Indonesia Akan Gelar Forum Dialog Infrastruktur dengan Afrika

Indonesia Akan Gelar Forum Dialog Infrastruktur dengan Afrika
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan (kiri) dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat pernyataan pers bersama usai "Afternoon Tea Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue 2019" di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (24/7/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Natasia Christy Wahyuni )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 24 Juli 2019 | 21:17 WIB

Jakarta, Beritasatu- Indonesia akan menggelar forum dialog infrastruktur dengan Afrika untuk membuka peluang investasi kedua negara. Acara yang dinamakan "Indonesia-Afrika Infrastructure Dialogue" tersebut akan diadakan pada 20-21 Agustus 2019 di Bali.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan target peserta dalam forum itu sekitar 700 orang dari perwakilan pemerintah maupun swasta, baik dari 53 negara di Afrika maupun Indonesia.

"Sesuai mandat presiden dalam beberapa tahun terakhir ini, presensi (kehadiran) kita di Afrika semakin kelihatan tidak saja pada level diplomatik tetapi juga bisnis, " kata Retno dalam pernyataan pers bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan usai "Afternoon Tea Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue 2019" di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (24/7).

Retno mengatakan forum infrastruktur ini menjadi tindak lanjut dari Forum Indonesia-Afrika pada 2018. Dalam acara tahun lalu, dia menilai banyak terobosan ekspor yang dilakukan dengan Afrika dengan hasil sangat baik.

"Saya sampaikan jika Anda berpartner dengan Indonesia, maka Indonesia adalah your trusted partner (mitra terpercaya). Indonesia adalah saudara-saudaramu yang siap untuk melakukan kerja sama dengan jujur," katanya.

Sementara itu, Menko Bidang Kemaritiman Luhut mengatakan potensi Afrika sangat besar karena jumlah penduduknya mencapai 1,3 miliar. Sementara, jika digabung, jumlah penduduk ASEAN dan Afrika bisa mencapai 1,9 miliar.

"Tadi ada pertanyaan juga, Afrika seperti dieksploitasi berlebihan oleh orang-orang yang investasi ke sana. Kita tidak berpikiran seperti itu," kata Luhut.



Sumber: Suara Pembaruan