Perbankan dalam Kondisi Sehat

Investor Daily Senin, 2 Juli 2018 | 09:31 WIB

Di tengah gejolak global dan ekonomi domestik yang slow down, perbankan nasional masih dalam kondisi sehat dan bugar. Kredit bertumbuh, dana pihak ketiga (DPK) bertumbuh, laba meningkat, dan berbagai indikator kesehatan perbankan cukup bagus. Setelah selama empat tahun konsolidasi, tahun depan perbankan akan mulai ekspansi dengan laju pertumbuhan kredit di atas 10 persen.

Kondisi perbankan saat ini jauh lebih bagus dibanding tahun 2008, apalagi saat krisis ekonomi melanda negeri ini, 1997-1998. Dari berbagai indikator, perbankan saat ini dalam kondisi setara bugar. Dibanding negara-negara di Asia, bahkan dengara lain di dunia, perbankan nasional paling sehat. Kalaupun ada masalah, itu soal individual.

Krisis ekonomi 1998 dan krisis kedua 2008 membuat kondisi perbankan nasional semakin sehat. Ketika ekonomi slow down, daya serap kredit menurun, perbankan tidak memaksakan diri untuk meningkatkan ekspansi kredit. Meski suku bunga selama empat tahun terakhir mengalami penurunan, kredit perbankan tidak didongkrak paksa.

Dengan mengelola aktiva produktif dengan cerdas dan hati-hati, perbankan terhindar dari pembengkakan non-performing loan (NPL) atau kredit bermasalah. Pada Maret 2018, NPL gross ada di level 2,75 persen atau sedikit lebih tinggi dibanding akhir 2017 sebesar 2,60 persen. NPL gross perbankan pernah di level 1,77 persen tahun 2013, tetapi pada tahun-tahun berikutnya membengkak perlahan hingga mencapai 2,93 persen akhir 2016.

Posisi kredit perbankan nasional per Maret 2018 sebesar Rp 4.743 triliun, sedang DPK sebesar Rp 5.293 triliun, dan loan to deposit ratio (LDR) 90,19 persen. Setelah bertumbuh di atas 20 persen selama 2011-2013, laju ekspansi kredit mulai melambat sejak 2014. Pada tahun pilpres itu, kredit perbankan hanya bertumbuh 11,58 persen dan pada tahun 2015 sebesar 10,44 persen. Mulai 2016, laju ekspansi kredit hanya meningkat satu digit. Pada 2016, kredit hanya bertumbuh 7,87 persen dan tahun 2017 sebesar 8,24 persen. Pada kuartal pertama 2018, kredit hanya baik tipis 8,54 persen.

Dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, perbankan nasional rata-rata masih memiliki capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal 22,65 persen per Maret 2018. Meski suku bunga kredit sudah diturunkan ke satu digit, perbankan nasional masih meraup pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang lumayan besar. Sempat turun menjadi sebesar 4,23 persen, NIM perbankan nasional kembali meningkat hingga di atas 5 persen. Pada 2017, perbankan masih membukukan NIM 5,32 persen.

Sempat mengalami penurunan laba bersih tahun 2015, perbankan nasional kembali meraup kenaikan laba tahun-tahun berikutnya. Laba bersih perbankan naik 1,83 persen tahun 2016 dan 23 persen tahun 2017. Dilihat dari likuditas, solvabilitas, dan rentabilitas, perbankan nasional terbilang bagus.

Menjelang semester kedua 2018, ada tanda perlambatan pertumbuhan kredit. Ada dua penyebab utama, yakni ekonomi yang masih slow down dan tren kenaikan suku bunga. Era suku bunga rendah, apa boleh buat, sudah berakhir. Mengikuti kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (FFR), Bank Indonesia akan menaikn suku bunga acuannya. Pekan lalu, di luar dugaan para analis, bank sentral menaikkan BI 7 day repo rate sebesar 50 basis point menjadi 5,25 persen. Bank sentral AS tahun ini sudah menaikkan fed fund rate (FFR) dua kali ke level 1,75 persen-2,00 persen.

Ada indikasi, The Fed menaikkan lagi suku bunga acuan tahun ini dan tahun depan hingga 3 persen. Keputusan ini diambil sebagai konsekuensi dari membaiknya ekonomi AS seperti terlihat pada laju pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, dan penurunan angka pengangguran. Mengikuti langkah The Fed, BI akan menaikkan suku bunga acuan ke level yang dinilai mampu menahan hot money di Indonesia. Sebelum tahun 2010, suku bunga acuan BI pernah mencapai 8,5 persen.

Belajar dari masa lalu, perbankan nasional akan lebih pruden dalam menyalurkan kredit dan mengelola bisnis. Berakhirnya rezim bunga rendah tidak akan berlangsung selamanya. Jika tahun depan kondisi ekonomi global membaik dan dunia usaha mulai meningkatkan investasi, perbankan juga akan ekspansi dengan kondisi yang sehat dan bugar.