Integrasi PGN-Pertagas

Investor Daily Rabu, 4 Juli 2018 | 09:31 WIB

Rangkaian pembentukan holding BUMN migas yang dimulai 11 April 2018 lalu, kini menorehkan sejarah baru dengan penandatanganan perjanjian jual beli saham versyarat (conditional sales purchase agreement/CSPA) antara PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Pertamina (Persero). Dengan penandatanganan CSPA ini, proses pembentukan holding BUMN migas relatif telah selesai.

Dalam perjanjian itu, PGN mengakuisisi Pertagas dengan total nilai Rp 16,6 triliun atau setara 51 persen saham Pertagas. Yang diakuisisi PGN hanya murni Pertagas, tidak termasuk afiliasinya seperti PT Perta Arun Gas, PT Perta Daya Gas, PT Perta Samtan Gas, dan PT Perta Kalimantan Gas.

Dengan demikian, PGN yang menjadi anggota holding di bawah PT Pertamina (Persero) akan diintegrasikan dengan PT Pertagas, anak usaha Pertamina di sektor hulu. Holding BUMN migas disahkan melalui penandatanganan perjanjian pengalihan hak atas saham negara Republik Indonesia pada PGN dalam rangka penyertaan modal pemerintah ke Pertamina.

Ada nilai strategis dari akuisisi ini, juga harapan besar ke depan dari rangkaian pembentukan holding migas.

Pertama, langkah ini diharapkan dapat menciptakan efisiensi dalam mata rantai bisnis gas bumi, mulai dari kepastian sumber gas hingga distribusi. Sebab, baik PGN maupun Pertagas sama-sama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang transmisi dan distribusi gas bumi.

Kedua, integrasi PGN dan Pertagas diharapkan mampu mewujudkan harga gas yang kompetitif sehingga mendorong pertumbuhan pasar yang berkelanjutan. Selain itu, integrasi semestinya mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap energi gas, karena distribusi gas yang meluas dan merata. Ujung-ujungnya, harga gas untuk konsumen bakal lebih terjangkau.

Selama ini, ada puluhan industri manufaktur yang bangkrut dan tutup karena tak kuasa menanggung mahalnya harga gas, antara lain industri keramik, kaca, sarung tangan karet, dan sejumlah industri petrokimia. Pelaku industri meminta pemerintah menurunkan harga gas industri dari rata-rata US$ 8-9 per mmbtu menjadi US$ 6 per mmbtu.

Tingginya harga gas bakal menggerus daya saing industri nasional. Akibatnya, industri lokal kalah bersaing saat bertarung dengan barang impor di pasar domestik. Dampaknya, struktur industri nasional bakal makin keropos dan laju impor makin tinggi, sehingga mengancam defisit transaksi berjalan.

Ketiga, integrasi bisnis migas diharapkan pula mampu meningkatan kapasitas dan volume pengelolaan gas bumi nasional dan meningkatkan kinerja keuangan. Kita yakin kinerja PGN bakal melejit pasca-akuisisi terhadap Pertagas ini.

Dampak strategis keempat adalah meningkatkan peran holding BUMN migas dalam memperkuat infrastruktur migas di Indonesia, serta menghemat biaya investasi dengan tidak terjadinya lagi duplikasi pembangunan infrastruktur antara PGN dan Pertagas. Kompetisi sesama perusahaan negara itu tidak akan ada lagi.

Sebelum integrasi ini, PGN dan Pertagas merupakan dua perusahaan yang saling bersaing dalam menyalurkan gas ke konsumen. PGN mampu menyalurkan gas hingga 300.000 pelanggan, sedangkan Pertagas hanya menyalurkan gas ke ratusan pelanggan.

Kelima, integrasi diharapkan dapat membuat perusahaan lebih fokus dalam membangun jaringan gas ke rumah tangga dalam upaya mendongkrak penggunaan gas. Saat ini, rasio penggunaan gas untuk rumah tangga secara nasional baru sebesar 5 persen. Hal itu jauh di bawah rasio elektrifikasi yang sudah mencapai 99 persen. Itu sebabnya, mendongkrak rasio penggunaan gas untuk rumah tangga menjadi pekerjaan rumah besar.

Aspek keenam, holding BUMN migas diharapkan dapat menciptakan kedaulatan dan ketahanan energi yang pastinya membawa manfaat untuk masyarakat dan negara. Integrasi bisnis gas bakal mendorong perekonomian dan ketahanan energi nasional, melalui pengelolaan infrastruktur gas yang terhubung dari Indonesia barat (Arun) hingga Indonesia timur (Papua).

Sementara itu, dengan pembentukan holding, pemerintah perlu memikirkan nasib karyawan. Jangan sampai ada karyawan diberhentikan. Sering dalam integrasi dan penggabungan perusahaan, terjadi gesekan antarkaryawan karena budaya perusahaan yang berbeda. Masalah ini harus diantisipasi oleh manajemen, termasuk apabila ada demo karyawan yang menolak integrasi.

Pada akhirnya, pembentukan holding migas diharapkan mampu mengoptimalkan pengelolaan kekayaan alam, khususnya di sektor migas. Dengan demikian, cita-cita agar sumber daya alam dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat serta bermanfaat bagi perekonomian nasional dapat terwujud.

CLOSE