Persoalan Bahan Baku Kertas Daur Ulang Jadi Perhatian Wamendag

Jumat, 18 September 2020 | 15:30 WIB
Oleh : Aditya L Djono / ALD

Jakarta, Beritasatu.com - Kertas menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kertas menempati urutan ke-9 dari keseluruhan nilai ekspor Indonesia. Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai produsen kertas terbaik di dunia sehingga permintaan selalu naik di pasaran internasional.

Namun, pasar yang menjanjikan itu belum bisa dipenuhi karena berbagai kendala, khususnya di penghasil kertas kemasan yang berbahan baku kertas bekas. Untuk itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga, belum lama ini, berinisiatif menemui pengusaha dan asosiasi pulp dan kertas untuk mengurai persoalan yang ada. Dari kunjungan tersebut Wamendag mencatat ada dua masalah yang penting dan mendesak untuk diselesaikan.

Pertama, perlu kepastian regulasi terkait pasokan bahan baku industri kertas kemasan. Pasalnya, lebih 50% bahan baku kertas kemasan adalah kertas daur ulang. Oleh karenanya, perlu pasokan kertas daur ulang kertas yang berkelanjutan dan dipermudah.

Masalah yang dihadapi produsen, pasokan kertas bekas dari dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar separuh dari kebutuhan bahan baku, sisanya harus diimpor. Di sini ada perbedaan persepsi antara pengusaha dan pemerintah yang harus segera diselesaikan.

Di satu sisi, pemerintah menginginkan adanya homogenitas atau kemurnian barang yang diimpor, termasuk bahan baku kertas bekas. “Ini sesuai dengan regulasi yang ada dan untuk memudahkan proses dalam importasi barang,” ujarnya.

Pada kenyataannya, pengusaha menilai syarat itu membuat industri kertas daur ulang Indonesia menjadi tidak kompetitif. Ini karena kertas campuran (mix paper) yang harganya sangat ekonomis justru tidak diperbolehkan masuk. Padahal di negara-negara pesaing Indonesia, seperti Vietnam dan Thailand, mix paper justru diperbolehkan.

“Kita pelajari memang perbedaan harganya sangat mencolok. Harga mix paper hanya setengah dari harga bahan baku yang diperbolehkan untuk diimpor. Ini yang membuat harga kita makin tidak kompetitif di pasar internasional. Jika ini dibiarkan, kemungkinan pangsa pasar ekspor kertas Kemasan dari Indonesia kalah dengan Vietnam dan Thailand. Bisa jadi bahkan untuk pasar dalam negeri kita juga akan kalah dengan mereka,” katanya.

Untuk menyelesaikan itu, Wamendag Jerry Sambuaga mengatakan, perlu ada komunikasi intensif lintas kementerian dan lembaga, khususnya antara Kemperin, Kemdag, KemenLHK, Kemkeu, dan surveyor impor. Sebenarnya saat ini sudah ada Surat Keputusan Bersama 3 Menteri (SKB) mengenai hal ini. Tetapi SKB itu belum diturunkan dalam petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis sehingga belum ada standar yang menjadi pegangan oleh pelaksana di lapangan. Untuk itu, Wamendag memastikan untuk menjembatani kepentingan masing-masing pihak agar bisa diakomodasi.

Kedua, ketentuan Bukti Eksportir Terdaftar (BET) yang mulai berlaku 1 Oktober 2020. BET adalah aturan yang menyatakan bahwa eksportir bahan baku kertas harus terdaftar dan diverifikasi oleh perwakilan Indonesia di luar negeri, dalam hal ini Kedutaan Besar RI. Ketentuan ini, menurut Wamendag, diperlukan sebagai antisipasi masalah jika ternyata ada ketidaksesuaian dalam proses impor.

Tetapi, ketentuan ini juga berdampak pada kepastian mengenai pasokan bahan baku, khususnya, dalam jangka pendek. Untuk itu, Wamendag juga berjanji untuk mengkomunikasikannya dengan berbagai pihak.

“Kita memahami bahwa memang masih ada kendala di lapangan untuk implementasi ketentuan BET ini. Ini yang harus diselesaikan sehingga efek samping ketentuan ini dalam jangka pendek bisa kita minimalisasi. Intinya kita memahami kesulitan yang dialami para pengusaha, tetapi pada saat yang sama kita juga harus memahami maksud dari pemberlakuan ketentuan ini,” jelas Jerry.




BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ditutup Naik 97 Poin, Rupiah Kedua Terbaik Asia

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.729- Rp 14.767 per dolar AS.

EKONOMI | 18 September 2020

Kemkop dan UKM Perjuangkan LPS Koperasi Masuk RUU Cipta Kerja

Kemkop dan UKM sedang perjuangkan masuknya LPS Koperasi pada RUU Cipta Kerja.

EKONOMI | 18 September 2020

IHSG Ditutup Naik 20 Poin ke 5.059

IHSG sempat mencapai rekor tertinggi di 5.071 dan terendah 5.023.

EKONOMI | 18 September 2020

Kemperin Fokus Genjot Kinerja Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil

Kemperin terus memacu kinerja industri kimia, farmasi dan tekstil.

EKONOMI | 18 September 2020

Bursa Eropa Dibuka Menguat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

DAX Jerman dibuka naik 20 poin mencapai 13.228.

EKONOMI | 18 September 2020

Bersinergi dengan Shipper, Dana Luncurkan Layanan Logistik

Untuk memudahkan masyarakat dan juga pelaku UMKM melakukan pengiriman barang, dompet digital Dana meluncurkan layanan Dana Delivery.

EKONOMI | 18 September 2020

Pertamina Trans Kontinental Raih Penghargaan di BUMN Marketeers Awards 2020

PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), anak usaha PT Pertamina (Persero) yang menjalankan kegiatan bisnis berupa penyediaan jasa pelayaran sektor energi.

EKONOMI | 18 September 2020

Mendag : Konsep Waralaba Bisa Kurangi Risiko Gagal

Agus Suparmanto menilai sistem pemasaran waralaba atau franchise sudah menjadi pilihan usaha yang populer di Indonesia.

EKONOMI | 18 September 2020

Bangun LRT Jabodebek, KAI Teken Perjanjian Pinjaman Tambahan Rp 4,2 Triliun

PT KAI teken penandatanganan perjanjian perubahan atas perjanjian kredit sindikasi termasuk tambahan pembiayaan depo dan stasiun LRT Jabodetabek.

EKONOMI | 18 September 2020

Aturan Keselamatan Pesepeda, Kemhub Wajibkan Sepeda Sesuai SNI

Sepeda yang beroperasi di jalan harus memenuhi persyaratan keselamatan, antara lain dilengkapi spakbor, bel, sistem rem, lampu.

EKONOMI | 18 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS