrasi petugas kepolisian menyita kokain. ( Foto: telegraph.co.uk / telegraph.co.uk )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 4 September 2019 | 19:16 WIB

Bissau, Beritasatu.com- Polisi di Guinea-Bissau telah menyita lebih dari 1,8 ton kokain yang disembunyikan dalam kantong tepung. Penyitaan narkoba ini merupakan yang terbesar dalam sejarah negara di Afrika Barat itu.

Pada Selasa (3/9), kepolisian Guinea-Bissau mengatakan obat-obatan telah tiba di laut di barat laut negara itu. Setelah operasi intelijen selama dua minggu, polisi menangkap delapan orang: empat warga Guinea-Bissau, tiga warga Kolombia dan seorang Mali.

Peristiwa ini adalah pengiriman narkoba besar kedua yang ditangkap tahun 2019 di bekas jajahan Portugis di Pantai Atlantik. Guinea-Bissau telah lama menjadi titik persimpangan utama bagi kokain Amerika Latin menuju Eropa. Kasus penyitaan 800 kg narkoba pernah terjadi pada Maret lalu.

Guinea-Bissau adalah rumah bagi hanya 1,8 juta orang saja dan mencakup luas hanya 10.800 mil persegi. Tetapi wilayah negara ini kebanyakan pulau-pulau terpencil dan sungai bakau tanpa penjagaan polisi sehingga menjadikannya wilayah yang ideal bagi penyelundup. Polisi mengatakan pengiriman narkoba terbaru sedang dalam perjalanan ke milisi Islam.

“Obat-obatan itu milik jaringan teroris Al Qaeda. Kokain itu berasal dari Kolombia. Tetapi tujuannya adalah Maghreb Arab,” kata Domingos Monteiro, wakil direktur polisi kehakiman.

Afiliasi Al-Qaeda di wilayah utara dan Afrika Barat sebagian besar berbasis di Mali utara dan tengah tetapi memiliki kehadiran di seluruh kawasan. Pihak berwenang di wilayah tersebut telah lama menyatakan bahwa milisi Al Qaeda terlibat dalam perdagangan narkoba di gurun Sahara yang melanggar hukum.

Selama bertahun-tahun, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menggambarkan Guinea-Bissau sebagai "negara narko", tempat para penyelundup narkoba menjadi sangat kuat sehingga mereka mengendalikan aparat pemerintah.

Tetapi setelah penangkapan beberapa politisi yang terlibat dalam perdagangan oleh Administrasi Penegakan Narkoba Amerika Serikat (AS) pada tahun 2012, lalu lintas kokain di Bissau tampaknya menurun atau bergerak di bawah tanah.



Sumber: Suara Pembaruan