Turki Minta Konsulat Saudi Digeledah Lagi

Turki Minta Konsulat Saudi Digeledah Lagi
Seorang polisi Turki berdiri di depan Konsulat Arab Saudi di Istanbul, 8 Oktober 2018. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 9 Oktober 2018 | 03:43 WIB

Otoritas Turki untuk kedua kalinya meminta akses kepada Konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk melakukan penggeledahan, Senin (8/10) waktu setempat, sepekan setelah hilangnya jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Khashoggi hilang setelah berkunjung ke konsulat tersebut, dan teman-temannya curiga dia telah dibunuh di dalam gedung.

Para pejabat Turki mengklaim bahwa kontributor Washington Post itu dibunuh di dalam konsulat dan jasadnya kemudian dipindahkan. Namun, Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak mengonfirmasi dugaan pembunuhan itu dan mengatakan dia akan menunggu selesainya penyelidikan.

Arab Saudi berkeras bahwa Khashoggi telah meninggalkan konsulatnya di Istanbul dan menghilang entah ke mana setelah kunjungan singkat di sana.

Seorang pejabat Saudi dikutip CBS News membantah keterlibatan kerajaan dalam kasus hilangnya Khashoggi dan mengatakan keberadaan pria itu "adalah masalah penting buat kami."

"Kami secara tegas menolak setiap tuduhan adanya keterlibatan dalam hilangnya orang ini. Dia tidak ditahan dan tidak disakiti oleh pemerintah Saudi. Kerajaan sudah mengirim tim investigasi ke sana untuk bekerja sama dengan otoritas Turki. Saat ini, kami menyampaikan simpati kepada keluarga Jamal," bunyi pernyataan pejabat itu.

Namun, kedua belah pihak tidak mengajukan bukti apa pun atas argumen masing-masing, meskipun gedung konsulat itu dipenuhi kamera keamanan.

Duta besar Saudi untuk Turki dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri Turki untuk meminta kerja sama Arab Saudi dalam investigasi kasus hilangnya Khashoggi. Wakil Menteri Luar Negeri Turki Sedat Onal bertemu dengan duta besar Saudi akhir pekan kemarin.

"Sudah disampaikan kepada dia (duta besar Saudi) bahwa kami mengharap kerja sama penuh dalam proses investigasi," bunyi pernyataan Kemlu Turki.

Pada Senin, sejumlah orang menggelar demonstrasi di luar gedung konsulat Saudi menuntut jawabab atas kasus ini.

Siapakah Jamal Khashoggi?
Khashoggi sebelumnya masuk lingkar dalam Saudi. Dia sekutu dekat mantan kepala intelijen kerajaan dan menjadi orang penting di sejumlah suratkabar besar Saudi, termasuk koran-koran berbahasa Inggris.

Pria lulusan Indiana State University, Amerika Serikat itu banyak menghabiskan karirnya di media.

Karir jurnalistik dimulai pada 1980an dengan meliput pendudukan Uni Soviet di Afghanistan dan perang selama satu dekade, untuk harian Bahasa Inggris Saudi Gazette. Dia kerap bertugas di Timur Tengah, meliput perang Aljazair melawan kelompok militan pada 1990an.

Dia mewawancarai Osama bin Laden di Afghanistan sebelum al-Qaida didirikan dan kemudian bertemu dia lagi di Sudan pada 1995. Seiring meningkatnya pengaruh bin Laden, Khashoggi mulai bersahabat erat dengan mantan pemimpin intelijen Saudi, Turki Al-Faisal.

Kashoggi pernah menjadi editor harian al-Madina selama sembilan tahun dan sering dikutip oleh media-media barat sebagai pakar radikalisme dan tokoh reformis di Timur Tengah.

Namun, dia juga pernah dipecat dari posisi editor di suratkabar Al-Watan hanya dua bulan setelah bergabung pada 2003.

Khashoggi lalu bekerja sebagai penasihat media untuk Al-Faisal, mantan kepala intelijen yang ketika itu menjabat dubes untuk Amerika.

Khashoggi kembali ke Al-Watan pada 2007, tetapi tiga tahun kemudian dia dipaksa mundur setelah muncul sejumlah artikel yang mengkritik faham Salafi.

Pada 2010, triliuner Saudi Alwaleed bin Talal menunjuk Khashoggi untuk memimpin stasiun televisi Al-Arab yang didirikannya dan diharapkan mampu menjadi saingan Al-Jazeera, media asal Qatar yang kerap mengkritik pemerintah Saudi.

Namun, TV Al-Arab yang berbasis di Bahrain ditutup hanya beberapa jam setelah diluncurkan, karena mengundang seorang tokoh oposisi Bahrain.

Khashoggi mulai menjauh dari kekuasaan Saudi tatkala merebaknya gerakan Arab Spring di kawasan itu. Dia berpihak pada oposisi di Mesir dan Suriah, dan menjadi pengkritik yang sangat vokal terhadap pemerintahnya sendiri.

Beberapa hari sebelum dinyatakan hilang, Khashoggi mengatakan ke sebuah stasiun televisi: "Ini merupakan periode kritis dalam sejarah Arab. Saya harus mengambil posisi. Dunia Arab telah menunggu momen kebebasan ini selama seribu tahun."

Dia juga mengkritik Saudi karena memutus hubungan dengan Qatar, kebijakan Saudi atas Iran, dan perang di Yaman.

 



Sumber: CBS News
CLOSE