Dari "Pica" ke Perokok Kelas Dewa

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Selasa, 21 Agustus 2018 | 22:11 WIB

Sangat memprihatinkan! Seorang anak berusia 2,5 tahun dengan rokok berakrobat di jemarinya dan asap mengepul dari mulutnya. Sama sekali bukan pemandangan yang elok, tetapi getir. Sebagaimana pemberitaan media, itulah kenyataan yang dialami seorang anak asal Sukabumi.

Kondisi menyedihkan serupa juga pernah diderita bocah lainnya beberapa tahun lalu. Dalam sehari, berpuluh-puluh batang rokok habis dikonsumsinya. Keterangan orangtua dari anak Sukabumi tersebut--seperti dikutip media--, awalnya si anak sering memungut, lalu memakan puntung-puntung rokok di mana pun ia bisa mendapatkannya. Belakangan, si anak bahkan tidak akan bisa tidur dan menangis sejadi-jadinya sebelum mengisap rokok.

Dengan kronologi seperti itu, sangat mungkin anak tersebut pada awalnya menderita pica. Pica adalah gangguan makan yang ditandai kebiasaan memakan benda-benda yang tidak lazim, bahkan ekstrem, serta tidak bernutrisi. Individu yang mengalami pica bisa berujung pada sakit parah dan meninggal dunia.

Pica berupa mencandu puntung rokok merupakan salah satu variasi yang umum. Pica terhadap puntung rokok menjadi penanda tak terbantahkan tentang kebiasaan buruk orang-orang yang merokok di kawasan publik, dan juga membuang puntung rokok di sembarang tempat.

Karena kasus tersebut berlangsung di Sukabumi, tidak berlebihan untuk menyimpulkan bahwa Sukabumi bisa jadi merupakan salah satu potret dari amat banyaknya area di Tanah Air, di mana orang bisa merokok di mana pun, lalu menyampah di banyak tempat. Penataan lingkungan semacam demikian bisa saja merupakan buah dari warga yang kurang peduli pada kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Pada sisi yang sama, fakta bahwa ada anak berumur kurang dari tiga tahun menderita pica, merupakan indikasi bahwa ia sering tidak terdampingi orangtuanya sendiri. Warga sekitar pun bisa kurang ambil pusing melihat perilaku menyimpang anak tersebut. Karena sekian banyak penelitian menunjukkan eratnya hubungan antara pica dan buruknya proses perkembangan anak, maka dapat disimpulkan lebih jauh lagi bahwa anak penderita pica itu tidak sebatas mengalami gangguan makan, tetapi juga gangguan perkembangan.

Kejadian di Sukabumi tersebut sepatutnya memunculkan kriteria baru bagi kota layak anak dan program-program kesejahteraan masyarakat lainnya. Apalagi karena jumlah perokok kian banyak dan perokok pemula pun semakin belia, maka kriteria ini patut dijadikan sebagai syarat mutlak. Ketidakmampuan suatu daerah memenuhi kriteria tersebut akan langsung memosisikan daerah dimaksud sebagai daerah tidak layak anak. Kriteria mutlak itu adalah penciptaan lingkungan bebas rokok. Tidak hanya bebas dari aktivitas merokok, tetapi juga bebas dari iklan rokok.

Konsep yang sama juga sudah saatnya diimplementasikan di sekolah, kampus, dan lingkungan pendidikan lainnya. Konkretnya, penilaian akan mutu lembaga pendidikan--termasuk akreditasi--seharusnya memasukkan unsur kemampuan lembaga tersebut dalam menciptakan kawasan yang bersih dari asap rokok.

Bukan hanya bersih dari aktivitas merokok, seluruh sisi kehidupan di lingkungan pendidikan pun tidak didukung sama sekali oleh perusahaan rokok maupun yayasan milik perusahaan rokok. Akan semakin tinggi skor penilaian terhadap lembaga pendidikan dimaksud apabila ia juga mengantarkan muatan-muatan antirokok dan menyediakan layanan konseling berhenti merokok bagi seluruh pemangku kepentingan.

Penanganan Ekstra
Kembali ke kisah nyata tentang perokok cilik, media juga mewartakan bahwa orangtua anak tersebut membuka usaha warung yang menjual rokok. Tidak hanya menjajakan rokok bagi para konsumen luar, orangtua bisa jadi juga “memanjakan” anak mereka sendiri dengan barang yang sama. Apalagi seandainya orangtua anak tersebut juga perokok aktif, maka semakin mendesak penanganan ekstra diberikan secara simultan kepada anak dan orangtuanya.

Penanganan pertama berpijak pada hasil riset. Para ilmuwan menggarisbawahi faktor yang paling dominan pengaruhnya bagi anak untuk kemudian menjadi perokok adalah kebiasaan orangtua merokok. Salah satu studi menunjukkan bahwa betapa pun edukasi akan bahaya rokok memang meningkatkan pemahaman anak akan dampak buruk rokok, tetapi pemahaman tersebut ternyata bertolak belakang dengan perilaku anak akibat terpapar setiap saat oleh adegan merokok yang diperagakan orangtuanya di depan mata anak. Konsekuensinya, terlebih saat taraf kecanduan anak pada rokok sudah semakin parah, patut dipertimbangkan untuk sementara memisahkan anak dari orang uanya yang perokok itu, setidaknya untuk jangka waktu tertentu sampai adiksi anak berhasil disembuhkan.

Penanganan kedua berlandaskan pada Pasal 76J ayat (2) UU Perlindungan Anak. Pasal tersebut memuat larangan bagi siapa pun yang dengan sengaja menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan, serta produksi dan distribusi alkohol dan zat adiktif lainnya. Di dalam penjelasan atas pasal itu tertulis “cukup jelas”. Namun terus terang, saya merasa frasa tersebut belum cukup jelas dan sama sekali tidak tegas untuk menyikapi bahaya rokok yang semakin lama terasa semakin siap memangsa masyarakat khususnya anak-anak kita.

Nikotin dan kandungan kimiawi berbahaya lainnya yang berasal dari rokok tampaknya bisa dijadikan sebagai perincian “zat adiktif lainnya”. Tentu, dibutuhkan pelibatan ahli untuk meyakinkan otoritas penegakan hukum bahwa orang tua yang melakukan perbuatan sedemikian rupa terhadap anak, sebagaimana tercantum pada Pasal 76J ayat (2), dengan objek berupa rokok (nikotin dan racun-racun lainnya), juga dapat diperkarakan secara pidana. Anak-anak yang menjadi korban rokok, berpatokan pada UU Perlindungan Anak, juga berhak akan perlindungan khusus.

Terkait itu, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) akan segera menyapa Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Bagaimana kedua organisasi profesi tersebut memaknai “zat adiktif lainnya”, kiranya dapat saya peroleh secepatnya agar dapat saya laporkan ke khalayak luas lewat tulisan berikutnya. Semoga. 

 

 

CLOSE