Beautifikasi dan "City Branding" Jakarta

Opini: Shendy Adam

ASN Pemprov DKI Jakarta.

Minggu, 16 September 2018 | 18:40 WIB

Setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games XVIII bersama Palembang, Jakarta mendapat kehormatan menggelar Asian Para Games awal Oktober nanti. Jakarta kembali menjadi sorotan negara-negara Asia, selain tentunya kedatangan tamu ribuan atlet, ofisial serta jurnalis asing.

Kesempatan menjadi tuan rumah event olahraga internasional –meski sebatas kawasan Asia—tidak boleh disia-siakan. Momen tersebut harus dimanfaatkan untuk promosi, baik potensi wisata serta investasi.

Jakarta jangan sekadar mengincar keuntungan ekonomi jangka pendek dari perputaran uang selama Asian Games dan Asian Para Games, tapi bagaimana event tersebut mendatangkan lebih banyak lagi fulus di masa yang akan datang.

Wajar jika lantas Jakarta banyak bersolek belakangan ini. Istilah beautifikasi menjadi familiar karena kerap dilontarkan gubernur Anies Baswedan serta Sandiaga Uno yang kala itu masih menjabat wakil gubernur. Mural alias pengecatan dinding menjadi pilihan yang banyak dilakukan di sejumlah lokasi.

Penting bagi Pemprov DKI Jakarta untuk memperindah dan mempercantik ruang-ruang kota, namun tidak sekadar terkesan kosmetik. Penataan kawasan kota harus sejalan dengan city branding sehingga berkontribusi terhadap daya saing Jakarta di tengah konstelasi global.

Jakarta saat ini jauh tertinggal dibanding kota-kota besar lain di dunia. Merujuk pada rilis Global Power City Index (GPCI) 2017, Jakarta bertengger di urutan ke-41 dari 44 kota yang diukur. Jakarta jadi yang paling buncit di kawasan Asia Tenggara setelah Singapura (peringkat 5), Kuala Lumpur (31) dan Bangkok (33). GPCI mengukur 44 kota tersebut berdasarkan 70 indikator terperinci dalam enam kategori yakni ekonomi, riset dan pengembangan, interaksi budaya, kelayakan huni, lingkungan, dan aksesibilitas.

Dalam membangun daya saing di tengah persaingan global, city branding menjadi salah satu strategi yang banyak dilakukan kota-kota besar dunia. Dengan menerapkan branding, sebuah kota mampu membangun identitas yang jelas, asosiasi yang kuat dan menyematkan atribut positif agar mampu menempatkan diri dan memenangkan persaingan dengan kota lainnya (Yananda dan Salamah, 2014).

Dari segi populasi, kawasan konurbasi Jakarta plus daerah sekitar (Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi) adalah yang terbesar kedua di dunia setelah Tokyo. Sayangnya, populasi tidak berbanding lurus dengan popularitas. Kita mungkin sering mendengar bahwa Bali lebih dikenal orang luar negeri dibanding Indonesia, apalagi Jakarta.

Branding tempat dipercaya sebagai cara ampuh untuk membuat sebuah kota menjadi terkenal (Anholt, 2010). Oleh karena itu penting bagi Jakarta membangun city branding dan mengamplifikasi melalui berbagai event internasional, lewat Asian Games salah satunya.

Ketika bicara city branding, kita harus hati-hati agar tidak terjebak pada jargon. Membangun city branding Jakarta tentu tidak cukup hanya dengan memasang slogan dan logo Enjoy Jakarta! di mana-mana. Bagaimana pengalaman warga dan turis ‘menikmati’ Jakarta itu sendiri yang lebih penting. Dari pengalaman itu akan muncul persepsi yang lantas membentuk citra sebuah kota.

Keterlibatan dan Rasa Memiliki Warga
Keterikatan kota (city) dan warga (citizen) amatlah erat. Maka, strategi city branding tidak akan berhasil jika selalu menempatkan warga sebagai obyek. Anies Baswedan memberi harapan baru dengan tawaran kepemimpinan berbasis gerakan. Ia selalu menekankan pentingnya kolaborasi.

Kesalahan pembangunan kota di masa lalu umumnya karena pemerintah mengabaikan rasa tempat (a sense of place) dan kekentalan komunitas, melupakan akar dan asal-usul kota, melecehkan keberagaman, serta kurang menyerap persepsi maupun aspirasi rakyat (Ellin, 1996).

Anies tampak sekali tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Di bawah kepemimpinannya, pemerintah daerah tidak lagi menjadi aktor tunggal, tapi justru sebagai penyedia platfom bagi siapapun yang mau menjadi co-creator. Ruang partisipasi warga dibuka sangat luas. Bahkan saat hasil ‘karya’ warga menghias kampungnya dicemooh warganet, Anies pasang badan.

Meski demikian, ada beberapa catatan terkait upaya penataan dan penghiasan kampung kota di Jakarta. Pertama, warga sebagai pelaku. Sebagian mural di Jakarta tidak benar-benar dibuat oleh warga melainkan oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) kelurahan yang lebih merepresentasikan pemerintah alih-alih warga.

Kedua, kontrol atas kualitas tetap perlu dilakukan. Kota ibarat sebuah kanvas raksasa tidak serta merta bisa dilukis apa saja sekehendak hati. Jika tidak, beautifikasi justru akan menjadi pembiaran terhadap vandalisme. Harus diakui sejumlah gambar mural di Jakarta memang lucu, kalau tidak boleh dikatakan jelek.

Ketiga, pelibatan insan seni. Meski membuka ruang seluas-luasnya bagi warga, pendampingan dari seniman menjadi penting. Tanpa adanya kurasi, beberapa mural yang sudah menghiasi Jakarta menjadi seolah kurang bermakna.

Keempat, selektif dan terencana. Jika satu hingga dua bulan ke belakang tetiba Jakarta menjadi warna-warni dapat dimaklumi karena pengecatan merupakan cara paling cepat dalam bersolek menyambut Asian Games. Ke depan, penataan dan penghiasan kampung hendaknya tidak lagi sporadis.

Sebagai langkah awal, pemerintah Jakarta bisa memetakan kawasan mana yang potensial untuk dipercantik. Dalam membangun city branding, atribut visual bukan satu-satunya aspek. Untuk membangun persepsi mengenai Enjoy Jakarta!, aktivitas-aktivitas yang menjadi pengalaman bagi pengunjung justru lebih penting.

Gamcheon Cultural Village bisa menjadi rujukan bagi Jakarta. Kawasan tersebut bisa bertransformasi dari permukiman kumuh menjadi destinasi wisata favorit di Korea Selatan. Bukan sekadar menjual pemandangan mural dan rumah warna-warni, tetapi di sana juga turis bisa melakukan berbagai aktivitas interaktif.

Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah kotanya adalah menyediakan peta, di mana turis harus mengujungi titik-titik yang ditentukan untuk mendapatkan stempel. Turis yang mengumpulkan semua stempel akan mendapat cinderamata khas daerah tersebut.

Pemilihan lokasi tidak boleh dilakukan dengan pola top down. Kampung yang ingin ditata harus mengajukan diri, tentu setelah warga di lingkungan tersebut sepakat. Penentuan gambar mural, seni instalasi dan berbagai aktivitas yang ingin dihadirkan juga berdasarkan kesepakatan warga.

Keterlibatan warga mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan akan membangun rasa memiliki. Warga akan dengan senang hati menjadi duta yang baik dalam mempromosikan city branding kota ini. Pada gilirannya, tamu yang datang akan benar-benar bisa menikmati Jakarta sebagaimana slogan Enjoy Jakarta!

CLOSE