Ingin Munculkan Capres Alternatif, PAN Tidak Akan Dukung Jokowi

Ingin Munculkan Capres Alternatif, PAN Tidak Akan Dukung Jokowi
Yandri Susanto. ( Foto: Antara )
Deti Mega Purnamasari / YUD Kamis, 12 Juli 2018 | 16:05 WIB

Jakarta - Ketua DPP PAN, Yandri Susanto menyatakan pihaknya ingin menghadirkan calon presiden (capres) alternatif selain Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Hal tersebut semata-mata untuk menghindari hadirnya calon tunggal di Pemilu 2019 mendatang.

"Dari pantauan kami langsung ke akar rumput, termasuk struktur partai, sangat kuat kecenderungannya untuk hadirkan calon alternatif," ujar Yandri dalam diskusi bertajuk "Menakar Cawapres 2019, Paprol Koalisi Pecah Kongsi atau Tetap Solid?" di Gedung DPR, Kamis (12/7).

Ia menjelaskan, sebab tidak ingin calon di Pemilu 2019 nanti menjadi calon tunggal, maka pihaknya pun tidak bisa mendukung ke kubu Jokowi. Pasalnya ia melihat koalisi Jokowi sudah sangat gemuk sehingga dipastikan akan muncul calon tunggal yang membuat negeri ini tidak baik.

Adapun capres alternatif yang diusulkan oleh PAN tersebut ada dua nama, yakni mantan Panglima TNI Jenderal (Pur) Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Nama tersebut, diajukan di luar Jokowi dan Prabowo Subianto serta memiliki peluang yang sama baik sebagai capres maupun cawapres.

"Di luar Prabowo kami gadang-gadang Gatot-Anies dan ini sedang kami komunikasikan dengan partai koalisi, Gerindra, PKS, Demokrat, dan PKB," katanya.

Ia mengatakan, jika partainya maju dengan Gerindra sudah memenuhi presidential threshold 20 persen, bahkan lebih. Namun jika bersama Demokrat, PAN membutuhkan tambahan satu partai lagi dan yang memungkinkan adalah dengan PKS atau PKB.

Namun apabila Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto mengajak Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan maju menjadi calon wakil presiden (cawapres)-nya, PAN menyatakan siap deklarasi mendukung koalisi Gerindra kendati saat ini cenderung berada di perahu kubu tersebut.

"Kalau tiba-tiba Pak Prabowo tidak maju, saya serahkan kepada Anies-Gatot. Itu lebih memudahkan komunikasi dengan Gerindra. Kalau Prabowo firm maju gandeng Zul, kami tidak keberatan," terangnya.

Nama Zulkifli Hasan diajukan PAN juga berdasarkan hasil rapat kerja nasional (rakernas) yang sudah bulat. Kendati dalam perkembangan terakhir, katanya, terdapat kader PAN lain yang intin maju, yakni Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, Sutrisno Bachir, dan Hatta Radjasa.

Namun apabila dalam pembicaraan untuk cawapres Prabowo nanti mengerucut kepada Zulkifli, maka pasangan tersebut disebutkannya layak dijual. Namun apabila Gerindra memutuskan Prabowo tidak maju dan mengambil Gatot, maka, pihaknya juga mendukung Gatot berpasangan dengan Zul.

"Atau skenario lain kalau PKS, PAN dan Gerindra duduk bareng mengatakan tidak semua ketua umum maju, maka akan diambil di luar partai politik, Anies-Gatot atau Gatot-Anies juga layak kita perbincangkan secara intensif," katanya.

Ia mengatakan, sejauh ini komunikasi dengan Gerindra juga sangat sering karena hanya maju dengan partai tersebut saja, PAN sudah mencukupi dan siap untuk deklarasi. Selain itu, partai-partai koalisi yang mengedepankan egonya masing-masing untuk mencalonkan wakil presiden di kubu Jokowi bisa membuat koalisi baru, sebab politik juga bisa berubah.

"Koalisi bukan sekedar siapa capres-cawapres tapi peluang memang harus dihitung. Kalau sekedar maju bisa, tapi bisa menang atau tidak. Disamping capres cawapres, format visi misi dan menteri perlu dibicarakan karena tampilannya koalisi bukan cuma dua orang capres-cawapres, tapi bagaimana tim dibelakangnya," katanya.

Oleh karena itu, situasi politik saat ini semua masih cair. Sebab kuncinya saat ini ada di Prabowo jika ada di Gerindra. Semua itu, katanya, berada di dalam radar PAN dan PAN juga memang menginginkan hadirnya calon lain.



Sumber: Suara Pembaruan