IMF: Sanksi AS Bawa Iran Menuju Resesi

IMF: Sanksi AS Bawa Iran Menuju Resesi
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde memberikan keterangan pers terkait Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Kawasan Nusa Dua, Bali, 11 Oktober 2018. ( Foto: AFP/Reuters / Johannes P. Christo )
Jeanny Aipassa / WIR Kamis, 11 Oktober 2018 | 16:34 WIB

Bali- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menyatakan sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) membawa Iran menuju resesi. Pertumbuhan ekono, Iran diperkirakan akan turun sebesar 1,5% pada 2018, dan menyusut sebesar 3,5% pada 2019 jika sanksi terus berlanjut.

Sebelumnya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Iran akan mencapai 4% pada 2018 dan 2019. Namun dengan keluarnya AS dari kesepakatan nuklir Iran dan sanksi terbaru yang dijatuhkan Presiden AS, Donald Trump, IMF memperkirakan penurunan signifikan pada pertumbuhan ekonomi Iran.

Dalam laporan Perkiraan Ekonomi Dunia, IMF menyebut resesi ekonomi Iran dipicu berkurangnya produksi dan penjualan minyak, seiring seruan AS kepada negara-negara sekutu untuk membawa penjualan minyak Iran ke “titik nol”.

Pada Mei 2018, Trump memutuskan AS keluar dari rencana Aksi Bersama Komprehensif 2015 yang dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran. Kemudian pada Agustus 2018, AS mengeluarkan sanksi pertama terhadap Iran dan juga mengancam semua pihak yang memiliki kerja sama bisnis dengan AS tapi tetap melakukan transaksi bisnis dengan Iran.

Selanjutnya, AS akan menargetkan sektor minyak Iran, dengan melarang semua pihak baik pemerintah maupun swasta yang berbisnis dengan AS untuk membeli minyak dari Iran. Sanksi tersebut, akan diberlakukan mulai November 2018.

Sanksi yang dijatuhkan AS pada Agustus 2018, telah membuat banyak perusahaan mencabut investasi di Iran. Negara-negara dan pihak swasta yang membeli minyak mentah dari Iran juga mulai mengurangi impor.

Hal itu, menyebabkan ekspor minyak mentah Iran turun lebih dari 500.000 barel per hari. Sejak 2016 ketika sanksi terhadap Iran dicabut seiring tercapainya kesepakatan nuklir Iran, produksi minyak mentah Iran mencapai 2,5 juta barel per hari.

“Pada bulan november, produksi minyak mentah Iraan akan merosot lebih jauh, seiring dengan sanksi yang diperluas AS,” bunyi laporan IMF, seperti dikutip CNBC, Rabu (10/10).



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE