Fenomena Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah

Opini: Michael Victor Sianipar

Penulis adalah direktur politik Patra Government Relations.

Senin, 16 Juli 2018 | 12:20 WIB

Selesainya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 menjawab berbagai pertanyaan tentang sosok-sosok politisi lokal yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan di berbagai daerah. Ketegangan yang ada, walau tidak sebesar Pilgub DKI Jakarta setahun silam, berakhir dengan tenteram dan damai. Setelah KPU menetapkan pemenang pilkada, sudah saatnya bagi para calon, baik yang menang dan kalah, melakukan rekonsiliasi dan menatap masa depan daerahnya sesuai dengan keputusan dan mandat yang telah diberikan rakyat.

Beberapa hal menarik dari Pilkada Serentak 2018 terlihat dari profil para calon gubernur terpilih. Kemenangan Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi di Sumatera Utara dan Irjen Pol (Purn) Murad Ismail di Maluku menunjukkan bahwa TNI/Polri masih terus mencetak pemimpin-pemimpin politik di Indonesia. Di provinsi lain, kemenangan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur dan Herman Deru di Sumatera Selatan menjadi contoh kegigihan politisi yang sebelumnya pernah gagal di kontes pilgub untuk mencoba keberuntungannya lagi.

Dari 17 pilgub yang digelar tahun ini, kemenangan Ridwan Kamil di Jawa Barat dan Nurdin Abdullah di Sulawesi Selatan patut mendapat sorotan. Kedua calon memiliki kesamaan yang membuat mereka sangat berbeda dibanding calon-calon lainnya, bahkan politisi Indonesia pada umumnya. Karakteristik dan cita rasa politik yang mereka bawa menandakan suatu pergeseran positif dan signifikan dalam dunia politik Indonesia.

Latar belakang kedua politisi memiliki berbagai kemiripan. Walaupun diusung partai politik, Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah bukanlah kader parpol ataupun berasal dari elite politik. Koalisi yang mereka bangun terdiri dari partai-partai politik relatif kecil secara lokal, tetapi dapat mematahkan dominasi elite politik di daerahnya masing-masing. Keduanya memiliki modal sosial yang kuat berasal dari rekam jejak, karakter, dan kemampuan yang dikemas dengan sangat baik, sekaligus menjadi modal elektabilitas yang tinggi sejak awal.

Ridwan Kamil berasal dari kalangan profesional dengan pengalaman dan pencapaian signifikan di dunia swasta. Setelah lulus S-1 dari ITB, ia melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat, dan sempat bekerja di sana dan Hong Kong sebelum kembali ke Indonesia. Kantor arsitek yang ia pimpin adalah salah satu firma arsitektur terbaik di Indonesia. Ia juga menyempatkan waktu mendidik generasi penerus dengan menjadi dosen di ITB. Situasi Bandung yang masih semrawut dan dilanda kasus korupsi mendorongnya banting setir mengabdikan diri di dunia politik. Pada 2013, Ridwan Kamil terpilih menjadi wali kota Bandung.

Nurdin Abdullah juga sudah lebih dahulu mengakumulasi rekam jejak di dunia swasta, sebelum masuk ke dunia politik. Lulus S-1 dari Universitas Hasanuddin (Unhas), ia melanjutkan pendidikan di Jepang dan sempat bekerja di sana. Setelah pulang kampung ke Sulawesi Selatan, ia mendirikan usaha ekspor kayu ke Jepang dan juga jasa travel, sambil mengajar di Unhas.

Setelah sukses menjadi pengusaha dan akademisi, Nurdin Abdullah diminta tokoh-tokoh masyarakat Bantaeng maju menjadi bupati untuk memajukan salah satu daerah tertinggal di Sulawesi Selatan. Pada 2008, Nurdin Abdullah terpilih menjadi bupati Bantaeng, dan kembali menang pada 2013.

Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah memiliki latar belakang pendidikan yang cemerlang, pengalaman melanglang buana secara global, panggilan mendidik generasi penerus, dan pencapaian sebagai wirausaha sukses di bidangnya. Berasal dari kalangan profesional-akademis, keduanya masuk ke dunia politik dan memulai kiprahnya dari level terbawah, yakni kota/kabupaten, untuk memberantas korupsi, kemiskinan, dan kesemrawutan.

Lebih dari itu, Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah sama-sama membawa aura kampanye positif dan kreatif. Tim kampanye keduanya berbasis jaringan relawan serta pemuda. Mereka pun mengupayakan kampanye bersih dengan penggalangan dana dan partisipasi publik terbuka yakni “Udunan Warga Jawa Barat” dan “Partisipasi untuk Sulsel Jaya”. Mereka mengguncang fondasi politik elitis di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan dengan membawa karakteristik politisi, visi, dan gaya berpolitik baru yang terbuka, partisipatif, positif, dan modern.

Abraham Lincoln pernah berkata,“Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, berikan ia kekuasaan.” Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah telah membuktikan karakter mereka dengan kekuasaan di level terbawah. Rekam jejak mereka di panggung yang kecil itu membuka jalan untuk melaju ke panggung yang lebih besar. Jika seorang politisi konsisten bekerja dan berhasil memajukan daerahnya, partai-partai yang akan mendekat untuk mengusung politisi tersebut.

Kemenangan Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah di provinsi berpenduduk terbanyak di Jawa dan wilayah timur Indonesia menunjukkan bahwa rakyat Indonesia menuntut pemimpin berkualitas dengan visi serta rekam jejak. Ekspektasi ini mendobrak kekakuan politik elitis yang didominasi kelas politisi lama. Kiranya kisah perjalanan mereka dapat menjadi inspirasi dan semangat bagi calon politisi lainnya untuk turut terpanggil membawa perubahan di daerahnya masing-masing. Siapa tahu, jalan para politisi baru ini akan terbuka untuk kelak naik ke tingkat nasional.

CLOSE