Jatim Memilih

Opini: Novri Susan

Penulis adalah sosiolog politik Universitas Airlangga.

Senin, 25 Juni 2018 | 23:14 WIB

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2018 merupakan bagian dari hajat demokrasi nasional terkait pemberian mandat kekuasaan politik pada level provinsi. Jawa Timur memiliki dua pasang kandidat gubernur dan wakil gubernur, yaitu Khofifah-Emil dan Saifullah-Puti.

Masyarakat Jawa Timur perlu bergembira karena kedua pasangan tersebut merupakan para pemimpin terbaik dengan kedalaman keilmuan dan pengalaman masing-masing. Hal penting yang memerlukan analisis tentu berkaitan dengan bagaimana secara sosiologi politik, perilaku memilih masyarakat Jatim dalam Pilgub Jatim 2018 ini?

Pertarungan Branding
Branding merupakan proses membangun pengertian atau pemahaman tentang kualitas tertentu kepada masyarakat luas. Pada konteks pilkada, ada dua unsur pembentuk kualitas branding, yaitu nilai aktor dan rencana program kepemerintahan. Nilai aktor adalah kualitas individual dari setiap kandidat, baik cagub dan cawagub, yang bisa bersumber dari pendidikan formal, pengalaman dalam pemerintahan, penguasaan aspek lokalitas (konteks), dan kharisma kolektif yang bersumber dari etnis, keagamaan maupun golongan. Masing-masing kandidat memiliki nilai aktor dengan penonjolan berbeda.

Hal unik pada konteks Pilgub Jatim 2018 ini, Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf memiliki nilai aktor yang beririsan. Keduanya memiliki basis pengalaman organisasi pemerintahan, begitu juga basis kharisma kolektif yang diperoleh dari kalangan Nadhliyin. Namun demikian, unsur pembeda terbesar nilai aktor keduanya adalah pada penguasaan masalah wilayah Jawa Timur.

Saifullah Yusuf selama 10 tahun lebih mengelola kepemerintahan dan pembangunan di dalam konteks Jawa Timur. Figur ini turun ke masyarakat berkaitan dengan pembangunan konteks Jawa Timur. Sedangkan Khofifah selama ini lebih banyak berkecimpung di pemerintahan pusat. Lokus kegiatannya adalah nasional, sehingga aspek kedalaman konteks Jawa Timur masih kalah di belakang Saifullah Yusuf. Perbedaan inilah yang memengaruhi perspektif program-program sebagai kandidat.

Unsur pembentuk kualitas branding selanjutnya adalah rencana program kepemerintahan. Para kandidat menyusun rencana program untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial budaya, ekonomi, dan politik. Khofifah Indar Parawansa menyusun program dengan tema "Nawa-Bhakti Satya" yang terdiri dari sembilan rencana program. Perspektif program Khofifah adalah makro, yaitu membuat formula umum yang diharapkan bisa menangani masalah Jatim secara keseluruhan. Pada sisi lain, Saifullah Yusuf menciptakan "Sembilan Agenda Prioritas" dan "Tiga Puluh Tiga Janji Politik".

Perspektif program Saifullah Yusuf bersifat mikro, yaitu menciptakan program-program sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah tertentu di Jawa Timur. Hal ini bisa dilihat dari program "Satria Madura" yang secara khusus melakukan akselerasi pembangunan di Pulau Madura. Selain itu, juga bisa dilihat dari program "Tebar Jala" (Pusat Ekonomi Baru Jalur Selatan), yang berfokus pada peningkatan perekonomian wilayah selatan Jawa Timur.

Berkebalikan dengan program mikro dari kandidat nomor dua (Saifullah-Puti), kandidat nomor satu (Khofifah-Emil) tidak menyentuh aspek konteks wilayah dalam menjawab permasalahan di Jawa Timur. Pada rekam jejak pembangunan, pendekatan makro pernah meninggalkan jejak permasalahan pada masa Orde Baru. Masalah tersebut muncul dalam bentuk social gap (kesenjangan sosial), yakni satu wilayah menjadi lebih makmur dan maju dibandingkan wilayah lain.

Sejak masa kampanye dimulai pada Februari 2018, pertarungan branding (nilai aktor dan rencana program kepemerintahan) langsung mengalami eskalasi. Kedua kandidat mengemas sebaik mungkin dalam komunikasi politik dengan masyarakat Jatim. Agar lebih objektif, menganalisis pertarungan branding bisa diarahkan pada proses debat pilgub. Sampai artikel ini ditulis, sudah ada dua kali debat pilgub Jatim.

Pada debat pertama, pertarungan branding berlangsung pada level cukup intensif dengan ditandai perdebatan cukup keras antara dua kandidat. Kualitas nilai aktor dan program menjadi lokus perhatian seluruh masyarakat Jawa Timur. Pada debat pertama, masyarakat banyak melihat pada aspek karakter komunikasi politik (nilai aktor), sedangkan pada debat kedua, masyarakat mulai melihat pada aspek kualitas program.

Perspektif makro pasangan Khofifah-Emil beradu dengan perspektif mikro pasangan Saifullah-Puti. Manakah yang lebih dipilih masyarakat? Tentu saja perlu data riset (survei) untuk memberikan data terkait persepsi masyarakat.

Salah satu survei independen tentang persepsi masyarakat terhadap program kandidat adalah LKP3 (Laboratorium Kebijakan Publik dan Perencanaan Pembangunan) Universitas Brawijawa. Berdasar survei tersebut, rata-rata program bidang kesehatan, ekonomi, ketenagakerjaan, pariwasata dan sosial, pasangan nomor satu meraih sekitar 43 persen persepsi positif masyarakat, sedangkan pasangan nomor dua meraih sekitara 47 persen.

Jika merujuk pada studi ini, tingkat elektabilitas program (persepsi positif masyarakat) masih dimenangkan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Salah satu faktor yang menjadi kemungkinan mengapa kandidat nomor dua lebih dipandang positif dalam program-programnya adalah sifat mikro atau berdasar pada konteks kebutuhan wilayah-wilayah di Jawa Timur.

Arah Pemilih
Berdasar pada berbagai survei tentang elektabilitas kedua kandidat, sampai saat ini masih terjadi persaingan sangat ketat. Survei Indo Barometer memperlihatkan Khofifah-Emil mendapat dukungan 39,5 persen, sedangkan Saifullah-Puti meraih 45,2 persen. Sedangkan survei Polmark memperlihatkan dukungan masyarakat pada Khofifah mencapai 27,2 persen sedangkan kepada Saifulah Yusuf mencapai 42,7 persen. Survei dari Litbang Kompas, Khofifah meraih 48,6 persen, sedangkan Saifullah meraih 45,6 persen.

Lembaga-lembaga survei tersebut juga pernah melakukan penelitian elektabiltitas kandidat gubernur di daerah lain, termasuk DKI Jakarta. Hasil survei Litbang Kompas tentang elektabilitas Pilgub DKI Jakarta 2017 berbeda dari hasil riil pilgub. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa Ahok-Djarot memiliki elektabilitas jauh lebih tinggi dibandingkan pasangan lain. Sedangkan survei Polmark memberikan laporan bahwa pasangan Anies-Sandi lebih tinggi walaupun terpaut cukup tipis. Pilgub DKI Jakarta ternyata dimenangkan oleh Anies-Sadi. Pada gilirannya, sebagian masyarakat menilai bahwa hasil survei Polmark lebih tepat.

Data survei di atas menunjukkan kecenderungan arah pemilih Jawa Timur kepada Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno. Jarak kemenangan sekitar lima persen sebenarnya cukup tipis. Prediksi pertarungan sengit menjelang hari pencoblosan muncul dalam bentuk mobilisasi massa pendukung. Ekspektasi demokrasi adalah kontes tanpa kekerasan demi menjamin keselamatan dan stabilitas regional Jawa Timur.

Terlepas dari survei mana yang paling mendekati ketepatan prediksi, hal yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat Jawa Timur tetap menjaga konsistensi dalam demokrasi tanpa kekerasan. Proses pemilihan pemimpin politik baru tidak boleh diikuti dengan perpecahan sosial dan eskalasi konflik kekerasan. Pesta demokrasi perlu hadir dalam intensi idealnya, yaitu merayakan pemilihan pemimpin politik untuk kemajuan bersama.

Masyarakat Jawa Timur akan memilih dua kandidat gubernur dan wakil gubernur pada 27 Juni 2018. Sangat penting proses pemilihan dilakukan secara rasional. Pada sisi lain, fungsi lembaga penyelenggara pemilu harus optimal dan memihak pada kepentingan pemilu yang jujur dan adil. Selamat memilih pemimpin politik untuk masyarakat Jawa Timur.

 

CLOSE