Ketum PPP: Publik Tahu Siapa yang Bersama Ulama dan Meninggalkan Ulama

Ketum PPP: Publik Tahu Siapa yang Bersama Ulama dan Meninggalkan Ulama
Romahurmuziy dan Joko Widodo. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / FMB Jumat, 10 Agustus 2018 | 13:59 WIB

Jakarta - Ketua Umum PPP, Romahurmuziy menyatakan calon wakil presiden (cawapres) pilihan calon petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menunjukkan pihak mana yang bersama ulama dan pihak yang meninggalkan ulama. Diketahui, Jokowi memutuskan menggandeng Ketua MUI sekaligus Rais 'Aam PBNU Ma'ruf Amin sementara Prabowo memilih Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno.

"Publik bisa menilai siapa yang bersama dan yang meninggalkan Ulama," kata Romi, sapaan Romahurmuziy di Gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8).

Romi menyatakan, Koalisi Indonesia Kerja yang mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf sangat terbuka jika Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama bergabung mendukung pasangan ini. Romi mengakui, nama Ma'ruf Amin diusulkan pihaknya salah satunya dengan pertimbangan nama tersebut bakal menjadi titik lebur ormas Islam. Selain Rais 'Aam PBNU yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia, Ma'ruf Amin juga Ketua Umum MUI yang menjadi titik temu ormas-ormas Islam.

"(Kalah GNPF bergabung) Alhamdulillah. Ini sejak awal jadi pertimbangan. Ketika saya mengusulkan Ma'ruf 3 Desember 2017. Ma'ruf akan menjadi melting pot. Rais Aam, Ketua MUI yang jadi titik temu ormas Islam. Saya dapat pesan kalau Ma'ruf Amin yang dipilih insha Allah semua bergabung," katanya.

Meski demikian, Romi membantah Koalisi Indonesia Kerja menggunakan isu Islam dengan memilih Ma'ruf Amin untuk mengerek elektabilitas Jokowi. Romi menyatakan, Indonesia dibangun oleh kelompok Nasionalis-Agamis.

"Negara ini dibangun oleh kelompok nasionalis agamis yang selalu terpancar dalam pasangan pimpinan kita," katanya.

Sejumlah survei menempatkan elektabilitas Ma'ruf Amin cukup rendah dibanding nama-nama yang disebut bakal mendampingi Jokowi. Romi menegaskan, hasil survei bukan satu-satunya indikator untuk memilih pendamping Jokowi. Dikatakan, pihaknya juga mendengar aspirasi dan melakukan komunikasi dengan opinion leadership seperti pimpinan partai, relawan dan lainnya untuk membangun strategi memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf.

"Dan yang paling penting menghadirkan kontestasi yang jauh dari ujaran kebencian dan SARA," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE