Dedi Mulyadi Sebut Pilgub Jawa Barat Jadi Bahan Evaluasi

Dedi Mulyadi Sebut Pilgub Jawa Barat Jadi Bahan Evaluasi
Ketua DPD I Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberikan keterangan kepada awak media di sela persiapan rapat koordinasi di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Senin siang, 2 uJuli 2018. ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / CAH Senin, 2 Juli 2018 | 12:00 WIB

Jakarta - Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyebutkan hasil evaluasi pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 dapat menjadi evaluasi bagi mesin partai Golkar untuk mempersiapkan hasil optimal di Pemilu Legislatif dan Presiden 2019.

Fenomena berubahnya preferensi pilihan rakyat menjelang seminggu sebelum hari pemilihan di Jawa Barat dan serangan fajar di hari tenang menjadi evaluasi dini bagi Golkar untuk berbenah dan mempersiapkan diri.

"Ini ada fenomena perubahan dalam waktu cepat satu minggu sebelum pemilihan ada perubahan secara masif dan terstruktur. Untuk itu Golkar harus mengambil langkah strategis dan evaluasi, karena Pemilu Presiden dan Legislatif bersamaan tidak boleh salah strategi," ujar Dedi, Senin (2/7) siang di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat.

Dedi yang berpasangan dengan Deddy Mizwar sebagai Paslon Pilgub Jawa Barat 2018 memiliki keuntungan karena pasangannya itu memiliki basis suara pemilih dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun suaranya tergerus karena isu tagar ganti Presiden yang didengungkan PKS saat masa kampanye.

"Pak Deddy Mizwar memiliki latar belakang irisan PKS. Beliau tergerus suaranya di kota Bogor, Kabupaten Bogor Sukabumi, Tasik, Ciamis. Sedangkan basis konstituen saya yang masih tradisional di Purwakarta, Subang, Cirebon dan Garut masih konsisten," tambahnya.

Ia menyebutkan perolehan hasil suara Pilgub Jawa Barat yang menempatkan dirinya dan Deddy di posisi ketiga cukup mengejutkan. Pasalnya secara elektabilitas dirinya dianggap bisa bersaing dengan incumben Ridwan Kamil.

"Ada gerakan luar biasa cepat, masif dan terstruktur (yang dilakukan PKS) mulai dari penyebaran isu (ganti presiden) dan door to door, selebaran, paket ke rumah. Ini sesuatu yang harus dicermati Golkar untuk bersiap menyiapkan langkah dan strategi yang diusung menjelang Pemilu Legislatif dan Presiden.



Sumber: Suara Pembaruan