Membaca Peta Pilgub Jateng

Opini: Muchamad Yuliyanto

Penulis adalah pengajar komunikasi politik FISIP Undip, pengelola LPSI Semarang, dan peminat dinamika politik dan demokrasi lokal.

Jumat, 22 Juni 2018 | 12:41 WIB

Perhelatan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 tinggal sepekan. Namun dinamika belum dirasakan secara eksplisit, bahkan terkesan adem-anyep tak mampu memberikan kehangatan politik kepada pemilih yang berjumlah sekitar 27 juta orang. Oleh karenanya, terdapat beberapa faktor penyebab pilgub kali ini tertinggal gereget dibanding dua provinsi tetangga, yakni Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pertama, pengaruh budaya adi luhung yang mengedepankan keharmonisan, toleran, andhap asor, serta cenderung menghindari gesekan, amat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perebutan jabatan publik melalui pemilu. Boleh bertarung ketat memperebutkan kemenangan politik, tetapi tak perlu harus ngotot dan bersitegang yang mengganggu relasi sosial keseharian.

Kedua, jika boleh dibilang, pasangan calon gagal membangun komunikasi publik yang menggugah rasa penasaran masyarakat terkait program yang ditawarkan.

Ketiga, kerja mesin pemenangan dengan roda kader parpol pengusung maupun relawan tidak berjalan maksimal, sehingga gagal memobilisasi perhatian dan ekspektasi kepada pasangan calon.

Keempat, pertarungan isu-isu ekspektatif yang mampu membangunkan perhatian dan sentimen pemilih tidak berhasil menjadi opini publik, sehingga terkesan masyarakat apatis dan merasa pilgub kali ini antara ada dan tiada.

Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran tentang partisipasi pemilih sebagai salah satu indikator kemajuan praktik demokrasi. Dengan waktu yang tersisa menjelang pencoblosan pada 27 Juni 2018, pasangan calon dan mesin pemenangan perlu berkreasi dan inovatif dalam mempersuasi pemilih, baik melalui konstruksi opini publik via media, komunikasi melalui kanalisasi organisasi sosial, dialog intensif dengan menyasar basis konstituen, maupun mempercepat laju gerak mesin pemenangan.

Berikut eksplanasi tentang peta kompetisi dan siapa yang bakal memenangi pilgub. Pertama, secara kepartaian, sesungguhnya pilgub kali ini merupakan unjuk kapasitas partai pengusung yang diyakini dominan di tingkat provinsi. PDI Perjuangan (PDIP) selalu percaya diri karena berhasil mempertahankan Jateng sebagai kandang banteng. Apalagi, PDIP kembali mengusung incumbent Ganjar Pranowo yang dipasangkan dengan Taj Yasin yang merupakan kombinasi aliran merah dan hijau, sebagaimana deskripsi sosiopolitik Jateng.

Namun, tak bisa disepelekan dengan menilik koalisi Gerindra, PKS, PAN, dan PKB, di mana secara kelembagaan sedang klimaks membangun soliditas dan militansi menyongsong pemenangan Pileg dan Pilpres 2019. Ketiga parpol ini jika berhasil memaksimalkan laju gerak mesin parpol, maka bisa menciptakan political shock dalam Pilgub Jateng. Dan mereka menjadikan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah tujuan antara untuk mengubah peta politik Jateng, bahkan Pemilu 2019.

Kedua, kemenangan di Pilgub Jateng juga merepresentasikan kapasitas pasangan calon maupun partai membangun jaringan sosial sebagai bagian inheren mesin pemenangan. Dalam hal ini, incumbent dengan investasi lima tahun memimpin Jateng memiliki basis relasi sosial yang menjanjikan dan luas.

Meski begitu, perlu diketahui PKB sejak Pemilu 2014 relatif berhasil membangun ukhuwah dengan jemaah Nahdliyyin bahkan dukungan jamiah Nahdlatul Ulama (NU) secara implisit. Sesungguhnya pasangan Sudirman-Ida tinggal merawat dan membuktikan loyalitas jemaah terhadap calon dari anak kandung politiknya. Apalagi, cawagub Ida Fauziyah berada dalam jajaran struktural NU yang relatif bisa diterima jemaah perempuan Nahdliyin. Sedangkan Gerindra yang sedang mengepakkan sayap organisasi dan menginventarisasi simpatisan Prabowo Subianto untuk persiapan Pilpres 2019, tentu dapat dimanfaatkan juga untuk memenangi pilgub.

Ketiga, secara basis konstituen pasangan Ganjar-Taj Yasin memiliki dukungan struktur politik via kepala pemerintahan kabupaten/kota yang kebetulan lebih dari separuh adalah kader PDIP. Hal ini memudahkan konstruksi mesin parpol dan pengondisian daerah bersangkutan untuk menjadi lumbung suara pasangan nomor urut 1, seperti di wilayah Semarangan, Solo Raya, Banyumasan, pantura timur, dan sebagian pantura barat. Tak heran sering terdengar adagium bahwa cagub PDIP di Jateng sudah 50 persen memenangi pilkada. Adapun dukungan bagi Ida Fauziyah secara struktural eksekutif hanya dapat diandalkan dari wilayah pantura barat, seperti Pekalongan, Tegal, dan daerah Bagelen, terutama Kabupaten Magelang, Wonosobo, Kota Salatiga, serta wilayah selatan Jateng yang diwakili Karanganyar dan Sragen.

Keempat, secara sosiokultural Jateng merupakan gambaran masyarakat abangan dan santri sejak Orde Lama, dan bisa direpresentasikan secara politik melalui dominasi partai berlatar dukungan kaum awam dengan partai yang disokong kaum santri. Terbukti PDIP dan PKB masuk lima besar political mapping sejak Pemilu 1999. Pilar utama pasangan Ganjar-Taj Yasin adalah PDIP dan PPP sudah ideal, begitu pun dengan Sudirman Said-Ida yang disokong Gerindra, PKS, PAN, dan PKB. Maka, sejatinya bakal bertarung ketat jika mesin pemenangan berjalan maksimal, bahkan all out.

Hasil survei belakangan ini menunjukkan terdapat disparitas yang sangat jauh di antara kedua pasangan, mengindikasikan terdapat hambatan internal mesin pemenangan untuk menyosialisasikan pasangan calon yang sebenarnya secara kualitas berimbang. Kuatnya opini tentang wibawa Mbah Maemun Zuber sebagai “begawan” santri di Jateng ikut mendongkrak popularitas Taj Yasin yang tentu memperkuat Ganjar Pranowo. Dan sebaliknya eksistensi tokoh pesantren di luar Rembang yang menyokong Ida Fauziyah belum berhasil menjadi diskursus publik sebagai referensi keyakinan untuk menentukan alternatif pilihan.

Kelima, pasangan petahana dengan modal sosial hasil investasi kepemimpinan relatif memperoleh apresiasi publik yang kondusif, tentu memudahkan konstruksi opini yang jitu mengorientasikan nominasi pilihan dalam pilgub. Ganjar-Taj Yasin tinggal merawat dan memberi aksentuasi untuk meyakinkan pemilih, dan itu berhasil dibangun tim pemenangan. Realitas inilah yang barangkali menjadikan saat ini pasangan nomor urut 1 berada di atas angin.

Sebaliknya, pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah sebagai new challenger pergulatan politik Jateng harus mampu menawarkan program dan visi persuasif dilengkapi kompetensi dan track records tentang leadership yang komprehensif. Keduanya tentu harus mengonstruksi opini publik dan terus membakar semangat juang tim pemenangannya.

Keenam, dalam konstelasi politik nasional menjelang Pemilu 2019, maka hasil pilgub merupakan investasi yang bisa meningkatkan percaya diri bagi capres Jokowi maupun Muhaimin Iskandar yang ingin maju sebagai cawapres. Sesungguhnya bargainning position Muhaimin Iskandar akan lebih kuat di hadapan siapa pun capres, ketika mampu mengubah peta politik Jateng melalui kemenangan Sudirman Said-Ida Fauziyah. Namun jika gagal, hasl Pilgub Jateng justru memperkuat pemenangan capres PDIP pada 2019 karena kokohnya Jateng sebagai kandang banteng, sekaligus berdampak--meski tidak langsung--terhadap peluang Muhaimin Iskandar maju dalam Pilpres 2019.

Ketujuh, gaya komunikasi politik Ganjar Pranowi memang lebih friendship, bahkan funky, di kalangan pemilih milenial, seperti pemanfaatan akun media sosial sampai gaya dan penampilan di hadapan publik saat berkampanye. Keduanya merupakan simbolisasi dalam komunikasi politik yang mampu merengkuh simpati pemilih secara beragam. Sementara Sudirman Said-Ida Fauziyah terkesan lebih “mapan” untuk kalangan menengah dan sesepuh.

Kedua pasangan telah habis-habisan menggarap jemaah NU dan pada masing-masing pasangan terdapat representasi jemaah Nahdliyin. Inilah tantangan berat untuk memenangi Pilgub Jawa Tengah, terutama bagi pasangan calon pendatang baru.

CLOSE