Rumah Belajar JICT Dorong Keterampilan Bisnis Siswa

Rumah Belajar JICT Dorong Keterampilan Bisnis Siswa
PT Jakarta International Container Terminal (JICT) memiliki program Rumah Belajar yang berlokasi di Kecamatan Koja, Cilincing, dan Tanjung Priok, Jakarta Utara (Jakut). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Sabtu, 18 Mei 2019 | 20:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Jakarta International Container Terminal (JICT) memiliki program Rumah Belajar yang berlokasi di Kecamatan Koja, Cilincing dan Tanjung Priok, Jakarta Utara (Jakut). Rumah Belajar JICT konsisten memberikan edukasi dalam rangka memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.

Koordinator program Rumah Belajar dari Yayasan Jala Samudra Mandiri, pengelola yang mendapat amanat JICT untuk menjalankan program Rumah Belajar, Zainal Abidin, menjelaskan, selain program kesetaraan mata pelajaran umum, di tempatnya juga terdapat berbagai program keterampilan praktis yang bertujuan mengajarkan siswa didik untuk mandiri usai menyelesaikan paket penyetaraan.

"Di Rumah Belajar JICT terdapat program keterampilan perakitan dan reparasi komputer, pengolahan gambar dengan program Photoshop, keterampilan menyablon, hingga pelatihan wirausaha yang mendorong siswa untuk menjual produknya kepada masyarakat,” ujar Zainal ujar Arifin di kawasan Koja, Jakarta Utara, Jumat (17/5/2019).

Menurut Zainal, program ini bertujuan agar anak didik yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, bisa menjadi lulusan yang mandiri selain siap untuk meneruskan pendidikan ke tahap selanjutnya. Yayasan Jala Samudra Mandiri kini mengelola 3 Rumah Belajar JICT yang berlokasi di Kecamatan Koja, Cilincing dan Tanjung Priok, seluruhnya di Jakarta Utara, dengan ditenagai oleh 8 tutor di setiap unitnya.

Fasilitas yang tersedia pun lengkap tersedia seperti ruang kelas, meja belajar, papan tulis, alat tulis, plus 10 unit komputer yang bisa dipakai praktik siswa serta berbagai peralatan pelajaran keterampilan maupun buku pelengkap mata pelajaran umum.

"Fasilitas kita bisa lengkap karena seluruhnya dibiayai JICT. Kita sekarang mengelola 3 Rumah Belajar dan 15 kelas jauh. Sejak berdiri di 2007, total sudah 7.000 lebih penerima manfaat Rumah Belajar JICT,” ungkap Zainal.

Salah seorang alumni program penyetaraan Kejar Paket C (SMA) di Rumah Belajar JICT, Arifin Effendi (23 tahun), saat ini telah menjadi pengusaha sablon dan percetakan usai meraih ijasah SMA dari program penyetaraan Kejar Paket C.

"Saya masih ingat, tutor saya ngomong begitu ketika kami sedang belajar keterampilan wirausaha. Saya jadi mantap berbisnis sendiri setelah selesai Paket C,” ujar Arifin.

Melihat banyaknya pesanan produk cetakan yang datang, Arifin mengembangkan lini produknya ke produk percetakan seperti neon box, stiker, brosur, surat undangan dan lain sebagainya. "Saya pikir kalau tidak diambil peluangnya, sayang sekali," ujar anak sulung dari 5 bersaudara ini.

Arifin mengaku awalnya minder belajar di Program Paket C, bukannya di SMA formal seperti teman-temannya yang lain. Namun, suasana belajar yang demikian nyaman, pembawaan tutor-tutor (guru) yang akrab hingga atmosfir kekeluargaan yang kental di Rumah Belajar JICT Koja membuat perasaan negatif itu hilang tanpa bekas.

Ditambah lagi di Rumah Belajar Arifin bisa menyalurkan bakat kreatifnya. Arifin mengaku sejak kecil memang suka membuat aneka kerajinan tangan.

"Saya dari kecil suka bikin-bikin apapun sendiri. Kotak tisu dari bahan flannel, dompet, souvenir, bros, bingkai foto, apapun,” ujar Arifin.

Kreativitasnya pun tersalurkan di Rumah Belajar JICT Koja, lantaran di sana juga mengajarkan program keterampilan, selain program kesetaraan mata pelajaran umum seperti lazimnya yang diajarkan di sekolah formal.

"Sering kali tidur cuma beberapa jam bahkan tidak tidur 2 hari untuk mengejar target penyelesaian sablon. Lalu harus berani jualan ke teman-teman, komunitas siapapun. Juga berani ambil risiko investasi di peralatan dan tempat usaha,” tegas Arifin.



Sumber: BeritaSatu.com