Semangat Amien Rais

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Kamis, 12 Juli 2018 | 12:02 WIB

Beberapa waktu lalu ada wacana untuk memajukan Amien Rais sebagai calon presiden (capres). Kesediaan atau niat Amien Rais untuk maju--kalau jadi--dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019-2024 patut diapresiasi. Bagi seorang yang menyebut dirinya sebagai "tokoh reformasi" ini akan menjadi yang kedua kalinya jika betul jadi maju sebagai capres. Pada 2004, ia juga mencalonkan diri, tetapi gagal. Waktu itu, bersama pasangannya Siswono Yudo Husodo, keduanya mendapat suara hampir 15 persen atau berada di urutan keeempat dari lima pasangan peserta pilpres.

Dalam pencalonan kali ini, konon Amien Rais mengambil inspirasi dari kemenangan Mahathir Mohamad di Pemilu Malaysia. Tidak tahu apa sebenarnya parameter komparasi yang diambil Amien Rais untuk membandingkan dirinya dengan Mahathir. Namun, dari kata-katanya, tampaknya ia mengambil parameter "sama-sama senior". Usia Amien Rais 74 tahun saat ini, selisih 19 tahun dibandingkan Mahathir yang baru saja berusia 93 tahun.

Parameter kedua yang tampaknya coba dikemukakan Amien Rais ketika membandingkan dirinya dengan Mahathir adalah "sama-sama tokoh lama". Mahathir adalah pemimpin Malaysia yang mengantarkan negara itu menjadi negara yang relatif maju di kawasan Asia Tenggara, sedangkan Amien Rais mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh yang berjasa dalam gerakan Reformasi 1998. Parameter ini sebenarnya bisa dikaji dan diperdebatkan lebih mendalam.

Banyak pihak yang melihat bahwa komparasi Amien Rais dengan Mahathir agak jauh. Mahathir adalah tokoh besar, bapak bangsa yang konsisten dan terjaga wibawanya. Sebaliknya, Amien Rais sering disebut sebagai tokoh besar masa lalu yang kurang bisa menjaga kedudukannya. Sampai saat ini Amien Rais lebih sering disebut sebagai politisi, bukan negarawan.

Amien Rais mungkin memang salah satu tokoh yang bisa mengambil panggung dari gerakan Reformasi 1998. Kevokalannya dalam mengkritik rezim Soeharto dianggap merepresentasikan ungkapan hati sebagian besar aktivis pro demokrasi waktu itu. Ia berbeda tipe dengan Megawati yang lebih memilih jalan perlawanan dengan diam. Amien juga berbeda dengan Gus Dur yang lebih fokus pada penguatan nilai demokrasi, keadilan, dan kesejahteraan rakyat. Amien benar-benar seorang aktivis yang bicara langsung pada kekuasaan. Di saat massa penuh dengan euforia, maka sosok Amien Rais lebih sering terdengar daripada dua tokoh tersebut.

Namun, Amien Rais sepertinya tidak bisa segera menempatkan dirinya dalam jajaran tokoh politik yang madeg pandita dan menjadikan dirinya sebagai negarawan dan guru bangsa. Ia terus sibuk dengan politik kekuasaan. Dalam konteks awal reformasi hal itu mungkin masih bisa dimaklumi mengingat kondisi saat itu memang memerlukan munculnya tokoh-tokoh pembaru. Namun ketika 20 tahun berikutnya ia masih terus berbicara tentang politik kekuasaan, maka persepsi yang muncul akan berbeda terhadap sosok Amien Rais.

Amien Rais memang mungkin tokoh yang punya jiwa politikus yang kuat. Ia pintar sekali memanfaatkan momentum dan isu-isu. Dimulai dari upayanya menggerakkan kekuatan poros tengah dengan menjadikan Gus Dur sebagai presiden. Kemudian, ia beralih menjadi "lawan" Gus Dur dengan menginisiasi pemakzulan terhadap Gus Dur, dan justru mengantarkan Megawati menjadi presiden. Sempat ada jeda dalam masa pemerintahan SBY walaupun menjadi pengkritik yang keras di luar pemerintahan dan sistem, ia kemudian turun gunung lagi melawan Presiden Jokowi. Dan setelah itu tak henti bersibuk diri di panggung politik kekuasaan hingga saat ini.

