Lewat Surat Terbuka, Politikus PKS Ingatkan Anies Penuhi Janji untuk Jakarta

Lewat Surat Terbuka, Politikus PKS Ingatkan Anies Penuhi Janji untuk Jakarta
Mahfudz Siddiq ( Foto: Antara )
Markus Junianto Sihaloho / JAS Kamis, 12 Juli 2018 | 07:47 WIB

Jakarta - Wacana agar Anies Baswedan menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2019 menguat setelah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dikabarkan mendorongnya untuk maju dalam kontestasi menjadi orang nomor satu di republik ini. Ternyata, ada juga kader partai itu yang tak setuju Anies dicapreskan dan meninggalkan jabatannya sebagai gubernur Jakarta.

Salah satunya adalah Mahfudz Siddiq, yang merupakan anggota DPR RI dari Fraksi PKS, yang menyampaikan sikapnya lewat surat terbuka. Mahfudz meminta agar Anies memenuhi janjinya untuk bekerja di Jakarta.

"Jika pemimpin itu diposisikan sebagai imam bagi ummat, “Apakah sang Imam akan meninggalkan ummatnya di fase awal perjalanan perjuangan ini?” Begitu tulis Mahfudz dalam surat terbukanya yang disampaikan kepada wartawan, Rabu (11/7) malam.

Berikut isi lengkap surat itu.

"Bismillahirrohmanirrohim. “Demi Allah saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban saya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya”, janji Anies dan Sandi ketika disumpah.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh. Yth Bapak Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Dengan rendah hati, saya ingin memperkenalkan diri sebagai salah seorang warga Bapak yang berdomisili di Jakarta Selatan. Nama saya Mahfuz Siddiq bin Ahmad Suryani, lahir di Jakarta 52 tahun lalu, dari pasangan ayah-ibu yang asli Jakarta.

Saya ingin mengawali dengan doa keberkahan agar Bapak selalu diberi kekuatan, bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT agar mampu melaksanakan tugas dan amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta – pemimpin kami – dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Bapak Gubernur Yth:

Dua bulan terakhir ini, saya kerap membaca dan menonton berita tentang sejumlah politisi dan pimpinan partai yang mendorong-dorong Bapak sebagai calon wakil presiden, dan bahkan sebagai calon presiden. Sebagai pribadi yang menilai Bapak sebagai sosok orang baik, tentu ikut bangga dan gembira. Namun berita-berita itu - yang mulai “memaksa” Bapak ikut berkomentar - juga menyisipkan rasa gelisah dan cemas dalam diri saya.

Sebagai warga asli Jakarta, saya mengalami kepemimpinan 11 Gubernur dan Plt Gubernur DKI Jakarta sejak tahun 1966. Dimulai era Ali Sadikin, Tjokropranolo, Soeprapto, Wiyogo, Soerjadi, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki CP, Djarot SH sampai Gubernur Anies Rasyid Baswedan.

Seingat dan sepengetahuan saya, proses pemilihan Gubernur pada tahun 2017-lah yang paling heboh, panas, dan menguras energi masyarakat Indonesia. Belum pernah saya menyaksikan begitu banyak doa dilantunkan di rumah, musala, masjid dan majlis taklim untuk terpilihnya Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Bahkan saya menyaksikan bagaimana pada hari Rabu subuh, tanggal 19 April 2017, begitu banyak warga Jakarta yang menghadiri salat subuh berjama’ah di masjid dan musholla. Mereka bermunajat untuk kemenangan Bapak, sebelum menuju TPS memastikan hak pilihnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Akhirnya, Alhamdulillah, Allah memberikan kemenangan kepada Anies-Sandi pada putaran kedua dengan dukungan 3,24 juta suara atau 57,96%. Kalimat pertama yang saya dengar dari banyak warga adalah: “Alhamdulillah, Allahu Akbar!”

Lalu dengan rasa haru dan bangga, saya dan banyak pemilih Bapak menjadi saksi atas kalimat sumpah pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 di Istana Negara yang megah.

Bapak Gubernur Yth. Kenapa terselip rasa gelisah dan cemas dalam diri saya? Karena setelah mengikuti hiruk-pikuk berita di media, muncul pertanyaan di kepala saya: “Akankah saya kehilangan sosok Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah saya pilih berama tiga jutaan warga lainnya?

Jika pemimpin itu diposisikan sebagai imam bagi ummat, “Apakah sang Imam akan meninggalkan ummatnya di fase awal perjalanan perjuangan ini?”

Bapak Anies Rasyid Baswedan Yth.

Sebagai orang asli betawi dan warga kota Jakarta, saya bangga dengan Ibukota Negara ini yang menyandang sebagai Daerah Khusus. Kebetulan – atas izin Allah – saya ikut menyusun UU No 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan saya juga bangga dengan sosok Gubernur DKI Jakarta. Kenapa? Karena luas wilayah Jakarta yang 661,5 km2, melampaui luas 18 negara di dunia. Jumlah penduduk Jakartayang 10,4 juta (2017) melampaui jumlah penduduk 109 negara di dunia.

Dari 34 provinsi dan 93 kota di Indonesia, Jakarta memiliki APBD terbesar yang mencapai 70,2 Trilyun dengan PAD yang juga terbesar, yaitu 41,7 Trilyun (Th 2017). Jadi dengan fakta itu, saya memahami dan memposisikan Gubernur DKI dengan kedudukan yang sangat besar dan tinggi.

Setidaknya setara dengan 18 Kepala Negara lain (dari sisi luas wilayah), dan setara dengan 109 Kepala Negara lain (dari sisi jumlah penduduk).

Dan pastinya sebagai Gubernur paling bergengsi di Indonesia, sebagaimana dimandatkan dalam UU No 29/2007.

Selama 52 tahun menjalani usia hidup di Jakarta, saya – sebagaimana jutaan warga bapak yang lainnya – punya harapan agar Ibukota Negara ini semakin maju dan beradab.

Setidaknya 5 masalah utama yang sering dikeluhkan warga bisa diselesaikan dengan baik dan tuntas, yaitu kemacetan, banjir, sampah, korupsi dan pengangguran. Saya dan warga Jakarta lainnya juga siap mendukung dan berkontribusi agar 23 janji kampanye Anies-Sandi bisa dilaksanakan dan dibuktikan keberhasilannya.

Bapak Gubernur Yth.

Surat terbuka ini saya tulis pada hari Rabu, 11 Juli 2018. Artinya menjelang 7 bulan usia kepemimpinan Bapak sebagai Gubernur. Dalam rentang masa tugas 5 tahun (2017-2022), perjalanan 7 bulan pertama, saya yakini sebagai fase “Ta’aruf”. Yaitu fase Bapak mengenali apa dan bagaimana Jakarta ini.

Mungkin baru mulai tahun kedua dan seterusnya, Bapak bisa benar-benar menjalankan program pembangunan secara tepat dan cepat. Ingatan kami masih melekat akan peristiwa sepanjang Pilkada Jakarta pada 15 Februari dan 19 April 2017 dengan semua rangkaian peristiwa yang mengiringinya.

Hari-hari ini, saya hanya bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Bapak Gubernur bersama Wakil Gubernur bisa terus mengemban amanah dan tugasnya hingga tuntas.

Sehingga tuntas pula pertanggungjawaban amal di hadapan masyarakat Jakarta dan di hadapan Sang Pemilik dan Pemberi Kekuasaan, Allah Azza wa Jalla.

Berjalan dalam istiqamah dan sabar. Saya ingin menutup surat terbuka ini dengan cerita kecil. Saat saya ikut berikhtiar memenangkan Anies-Sandi, Ibu saya memberi pesan untuk memperbanyak membaca surah Al-Insyirah. Agar Allah selalu memberi kemudahan atas berbagai kesulitan.

Salah satu bagian ayat dari surah itu berbunyi: “fa idzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika farghob” (maka apabila engkau telah selesai (darisesuatu urusan), teruslah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanyakepada Tuhanmu lah engkau berharap). (QS Al-Insyirah ayat 7-8).

Taqabbalallahu minnaa wa minkum, minal aidin wal-faizin. Mohon dibukakan pintu‎ maaf lahir dan batin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam hormat."



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE