Mengurai Kemacetan Jakarta

Suara Pembaruan Sabtu, 30 Juni 2018 | 18:21 WIB

Menjadi penyelenggara pesta olahraga akbar se-Asia, Jakarta harus menjadi tuan rumah yang baik. Pelayanan kepada ratusan ribu olahragawan beserta rombongan dan penonton dari 45 negara harus prima. Kemacetan di Ibu Kota yang selama ini menjadi pemandangan sehari-hari harus segera diatasi agar para peserta dan penonton bisa tiba tepat waktu di lokasi pertandingan.

Berbagai langkah yang akan dilakukan pemerintah dan aparat keamanan untuk mengatasi persoalan ini harus mendapat dukungan dari masyarakat. Namun, solusi untuk mengatasi masalah kemacetan itu hendaknya tidak bersifat sementara dan sekadar tambal sulam. Perlu ada solusi permanen agar Jakarta tidak lagi macet.

Asian Games 2018 yang akan digelar Agustus mendatang, sekitar dua bulan lagi, Jakarta masih menghadapi persoalan pelik, yakni kemacetan akut. Untuk mengatasi itu, salah satu upaya yang diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kepolisian adalah dengan menerapkan kebijakan ganjil-genap bagi kendaraan yang melintas di jalan-jalan yang akan dilalui peserta.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya bersama Dinas Perhubungan DKI Jakarta segera menggelar uji coba perluasan dan perpanjangan waktu sistem ganjil-genap di beberapa lokasi di Ibu Kota Jakarta mulai 2 Juli hingga 31 Juli 2018. Pada sistem ini, hanya nomor kendaraan ganjil yang bisa melewati jalan tertentu kemudian bergantian nomor genap di hari berikutnya secara bergantian. Setelah melakukan berbagai evaluasi dan perbaikan, maka sistem ganjil-genap itu akan diterapkan mulai 1 Agustus 2018.

Lokasi sistem ganjil-genap yang selama ini sudah berjalan sejak 30 Agustus 2016 adalah di Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin dan sebagian Jalan Jenderal Gatot Subroto. Sementara, rencana perluasan lokasi ganjil-genap nanti, antara lain di Jalan Jenderal S Parman, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jalan MT Haryono, Jalan DI Panjaitan, Jalan A Yani, dan Simpang Coca Cola atau Jalan Perintis Kemerdekaan Cempaka Putih. Kemudian, Jalan Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jalan HR Rasuna Said Jakarta Selatan, dan Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Waktu ganjil-genap juga diperpanjang dari Senin sampai Minggu, mulai pukul 06.00 sampai 21.00 WIB. Sebelumnya, waktu penerapan sistem ini hanya pada hari kerja dan dimulai pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB dan pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.

Selain penerapan ganjil-genap, Polri juga sedang menyiapkan sejumlah rekayasa arus lalu lintas. Beberapa ruas jalan juga akan diperlebar. Tujuannya agar waktu tempuh dari wisma atlet ke lokasi pertandingan atau dari satu lokasi pertandingan ke lokasi pertandingan lainnya tidak boleh lebih dari 30 menit. Perjalanan para atlet dan timnya dari bandar ke tempat mereka menginap juga akan diatur agar nyaman dan aman.

Kita tentu mendukung upaya pemerintah dan jajaran aparat keamanan untuk memperlancar arus lalu lintas selama perhelatan Asian Games XVIII ini. Langkah-langkah yang akan dilakukan itu tentu dalam rangka menjaga citra Jakarta sebagai Ibu Kota negara, dan tentunya nama baik Indonesia, sebagai tuan rumah. Kita tidak ingin nama bangsa, negara, dan rakyat Indonesia buruk di mata dunia, khususnya para peserta Asian Games hanya gara-gara kemacetan. Masyarakat Jakarta tentu mendukung perluasan sistem ganjil-genap, tetapi diharapkan tidak bersifat permanen.

Pesta akbar olahraga ini seharusnya juga dijadikan momentum untuk memperbaiki sistem transportasi dan manajemen lalu lintas di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Pemerintah harus fokus pada pengembangan sistem transportasi massal yang cepat, aman, dan nyaman.

Kita tentu mengapresiasi pembangunan mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), jalur kereta bandara, serta pembangunan sejumlah jalan tol di Ibu Kota dan sekitarnya. Kita berharap agar pengembangan sistem transportasi massal itu tidak terhenti di tengah jalan, bahkan berlanjut ke lokasi-lokasi lain yang telah direncanakan. Penambahan ruas jalan dan armada bus Transjakarta juga perlu menjadi pertimbangan.

Program lain yang perlu dijalankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah sistem electronic road pricing (ERP) atau jalan berbayar. Dibandingkan sistem ganjil-genap dan 3 in 1, sistem ERP lebih efektif. Saat diterapkan, sistem 3 in 1 masih bisa diakali pengguna kendaraan yang nakal dengan menyewa joki.

Demikian pula sistem ganjil-genap, bisa diakali pengendara motor dengan membuat nomor kendaraan ganda yang bisa dilepas-pasang atau bagi orang-orang berduit bisa membeli kendaraan baru. Sementara, sistem ERP akan lebih sulit untuk diakali. Kendaraan yang lewat ruas jalan tertentu harus membayar untuk bisa melintas.

Dengan pembenahan sistem manajemen transportasi itu, maka Indonesia, khususnya kota-kota besar, selalu siap untuk menyelenggarakan acara-acara besar bersifat internasional. Kebijakan untuk mengatasi kemacetan tidak bersifat sementara atau sekadar tambal-sulam. Mimpi untuk menyelenggarakan balap mobil Formula 1, MotoGP, hingga Piala Dunia Sepakbola, pun akan menjadi sebuah keniscayaan. 

CLOSE