Pilpres 2019

Demokrat Diajak Golkar Gabung ke Koalisi Jokowi

Demokrat Diajak Golkar Gabung ke Koalisi Jokowi
Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan. ( Foto: Partai Demokrat )
Deti Mega Purnamasari / JAS Kamis, 12 Juli 2018 | 12:12 WIB

Jakarta - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan membenarkan adanya ajakan dari Partai Golkar untuk bergabung dengan koalisi mendukung dan mengusung Joko Widodo (Jokowi) setelah pertemuan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dengan Ketua Umun Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Selasa (10/7).

Ia mengatakan, dalam pertemuan yang ikut didampingi olehnya itu dibicarakan soal pemilihan presiden (pilpres) untuk bertukar informasi. Hal tersebut dilakukan karena waktu untuk pendaftaran pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) sudah semakin dekat.

"Panjang sekali diskusinya. Apakah benar ada ajakan (koalisi dan dukungan) kepada Pak Jokowi, itu betul. Jadi dari Partai Demokrat kan sudah disampaikan oleh Pak SBY, kami tidak mempunyai capres. Kami menyiapkan wapres. Nah yang ada itu tinggal Pak Jokowi, Pak Prabowo (Subianto), atau kemungkinan yang bukan Pak Jokowi atau Pak Prabowo. Tentu ajakan itu ada dan yuk mari kita timbang sama-sama," terang Hinca di Gedung DPR, Kamis (12/7).

Baca Juga: Siapa pun Cawapres, Airlangga: Golkar Tetap Dukung Jokowi

Begitupun dengan kubu Prabowo, pihaknya berkomunikasi dengan tiga kemungkinan yang sama. Bersama dengan kubu Prabowo pun pihaknya bersepakat akan ada pertemuan lagi menjelang pendaftaran capres-cawapres tanggal 4 Agustus 2018 mendatang.

Ia menjelaskan, pembicaraan antara Airlangga dan SBY juga tidak membicarakan soal menteri atau penawaran apapun. Namun pembicaraan lebih menitikberatkan bagaimana sebaiknya koalisi itu dibangun sehingga lebih bersifat politik.

"Jadi tetap seperti yang kami sampaikan saat rapat pimpinan nasional (rapimnas) Partai Demokrat, tentu berkoalisi itu harus bersama-sama membicarakan, program kerja juga sama-sama, dan lain-lain," katanya.

Jika pun Demokrat bergabung dalam koalisi, katanya, harus mendiskusikan banyak hal karena untuk kepentingan kerja bersama selama lima tahun ke depan. Dengan demikian harus mempunyai pemikiran yang sama mengingat Demokrat juga memiliki 10 persen suara nasional.

Ia mengatakan, skenario-skenario dari apa yang diumumkan Jokowi atau Prabowo akan menjadi pertimbangan partai-partai lainnya, termasuk Golkar dan Demokrat sendiri. Diskusi kemungkinan Golkar tidak diambil sebagai cawapres Jokowi pun katanya, sangat terbuka dibicarakan untuk melihat perkembangan yang ada.

Namun jika dari hasil komunikasi tidak ada kesepakatan untuk Pilpres 2019 nanti, Demokrat memastikan tidak akan bersikap seperti Pilpres 2014 lalu. Pihaknya akan tetap mengambil keputusan apakah akan ke kubu Jokowi atau Prabowo. Termasuk jika bukan ke kubu keduanya pun pihaknya akan tetap menyusun strategi.



Sumber: Suara Pembaruan