Kubu Prabowo Dinilai Terapkan Politik Dumbing Down

Kubu Prabowo Dinilai Terapkan Politik Dumbing Down
Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menghadiri Pengundian dan Penetapan Nomor Urut Capres dan Cawapres Pemilu 2019 di Kantor KPU, Jakarta, Jumat 21 September 2018. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )
Robertus Wardi / HA Jumat, 12 Oktober 2018 | 16:07 WIB

Jakarta - Calon Presiden Prabowo Subianto dan kelompok lingkar dalamnya dinilai menerapkan gaya komunikasi politik dumbing down, yaitu menyederhanakan masalah-masalah yang sulit ke dalam bahasa yang mudah dimengerti dan lebih populer di masyarakat, meskipun terkadang justru menjadi rancu dan tidak akurat.

Penilaian itu disampaikan oleh Dosen Komunikasi Politik Universitas Bunda Mulia Silvianus Alvin, Jumat (12/10).

Untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang menurut kubu Prabowo sangat buruk, digunakan penggambaran dramatis dan bombastis agar cepat tersebar.

"Misalnya dengan menyamakan tempe setipis kartu ATM atau tempe sebesar ponsel pintar," kata Alvin.

"Kemudian, ada pula penggunaan istilah emak-emak, bagaimana mereka mau mendorong the power of emak-emak. Kan kalau istilah akademis itu sulit kena ke publik, seperti istilah gender equity, atau feminism in politics."

Alvin menjelaskan istilah-istilah sulit tentu tidak menarik bagi warga, karena mereka menginginkan pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan cara mereka bicara.

Jalan keluarnya adalah politik dumbing down, untuk menarik perhatian masyarakat supaya mereka tahu apa yang ditekankan oleh pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Hal ini juga dilakukan supaya bisa mengimbangi gaya blusukan kubu rival Joko Widodo (Jokowi), ulas Alvin.

Dia menambahkan politik dumbing down ini juga erat kaitannya dengan perkembangan media sosial yang menjangkau hampir setengah populasi Indonesia. Pengguna media sosial diperkirakan mencapai 124,5 juta akun entah itu Facebook, Instagram, maupun Twitter, ujarnya.

Gaya penyampaian di media arus utama tentu menggunakan bahasa yang baku, sementara komunikasi di media sosial bisa lebih fleksibel.

"Ini yang disasar Prbaowo-Sandi, apalagi masyarakat menengah ke bawah itu mendapat update berita politik dari media sosial," ungkap Alvin.

Dia menambahkan permasalahan di sektor ekonomi yang berusaha dibingkai oleh kubu Prabowo-Sandi itu termasuk kampanye negatif. Mereka berusaha menggembosi elektabilitas Jokowi. Prabowo selalu bicara ada masalah ekonomi, gini ratio, dan soal stunting, kata Alvin.

Namun, Alvin mencatat ada kontradiksi dalam komunikasi politik di kubu Prabowo. Misalnya pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo bahwa Prabowo tidak anti asing.

Dalam retorikanya, Prabowo justru kerap memberikan penekanan bahwa Indonesia dikuasai asing di sektor-sektor kunci dan menggunakan bahasa sindiran seolah-olah pemerintah sekarang adalah antek asing. Sebagian politisi lain kadang menggunakan istilah yang lebih kasar yaitu "kacung".

"Indonesia ini tuan rumah di negaranya sendiri tapi tidak berarti kita tidak butuh negara lain. Kita masih butuh investasi dari negara lain. Jangan sampai Indonesia dikenakan sanksi ekonomi seperti Iran," kata Alvin.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE