Pelaku Mutilasi Perempuan di Pasar Besar Malang, Diduga Gila

Pelaku Mutilasi Perempuan di Pasar Besar Malang, Diduga Gila
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Aries Sudiono / FMB Sabtu, 18 Mei 2019 | 16:29 WIB

Malang, Beritasatu.com - Tim penyelidik Satreskrim Polres Malang Kota hingga kini belum menetapkan Sugeng Santoso (49), gelandangan yang dipastikan sebagai pelaku tunggal kasus mutilasi mayat perempuan tak dikenal di Pasar Besar Malang (PBM) Kota Malang, Provinsi Jawa Timur (Jatim), sebagai tersangka. Ini karena polisi masih menunggu sejumlah hasil penyelidikan atas sejumlah barang bukti, di antaranya memastikan bahwa pelaku mengalami sakit jiwa sejak lama sehingga tindakannya yang melanggar hukum tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Untuk status memang belum kami tetapkan sebagai tersangka, dan yang bersangkutan (pelaku mutilasi) masih dalam penyelidikan. Dia pernah berbuat sadis memotong lidah pacarnya dan dihukum tiga tahun. Juga pernah keluar masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang,” ujar Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, dalam penjelasannya kepada wartawan di Mapolres Malang Kota, Jumat (17/5/2019) sore.

“Ada bukti-bukti surat dan keterangan keluarga serta tetangga tempat asal pelaku yang menyatakan, Sugeng adalah orang tidak waras, mengidap kelainan jiwa sejak lulus dari STM Grafika (kini SMKN 4) Kota Malang, salah satu sekolah lanjutan atas yang bergengsi,” ujar Asfuri.

Dia menambahkan, perbuatan pelaku Sugeng dikategorikan bukan pembunuhan karena korban dimutilasi setelah tiga hari meninggal karena sakit. Namun demikian, kasus yang sempat menggegerkan warga Kota Malang itu tetap akan diproses dan ditelaah untuk menyusun konstruksi hukumnya, termasuk dengan melakukan cek kejiwaan oleh dokter ahli.

“Kita menunggu hasil akhir uji forensik dari Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri di (Polda Jatim) Surabaya, termasuk hasil autopsi korban secara medis dan keterangan dokter jiwa dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang pernah menangani pelaku. Selain itu, kata dia, informasi di lapangan juga menyebutkan, bahwa pelaku menggelandang setelah rumah orang tuanya dibakar. “Jika nanti dokter ahli jiwa menyatakan yang bersangkutan sehat, maka bisa dimintakan pertanggungjawaban hukum, dijerat pelanggaran181 KUHP. Tetapi sebaliknya, jika gila maka proses hukum tidak bisa dilakukan, sesuai Pasal 44. Namun jika tidak gila, tidak membunuh, tapi memutilasi korban maka akan dijerat Pasal 181 KUHP,” tandas Asfuri.

Sebagaimana viral di media sosial sebelumnya, masyarakat digemparkan ditemukannya mayat perempuan tak dikenal dalam kondisi termutilasi menjadi enam bagian, Rabu (15/5/2019) sore sekitar pukul 16.00 WIB. Polisi beberapa waktu kemudian berhasil mengamankan Sugeng yang diduga menjadi pelaku mutilasi perempuan di Pasar Besar. Pelaku mengaku memutilasi korban karena memenuhi permintaan korban yang waktu itu sudah dalam keadaan sakit keras. Pelaku menggunakan alat gunting untuk memotong tubuh korban menjadi enam bagian.

Pelaku bersikukuh korban meninggal akibat sakit keras yang dideritanya, baru tiga hari kemudian mayatnya dimutilasi. Pelaku Sugeng ditangkap saat sedang tidur-tiduran di kawasan Jalan Martadinata, tak jauh dari lokasi Pasar Besar Malang, Kamis (16/5/2019). Menurut keterangan kakak kandungnya, adiknya sudah lama sakit jiwa dan hidup menggelandang di PBM Kota Malang.



Sumber: Suara Pembaruan