Epidemi Malaria di Burundi, 1.800 Orang Meninggal

Epidemi Malaria di Burundi, 1.800 Orang Meninggal
Ilustrasi nyamuk malaria. ( Foto: huffingtonpost )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 7 Agustus 2019 | 11:17 WIB

Nairobi, Beritasatu.com- Malaria telah mengakibatkan lebih dari 1.800 orang meninggal dunia di Burundi pada tahun 2019. Seperti dilaporkan badan kemanusiaan PBB, pada Selasa (6/8), jumlah korban tewas menyaingi wabah Ebola yang mematikan di negara tetangga Republik Demokratik Kongo.

Dalam laporan situasi terbaru, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan 5,7 juta kasus malaria telah dicatat di Burundi pada tahun 2019 - angka yang kira-kira sama dengan setengah dari seluruh populasi.

"Dari semua kasus itu, total 1.801 meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh nyamuk di Burundi antara 1 Januari dan 21 Juli," kata OCHA.

Negara kecil berpenduduk 11 juta orang di kawasan Great Lakes Afrika itu masih belum mengumumkan keadaan darurat nasional, kendati OCHA mengatakan wabah itu melintasi "proporsi epidemi" pada bulan Mei.

"Rencana penanggulangan wabah malaria nasional, yang saat ini sedang divalidasi, telah menyoroti kurangnya sumber daya manusia, logistik dan keuangan untuk tanggapan yang efektif," kata OCHA dalam buletin mingguan terbaru tentang keadaan darurat kemanusiaan.

Dikatakan, semua pemangku kepentingan, termasuk otoritas nasional dan mitra diminta untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan respons yang kuat terhadap epidemi sebelum eskalasi.

Menurut OCHA, kurangnya langkah-langkah pencegahan seperti kelambu, perubahan iklim dan peningkatan pergerakan orang dari daerah pegunungan dengan kekebalan rendah terhadap malaria mendorong krisis.



Sumber: Suara Pembaruan