Hashim: Prabowo Harus Menang

Hashim: Prabowo Harus Menang
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo memberi paparan dalam kunjungannya ke Kantor Redaksi BeritaSatu Media Holdings, Jakarta, 11 Oktober 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Uthan A Rachim )
Hotman Siregar / AO Jumat, 12 Oktober 2018 | 13:15 WIB

Jakarta – Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara kuat. Namun, potensi itu tidak dimanfaatkan dengan baik karena ada kesalahan dalam manajemen kepemimpinan saat ini.

“Agar Indonesia kuat, Prabowo harus menang,” ujar Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo saat bertandang ke Berita Satu Media Holdings di Jakarta, Kamis (11/10).

Hashim pun menyoroti berbagai persoalan bangsa Indonesia yang belum dikelola dengan baik oleh pemerintahan saat ini. Persoalan-persoalan itu adalah gizi buruk yang menyebabkan stunting (tubuh kerdil) pada anak-anak, masalah pendidikan, perekonomian, hingga pertahanan.

Dikatakan, perekonomian Indonesia saat ini terlalu liberal. Dia mencontohkan cadangan devisa Tiongkok sebesar US$ 4 triliun dengan jumlah penduduk 1,4 miliar jiwa. Sementara, jumlah penduduk Indonesia hanya seperlima dari penduduk Tiongkok, tetapi devisa hanya satu per empat puluh.

“Mengapa ada disparitas demikian? Karena, mereka menjaga ketat devisa. Ada kewajiban eksportir-eksportir mereka harus menyimpan hasilnya di dalam negeri. Sementara, sebagian besar hasil ekspor kita disimpan di luar negeri, seperti Singapura, Hong Kong, dan lainnya,” kata Hashim.

Selain itu, kata dia, tax ratio Indonesia rendah. Tax ratio Indonesia hanya 10,4% dari GDP, sementara Thailand 19%. Tax ratio Indonesia salah satu yang terburuk di dunia. Hanya ada yang lebih buruk dari Indonesia, yaitu Pakistan.

Hal itu membuat anggaran Indonesia selalu defisit. Tahun ini, defisit anggaran Rp 341 triliun, padahal kalau tax ratio Indonesia sama seperti Thailand atau India, Indonesia bisa surplus Rp 850 triliun. Dengan surplus itu, pemerintah bisa menggaji polisi, hakim, sehingga mereka tidak korupsi.

Hashim mengatakan, Indonesia memerlukan enam strategi baru untuk mengatasi ancaman dan masalah saat ini hingga beberapa tahun ke depan. Enam strategi itu adalah mandatori penempatan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri, penaikan tax ratio, perbaikan gizi anak-anak, peningkatan sistem pendidikan, penguatan ketahanan energi dan sistem pertahanan, serta larangan penggunaan kantong plastik untuk mengatasi masalah lingkungan.

“Jadi, kita harus berubah. Jika tidak, kita akan mengimpor barang terus, menjadi pasar negara lain. Kita hanya menjadi tukang jahit yang menawarkan upah buruh rendah. Itu artinya, Indonesia hanya dinikmati oleh asing. Ini seperti penjajahan VOC gaya baru,” ujar Hashim.

Salah satu progam penting yang digulirkan Prabowo, kata dia, adalah terkait gizi anak-anak Indonesia. Gizi buruk, ujarnya, masih menjadi persoalan utama bangsa Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Untuk menyelamatkan generasi bangsa itu, maka Indonesia harus serius menanganinya dan dimulai dari sekarang.

Oleh karena itu, ujarnya, Prabowo sangat peduli terhadap persoalan stunting atau kekerdilan sebagai dampak dari gizi buruk itu. Prabowo juga sudah 12 tahun mendalami masalah stunting tersebut. Bahkan, sebelum ada Partai Gerindra, Prabowo sudah berbicara tentang pentingnya asupan susu bagi anak-anak.

“Sejak 12 tahun yang lalu, 30% anak-anak di Indonesia mengalami stunting. Itu pada 2006. Sekarang ini lebih buruk, bisa ke 32% hingga 38% dari jumlah penduduk,” kata Hashim.

Dia lalu menceritakan tentang sebuah film pendek yang pernah dibuat Prabowo tentang masalah stunting itu. “Film tentang anak harimau lapar yang dibuat pada 2008. Anak-anak harimau itu lemah karena kurang gizi. Ini sama dengan anak-anak kita. Mereka kuat, tetapi lemah karena kurang gizi. Ketika lapar, mereka hanya diberi raskin (beras untuk keluarga miskin). Mereka tidak diberi daging, susu, dan protein lainnya,” kata dia.

Hal itu, menurut Hashim akan berdampak pada generasi muda Indonesia ke depan. Pada masa-masa mendatang, anak-anak Indonesia akan sulit bersaing dengan negara lain. “Mereka hanya akan menjadi kuli jika saat ini asupan gizinya buruk. Jadi kuli juga tidak mudah, harus memiliki ketrampilan dasar,” ujarnya.

Hashim juga melihat tipe dan gaya pemerintahan Indonesia saat ini yang single dimentional. Pemerintah, ujarnya, hanya fokus pada satu masalah atau dimensi saja, yakni infrastruktur. Padahal, banyak persoalan lain yang juga memerlukan perhatian pemerintah agar pembangunan bisa berjalan berkesinambungan.

“Pembangunan infrastruktur penting, tetapi itu cukup berada di level menteri. Jadi, pemerintah harus multidimensi, tak hanya infrastruktur. Ada persoalan lain, seperti kesehatan, pendidikan, energi, dan lingkungan hidup. Ini yang dilupakan pemerintah sekarang. Oleh karena itu, Prabowo harus menang untuk bisa mengubah semua itu,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE