Demokrasi Indonesia Masih Dibajak Elit Politik

Demokrasi Indonesia Masih Dibajak Elit Politik
Ketua PBNU, KH Masdar Farid Masudy. ( Foto: Antara/Widodo S Jusuf )
Sabtu, 29 Oktober 2011 | 16:41 WIB
"Omong kosong kalau demokrasi tidak dapat mempercepat terwujudnya keadilan."

KH Masdar Farid Mas'udi, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, sesungguhnya dengan adanya sila ke-4 dan ke-5 dalam Pancasila, demokrasi Indonesia sudah sangat Islami. Namun sangat disayangkan, menurutnya saat ini syuro bainahum atau demokrasi itu telah dibajak oleh para elit politik, sehingga kehilangan jati dirinya sebagai metode untuk mewujudkan keadilan.

"Saat ini, demokrasi sedang diagung-agungkan. Namun proses demokrasi ini justru membuat rakyat kecewa," kata Kyai Masdar, kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (29/10).

Lebih jauh, Masdar melihat bahwa demokrasi yang seharusnya yang menjadi metode untuk mewujudkan keadilan, justru hanya dijadikan sebagai tujuan, sedangkan faktor keadilan justru diabaikan. "Misalnya, demokrasi dituangkan dalam prosedur memilih pemimpin, mengoreksi pemimpin dan sebagainya," sesalnya.

Melihat fenomena tersebut, Masdar mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia perlu diuji, apakah (memang) demokrasi mempercepat terwujudnya keadilan. "Omong kosong kalau demokrasi tidak dapat mempercepat terwujudnya keadilan. Demokrasi akan dikutuk oleh dirinya, jika tidak mewujudkan keadilan atau bahkan mengabaikan keadilan. Demokrasi telah kehilangan jati dirinya sebagai metode untuk mewujudkan keadilan," paparnya.

"Oleh sebab itu, demokrasi harus diuji, apakah dia mempercepat keadilan atau tidak. Kalau tidak, berarti telah terjadi pembajakan atau distorsi terhadap demokrasi," imbuh Kyai Masdar pula.