Memelihara Keajaiban Indonesia

Opini: Romanus Ndau

Komisioner Komisi Informasi Pusat RI.

Selasa, 14 Agustus 2018 | 11:32 WIB

Dalam sebuah seminar di Gereja Aloysius Gonzaga, Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu, 28 Juli 2018, romo Handrianus Mone CSsR mengatakan bahwa Indonesia merupakan sebuah keajaiban. Betapa tidak, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari 17.500 pulau, 1.340 suku bangsa, 1.211 bahasa, dan 6 agama. Tidak ada negara di dunia yang menyerupai Indonesia dalam soal ini. Wajar jika Indonesia selalu menjadi contoh yang patut diteladani karena mampu membuktikan bahwa keberagaman bukan rintangan untuk hidup bersama secara aman dan damai.

Keajaiban tersebut semakin kokoh oleh kemampuan Indonesia untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan. Tidak hanya sekali negeri ini menghadapi ujian mahaberat. Berbagai pemberontakan untuk memisahkan diri terjadi di banyak daerah. Sebut saja PKI di Madiun tahun 1928, DI/TII di Jawa Barat tahun 1949, RMS tahun 1950, PRRI di Sumatera Barat tahun 1958, tragedi 1965 yang memakan korban besar dan hampir membuat Indonesia bangkrut, dan masih banyak lagi. Demikian pula krisis rasial tahun 1998 yang membuat rupiah anjlok tajam. Namun, semuanya bisa dilalui karena kuatnya jiwa persatuan.

Berbagai kejadian tersebut menguatkan pandangan Mohamad Hatta tentang jiwa persatuan Indonesia. Menurut Hatta, bukan suku, agama dan budaya, melainkan kehendak yang kuat adalah modal utama persatuan.

“Di mana pun berada di negeri ini, saya bisa hidup dan gembira’ kata Hatta.

Kehendak itu pula yang membuatnya merasa diterima di Digul dan Banda Neira, tempatnya dipenjara. Begitu pula Soekarno yang mampu merumuskan nilai-nilai luhur Pancasila setelah melalui perenungan dan diskusi intensif dengan para pastor di Ende, Flores, NTT.

Menatap Pilpres 2019
Pemahaman tadi hendaknya menjadi mindset kita semua menghadapi Pemilu 2019. Presiden Joko Widodo berulang-ulang mengingatkan bahwa pemilu merupakan sumber kegembiraan. Pemilu menyemaikan harapan bahwa akan selalu ada orang yang diutus Tuhan untuk memimpin Indonesia. Pemilu juga menjadi medium bagi mekarnya partisipasi rakyat, sang empunya kedaulatan. Berbeda pilihan merupakan hal wajar dan di situlah demokrasi menemukan jati dirinya. Indonesia tidak boleh pecah-belah hanya karena kita berbeda pilihan politik. Politik harus dikembalikan sebagai ruang untuk menyemai harapan akan perubahan.

Untuk sementara, berbagai kekhawatiran soal isu agama mulai teratasi. Joko Widodo dan Prabowo Subianto sama-sama didampingi tokoh Muslim. Prof Dr Ma’ruf Amin adalah tokoh Islam moderat, Ketua MUI, dan cucu kiai besar di Banten. Begitu pula Sandiaga Uno adalah santri modern yang didukung banyak ulama. Pasangan capres-cawapres saat ini merupakan kombinasi ideal, yakni tokoh nasionalis dan religius.

Pidato masing-masing pasangan saat pendaftaran di KPU juga melegakan. Joko Widodo dan Prabowo Subianto berjanji untuk mengikuti kontestasi secara damai. Tidak ada lagi eksploitasi isu suku, agama dan golongan. Sungguh itu isu purba yang harus diakhiri. Kita semua tentu menunggu dengan penuh harapan agar janji tersebut benar-benar dijalankan secara konsisten. Di situlah kebesaran dan kehormatan para pemimpin ditegakkan.

Relawan dan pendukung sudah sepatutnya mencontoh komitmen tersebut. Pemilu 2019 harus menjadi tonggak untuk kembali menegaskan kepada dunia soal komitmen Indonesia untuk membangun demokrasi sebagai konsensus nasional yang tak boleh ditarik kembali. Tesis dasar demokrasi jelas: membatasi privilese elite sekaligus memperbesar ruang kebebasan rakyat. Pemilu merupakan momen bersejarah bagi rakyat untuk mengejawantahkan kebebasannya dalam menentukan pilihan.

Modernisasi pendidikan kiranya membantu rakyat untuk paham bahwa demokrasi tidak berkorelasi dengan suku, agama, dan golongan, melainkan dengan kualitas dan integritas diri. Kampanye pasangan capres-cawapres hendaknya lebih bersifat kualitatif dengan menampilkan program-program yang benar-benar menjadi kebutuhan rakyat. Sikap menyerang apalagi menjelek-jelekkan pihak lain selain menimbulkan kegaduhan, juga berpotensi menjadi bumerang bagi pasangan calon. Kehendak kuat untuk terus bersatu membuat rakyat menolak semua bentuk provokasi dan fitnah, karena hal tersebut bukan merupakan cerminan jiwa bangsa.

Perkuat Aktivitas Kewargaan
Jamak diketahui bahwa politisasi etnis dan agama berdampak sangat mematikan. Perselisihan Muslim-Hindu di India tahun 1940-an menyebabkan ratusan ribu jiwa terbunuh sia-sia. Jika sebelumnya mereka sama-sama warga India, dengan mengeksploitasi sentimen agama, tiba-tiba mereka menjelma menjadi Hindu yang kejam dan Muslim yang garang. Demikian pula konflik etnis di Rwanda, Kosovo, Bosnia, dan sebagainya. Kebencian membutakan mata dan pikiran sehingga menganggap membunuh demi "kelompok kami" adalah simbol kesuksesan. (Amartya Zen, 2006).

Kasus serupa terus berulang di negeri ini. Konflik Ambon dan Poso dan di beberapa tempat lain menyiratkan bahwa relasi antaragama serta etnis masih menyimpan bara. Kebencian sektarian yang giat diembus bisa menyebar cepat ibarat nyala api yang melenyapkan segalanya. Meminjam filsuf Walter Benyamin, memori akan penderitaan hendaknya membuat kita waspada dan aktif mempromosikan persaudaraan.

Semangat persatuan bukan sesuatu yang given, tetapi harus diperjuangkan terus-menerus. Indonesia sebagai rumah bersama perlu terus dirawat dan dijaga dengan memperbanyak aktivitas yang memungkinkan rakyat dari beragam suku, agama, dan golongan, saling berinteraksi dan bersinergi. Interaksi yang intens akan memungkinkan terbangunnya dialog-dialog yang darinya kita bisa saling belajar dan memperkaya wawasan serta pandangan. Ujungnya, berbagai prasangka bisa diatasi, sebaliknya sesama anak bangsa bisa saling menerima dan mendukung. Itulah cara efektif untuk memelihara keajaiban Indonesia. 

 

CLOSE