Menpar: Pariwisata Bali Tetap Kondusif

Menpar: Pariwisata Bali Tetap Kondusif
Muntahan material vulkanik erupsi Gunung Agung terlihat dari Desa Tulamben, Karangasem, Bali, 3 Juli 2018. ( Foto: AFP / Sonny Tumbelaka )
/ FER Selasa, 3 Juli 2018 | 17:29 WIB

Jakarta - Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya, memastikan pariwisata Bali tetap kondusif dan aman untuk dikunjungi di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Agung dalam beberapa hari terakhir.

"Silakan ke Bali. Suasana Bali ok, teman-teman netizen juga silakan mengunggah suasana terkini di Bali. Silakan capture di Kuta, Nusa Dua, Seminyak, Sanur, Ubud, Uluwatu, Nusa Penida, Tanah Lot, dan spot destinasi lain yang tetap ramai dan asyik," kata Arief Yahya dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (3/7).

Aktivitas Gunung Agung Bali memang meningkat dalam beberapa hari terakhir tercatat pada 3 Juli 2018 pukul 09.28 WITA, tinggi kolom abu teramati 2.000 m di atas puncak (5.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi 3 menit 38 detik dan status Gunung Agung masih di Level III (Siaga).

"Saya memperoleh laporan dari tim Crisis Center, Bali Tourism Hospitality, dan sampai sekarang suasananya kondusif," ungkap Arief Yahya.

Suasana seperti ini, kata Arief Yahya, sebagai yang biasa dan pernah terjadi saat erupsi pertama pada 27 September 2017 juga sempat heboh, tetapi suasana di Bali sendiri kondusif dan tetap nyaman.

"Situasi on-off seperti ini memang kadang menyulitkan. Tetapi ya beginilah nature dan culture Gunung Agung, seperti Bali ini. Tidak ada yang bisa memprediksi dengan tepat dan pasti, kapan akan terjadi erupsi," ungkapnya.

Menurut Arief Yahya, hal yang bisa dilakukan adalah melalukan antisipasi yang memang sudah disiapkan industri dan pemerintah. Pihaknya tetap meminta masyarakat mematuhi rekomendasi yang sudah diumumkan.

"Lokasi atau kawasan berbahaya itu lokasinya jauh dari destinasi-destinasi di Bali. Jauh dari Kuta, Sanur, Nusa Dua, Nusa Penida, Tanah Lot, Uluwatu, dan sebagainya," katanya.

Menurut Arief Yahya, sebenarnya pihak yang paling terganggu adalah penerbangan, karena sebaran debu vulkanik itu naik ke udara dan berpotensi mengganggu penerbangan pesawat. "Kalau di darat maupun di laut, tidak banyak terpengaruh. Karena itu suasananya kondusif," ungkap Arief Yahya.



Sumber: ANTARA