Tayangan Horor dan Supranatural Ramah Anak, Mungkinkah?

Opini: Reza Indragiri Amriel

Penulis adalah Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia.

Senin, 3 September 2018 | 10:50 WIB

Cukup lama menghilang, tayangan-tayangan horor dan supranatural bergentayangan kembali di sejumlah layar televisi. Dahulu, program televisi semacam itu biasanya menayangkan adegan benda tak hidup yang bergerak sendiri, orang kesurupan, kontestan uji nyali yang histeris melihat penampakan, mitos-mitos lokal, dan manusia yang berubah wujud menjadi siluman. Kini, di samping adegan-adegan serupa, kepada pemirsa juga dipertontonkan kontes antarparanormal dan acara kasak-kusuk tentang kehidupan para demit.

Pertanyaannya sederhana, apakah acara-acara horor dan supranatural itu ramah anak? Atau secara umum, bermanfaatkah jika tayangan horor dan supranatural ditonton anak-anak?

Tidak mudah untuk menjawabnya. Pasalnya, mengacu UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak, anak adalah individu-individu yang berada pada rentang usia 0 (dalam kandungan) hingga sebelum 18 tahun. Walau sama-sama berusia anak-anak, individu berusia tiga tahun tentu berbeda jauh dengan individu berumur 15 tahun, baik fisik maupun psikisnya. Alhasil, pertanyaan tentang patut tidaknya suatu tayangan televisi dipirsa anak-anak perlu dispesifikkan, anak berusia berapakah yang sedang menjadi subjeknya? Suatu program televisi yang layak tonton bagi anak umur tertentu belum tentu layak simak bagi anak dengan umur lainnya.

Di dunia tontonan sendiri, terdapat sejumlah kategori tayangan berdasarkan penggolongan usia. Ada tayangan yang bisa ditonton oleh semua umur, ada pula tayangan yang hanya boleh dipirsa penonton usia kanak-kanak di atas 13 tahun.

Masalah lain yang menyulitkan penilaian tentang kelayakan sebuah tontonan adalah tolok ukur yang digunakan. Bisa dipastikan terdapat banyak parameter tentang itu. Saya menjadikan film Scooby Doo sebagai acuan. Film kartun tersebut memang ditujukan bagi anak-anak, tetapi uniknya petualangan Scooby Doo dan teman-temannya dari satu episode ke episode berikutnya sesungguhnya selalu mengangkat tema horor.

Namun, patennya film animasi Scooby Doo adalah betapa pun diawali dengan perjumpaan dengan hantu dan sosok-sosok mengerikan lainnya, di akhir tayangan selalu berhasil mengungkap misteri di balik hantu tersebut. Ternyata, ungkap Scooby Doo dan gengnya, selalu ada penjelasan masuk akal untuk menyatakan bahwa hantu tidak benar-benar ada.

Scooby Doo memandu penonton, teristimewa pemirsa cilik, untuk menemukan rasionalitas di balik fenomena hantu. Jadi, dengan kata lain, pembelajaran yang audiens tangkap dari film horor ala Scooby Doo adalah kita harus selalu berpikir positif, yakni, membuktikan bahwa fenomena yang awalnya dipandang tidak rasional ternyata mengandung elemen-elemen yang pasti masuk akal.

Sebangun dengan itu, karakter yang bisa coba dibangun dari film Scooby Doo adalah wajar anak-anak merasa cemas, bahkan takut, tatkala berhadapan dengan sesuatu yang tak diduga atau tak dipahaminya. Namun, jangan berhenti, apalagi tenggelam, dalam kengerian itu. Kendalikan perasaan takut, berpikir jernih, niscaya akan ditemukan penawar atas ketidakpahaman itu.

Dengan mengacu film kartun Scooby Doo, bisa dikonseptualkan bahwa jika ingin memproduksi film horor yang--katakanlah--ramah anak, ujung akhir film itu haruslah mengajak pemirsa belia untuk membuka katup rasionalitas mereka. Film hantu harus mendorong hadirin kanak-kanak menjadi penonton sekaligus ilmuwan.

Dengan tolok ukur seperti itu, pada detik ini juga mantap saya katakan, tidak ada satu pun tayangan horor di layar televisi yang bermutu, yang mencerdaskan, dan yang ramah anak. Alasannya, tidak ada satu pun dari program horor tersebut yang mengajak pemirsa cilik menemukan jawaban ilmiah atas pemunculan hantu dan fenomena dunia kegelapan lainnya. Alih-alih, seluruh program tersebut menghipnotis penonton dalam kebekuan intelektual.

Koreksi
Apa pun yang disajikan kepada anak harus mengandung unsur pendidikan. Mesti memuat nilai edukatif. Ini sudah menjadi prinsip yang diamini secara universal. Dengan prinsip seperti itu, menarik sekali jika kemudian kita buka UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalam UU tersebut, tercantum bahwa dari sekian banyak tujuan pendidikan, tujuan yang tertulis paling awal adalah mengembangkan potensi diri peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan.

Tujuan tersebut mendasari perlunya pemikiran ulang, dari yang semula--sebagaimana tertulis sebelumnya--mengelu-elukan rasionalitas, saya dihadapkan pada ketegasan UU bahwa rasionalitas anak didik bukanlah segala-galanya. Rasionalitas memang penting, tetapi ternyata “kalah penting” dibandingkan spiritualitas keagamaan.

Dengan penuh penghormatan, bisa disimpulkan di situlah letak kekhasan, bahkan kearifan, dalam dunia pendidikan nasional di Tanah Air. Dimensi spiritualitas, bahkan spiritualitas keagamaan, itu pula yang boleh jadi justru terkandung di dalam tayangan-tayangan bertema supranatural dan horor yang tersebar di beberapa kanal televisi.

Atas dasar itu, dengan sangat hati-hati, pada detik sekarang parameter bahwa film horor yang bermutu dan ramah anak adalah film yang semata-mata berhilirkan rasionalitas justru perlu dikoreksi. Implikasinya, untuk anak-anak pada rentang umur tertentu (setidaknya setelah memasuki masa pubertas), tayangan-tayangan yang terdeskripsikan pada penjelasan sebelumnya bisa dipertimbangkan untuk ditonton anak-anak asalkan diputar pada jam ramah anak dan anak selalu didampingi oleh orang dewasa yang terus-menerus mengondisikan mereka untuk menata perasaan dan pikirannya, serta mengasah kemapanan spiritual keagamaannya. Tentu, aturan final tentang layak tidaknya dan boleh tidaknya, program-program seram disaksikan anak-anak, amat-sangat bergantung pada kesiapan anak serta standar kepatutan yang berlaku di masing-masing keluarga.

Akhirnya, berefleksi pada ungkapan bijak cendekiawan Quraish Shihab, saya modifikasi sedikit: adalah penting bagi kita menemukan akar-akar rasionalitas di dalam dunia serta tayangan supranatural dan horor. Namun,--tak bisa disangkal--tidak semua hal di dalam dunia semacam itu sanggup untuk kita temukan akar rasionalitasnya. Allahu a’lam. 

CLOSE