Apakah Amien Rais benar-benar menjauhi politik saat ia membuat jeda pada masa pemerintahan SBY? Sepertinya tidak, karena Amien tetap berperan dalam politik internal PAN dan politik nasional, meskipun tidak selalu terlihat. Amien juga sangat mungkin ada di balik berbagai ajang pilkada dan pemilu nasional. Jadi, sepertinya Amien Rais memang ditakdirkan untuk tidak jauh-jauh dari panggung politik kekuasaan.

Metodenya tetap sama, vokal, blak-blakan, cenderung ofensif, dan sering memanfaatkan isu-isu sensitif. Mungkin memang personalitas Amien seperti itu. Atau, mungkin juga pengaruh didikan dan kultur Amerika Serikat, tempat di mana Amien menempuh studi master hingga doktornya, yang membentuknya seperti itu.

Berbeda
Karakter dan rekam jejak Amien Rais itu sepertinya berbeda dengan Mahathir Mohamad. Mahathir adalah tokoh politik, negarawan dan guru bangsa Malaysia. Ia memang seorang politisi andal yang pada zamannya tidak pernah jauh dari politik kekuasaan. Namun, ia juga mempunyai konsep-konsep pembangunan bangsa yang jelas. Mahathir tahu kapan ia harus menempatkan dirinya dalam politik kekuasaan dan kapan harus menempatkan diri dalam politik kesejahteraan. Hasilnya, Malaysia menjadi negara yang berkembang pesat, mendahului Indonesia dan menjadi salah satu calon macan Asia yang disegani dalam konteks regional.

Jadi, politik kekuasaan Mahathir terintegrasi sebagai salah satu aspek dari politik kesejahteraannya. Setelah lengser, Mahathir membatasi dirinya dari politik kekuasaan dan fokus pada tema-tema kesejahteraan dan pembangunan. Keadaan politik yang semakin tidak sehat membuatnya terpaksa kembali turun dalam politik kekuasaan.

Karakter dan rekam jejak kedua tokoh itu membuatnya agak berat untuk diperbandingkan secara setara. Amien Rais barangkali memang bermaksud mengambil romantisme terpilihnya Mahathir Mohamad sebagai momentum untuk pencalonan dirinya. Namun, sepertinya keduanya berbeda jauh dari segi karakter personal dan rekam jejaknya.

Namun demikian, langkah Amien Rais tetap harus dipuji dan diberikan ruang. Demokrasi memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk menggunakan hak pilih dan hak untuk dipilih. Negara juga menjamin kesetaraan seluruh warganya dalam hukum dan pemerintahan. Jadi, tidak ada hal-hal yang filosofis atau yuridis yang menghalangi keinginan Amien Rais untuk maju sebagai salah satu bakal calon presiden Indonesia.

Bahwa kemudian ada reaksi negatif, itu sudah wajar. Masyarakat melihat rekam jejak calon-calon presiden, termasuk Amien Rais. Mereka punya tafsir sendiri-sendiri soal itu dan masyarakat berhak pula untuk menyuarakannya. Bagi Amien Rais, suara masyarakat itu pasti akan jadi salah satu referensi dan catatan.

Mekanisme internal PAN dan konstelasi politik di oposan Jokowi tampaknya akan menjadi seleksi apakah keinginan Amien Rais itu bisa terwujud. Yang jelas, siapa yang akan jadi lawan Jokowi akan makin ramai. Amien Rais akan berhadapan dengan tokoh-tokoh, seperti Prabowo, Gatot Nurmantyo, barisan capres PKS, beberapa tokoh internal PAN dan mungkin juga jagoan Demokrat jika memutuskan untuk bergabung.

Memang tidak mudah, tetapi kita yakin Amien Rais adalah politikus "yang selalu berjiwa muda". Semangat kompetitif Amien Rais tidak pernah padam dan hal inilah yang harus menjadi contoh bagi para elite yang ingin bertarung di Pilpres 2019.

Semoga semangat dan wacana Amien Rais untuk calon presiden dapat memberikan pendidikan dan pencerahan politik kepada masyarakat Indonesia mengenai calon yang baik dan tidak dalam pilpres tahun depan.

 

 

CLOSE