Kebangkitan Inggris di Kancah Eropa

Kebangkitan Inggris di Kancah Eropa
Gelandang Liverpool Georginio Wijnaldum merayakan gol ke gawang Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions. ( Foto: AFP )
Alexander Madji / AMA Kamis, 9 Mei 2019 | 13:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Trofi Liga Champions musim 2018-2019 sudah pasti terbang ke Inggris, setelah terjadi final sesama tim Inggris. Liverpool akan menantang Tottenham Hotspur pada partai final yang berlangsung 1 Juni di Wanda Metropolitano Stadium, Madrid. Lima tahun terakhir, trofi itu "menetap" di Spanyol.

Bukan hanya di ajang Liga Champions, Inggris juga berjaya di kompetisi kelas dua, Liga Europa, musim ini. Dua tim negeri Ratu Elisabet itu, Arsenal dan Chelsea sama-sama lolos ke semifinal. Arsenal sudah menang 3-1 atas Valencia pada leg pertama, sedangkan Chelsea bermain imbang 1-1 melawan Frankfurt.

Kemungkinan besar, final Liga Europa di Baku nanti, juga akan terjadi antara sesama tim Inggris yaitu Arsenal vs Chelsea. Sebab pada leg kedua, Jumat (10/5/2019) dini hari WIB nanti, Arsenal hanya butuh hasil imbang dengan skor berapa pun di Stadion Mestalla, sedangkan Chelsea minimal imbang 0-0 pada laga di Stamford Bridge.

Dengan dominannya tim-tim Inggris di Eropa musim ini, maka Inggris memutus penguasaan tim-tim Spanyol di kompetisi Eropa, terutama di ajang Liga Champions, pada lima tahun terakhir. Tak pelak, media Spanyol seperti Marca.com menilai, kesuksesan final sesama tim Inggris di Liga Champions dan Liga Europa musim ini memperlihatkan bahwa Liga Primer Inggris mulai bangkit lagi setelah dikangkangi La Liga Spanyol.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, Liga Primer disebut-sebut sebagai liga terbaik dan paling kompetitif di dunia. Namun, klaim itu tidak terbukti dengan prestasi di pentas Eropa. Liga yang bermutu juga tidak tercermin dalam capaian Tim Nasional Inggris di turnamen-turnamen bergengsi seperti Piala Eropa dan Piala Dunia. Capaian terbaik Inggris adalah semifinal Piala Dunia 2018 di Rusia. Beda dengan Spanyol yang sukses menjuarai Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2008 dan 2012.

Karena itu, klaim tersebut murni hanya karena berdasarkan pendapatan klub-klub Inggris dari hak siar televisi terus meningkat dari tahun ke tahun. Pendapatan besar itu diikuti pula oleh kemampuan mereka membeli pemain-pemain hebat dan membayar dengan gaji besar. Hal seperti ini tidak didapat oleh klub-klub Liga Spanyol, kecuali Real Madrid dan Barcelona.

Padahal kalau diukur dari prestasi di pentas Eropa, Spanyol-lah rajanya Eropa. Itulah sebabnya, banyak yang menilai bahwa La Liga Spanyol yang terbaik di dunia. Bukan Liga Primer Inggris.

Coba bayangkan, tim asal Inggris terakhir yang menjuarai Liga Champions adalah Chelsea pada musim 2011/2012 setelah menang adu tendangan penalti atas Bayern Muenchen di Fuzball Arena Muenchen, Munich. Dan, final sesama tim Inggris di ajang Liga Champions terakhir kali terjadi pada 2008. Saat itu, Manchester United melawan Chelsea yang dimenangi Setan Merah lewat adu tendangan penalti.

Sementara sejak musim 2013-2014 atau lima tahun terakhir, Spanyol menjadi penguasa Liga Champions dan Liga Europa. Pada musim 2013-2014, terjadi final sesama Spanyol antara Real Madrid versus Atletico Madrid yang dimenangi Madrid. Musim berikutnya, giliran Barcelona yang menjadi juara setelah mengalahkan Juventus di final.

Musim 2015-2016, lagi-lagi terjadi final sesama tim Spanyol Real Madrid vs Atletico yang lagi-lagi dijuarai Madrid. Tiga tahun belakangan ini, Madrid selalu menjadi juara. Tahun lalu, Los Blancos meyingkirkan Liverpool di final dengan skor 3-1 di Stadion NSK Olimpiyskyi, Kiev.

Dominasi Spanyol itu akhirnya berhasil diputus oleh Inggris pada musim 2018-2019. Liverpool lagi-lagi kembali ke final setelah melakukan come back luar biasa dengan membantai Barcelona 4-0 pada leg kedua di Anfield. Padahal mereka sudah dibantai 3-0 oleh Barcelona di Camp Nou pekan lalu.

Come back serupa dilakukan Tottenham Hotspur yang mencuri tiket final dari tangan Ajax Amsterdam. Tottenham tertinggal 0-1 pada leg pertama di London Utara minggu lalu dan tertinggal 0-2 pada 45 menit pertama leg kedua, Kamis (9/5/2019) dini hari WIB di Johan Cruyff ArenA, Amsterdam. Namun, mereka bisa mencetak tiga gol pada 45 menit kedua lewat hattrick Lucas Moura untuk menyamakan agregat menjadi 3-3 dan unggul gol tandang.

Maka, laga final di Madrid nanti adalah pertandingan para "survivor", dua tim yang sama-sama lolos ke final dari lubang jarum, tetapi pada saat bersamaan memiliki mental pantang menyerah sebelum wasit meniup peluit panjang.

Masih menurut Marca.com, dengan terjadinya final sesama tim Inggris di Liga Champions musim ini dan (kemungkinan besar) Liga Europa, maka ini menjadi tanda-tanda kebangkitan Liga Primer Inggris sebagai penguasai Eropa. "Liga Primer Inggris sudah bangkit lagi," tulis Marca.com.

Hanya saja, tim-tim Inggris harus bisa membuktikan kebangkitan itu dengan secara konsistensi memenangi Liga Champions pada tahun-tahun mendatang, seperti yang bisa dilakukan oleh Spanyol pada lima tahun belakangan ini.



Sumber: Suara Pembaruan