Halal BIhalal Lippo Group

Hidup Bernilai Jika Punya Misi Entaskan Kemiskinan

Hari Gunarto / HA Selasa, 10 Juli 2018 | 18:24 WIB

Karawaci – Hidup seseorang akan bernilai jika memiliki misi mulia untuk mengentaskan kemiskinan. Apalagi di Indonesia, kondisi kemiskinan itu begitu memprihatinkan, bukan hanya di sejumlah daerah yang sulit dan tertinggal seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, tapi juga banyak ditemukan di wilayah Jawa yang secara umum lebih maju.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj saat menyampaikan ceramah pada acara halal bihalal Lippo Group di Karawaci, Tangerang, Selasa (10/7). Acara dihadiri Pendiri sekaligus Chairman Lippo Group Mochtar Riady, CEO Lippo Group James Riady, Presiden Lippo Group Theo Sambuaga, dan petinggi Lippo lainnya.

Said Agil mengilustrasikan kondisi kemiskinan di Jawa lewat kisah sepasang kakek-nenek di Bondowoso, Jawa Timur, yang sehari-harinya bekerja memecah batu di sungai. Dari satu keranjang batu pecahan yang harus diangkat dari lembah ke atas bibir sungai, pasangan sepuh itu hanya mendapatkan uang Rp 6.00.

“Untuk mendapatkan Rp 6.000, kakek-nenek itu harus menghasilkan 10 keranjang pecahan batu. Untuk mendapatkan Rp 60.000, mereka harus memecah batu sampai 100 keranjang. Berapa keranjang batu harus mereka hasilkan untuk bisa makan di restoran Jepang yang mahal?” kata Aqil.

Itulah sebabnya, dia mengimbau kepada masyarakat Ibukota yang mendapat kemudahan dengan segala fasilitas dan kemewahan, untuk menengok ke bawah rakyat miskin yang kurang beruntung. “Baru di situ hidup kita bernilai,” kata Aqil.

Mengentaskan kemiskinan merupakan satu dari tiga misi atau agenda yang harus dijalankan setiap orang, tidak peduli apapun jabatannya, partai politiknya, ormasnya, dan label lain yang disandang.

“Percuma Anda berpartai, bernegara, berormas, kalau rapat-rapatnya bukan untuk menghilangkan kemiskinan, tapi untuk melakukan mark-up atau mencari bonus. Tapi kalau apa yang dilakukan memiliki misi untuk mengentaskan kemiskinan, baru parpol atau ormas itu punya nilai,” tegas Aqil.

Agenda penting kedua adalah membangun hal positif, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Dia menyebutkan, Indonesia adalah satu-satunya negara yang menganut sistem pendidikan berada di bawah dua kementerian, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama. Kemendikbud membawahkan sekolah umum dari SD hingga perguruan tinggi. Sedangkan Kementerian Agama membawahkan madrasah hingga jenjang perguruan tinggi Islam.

“Sayangnya, jauh sekali perbedaan keduanya, baik dari aspek sistem maupun anggaran,” tuturnya.

Said Aqil juga menyatakan bahwa radikalisme muncul karena ada kekeliruan dalam pengajaran.

“Radikalisme bisa muncul karena yang diajarkan banyak sejarah tentang perang, bagaimana Nabi Muhammad berperang. Mestinya lebih banyak mengajarkan bagaimana Nabi Muhammad yang penuh kasih, bagaimana beliau bergaul dan menghargai agama lain,” kata Aqil.

Sedangkan misi atau agenda ketiga yang harus dijalankan para pemangku kepentingan di Indonesia adalah mengakurkan dan mensolidkan masyarakat. Bagaimana agar masyarakat jauh dari konflik.

“Ini mungkin agenda yang paling sulit. Hingga menjelang kiamat pun, masyarakat sulit diakurkan,” kata dia.

Karena itulah, kata Aqil, kyiai-kyiai NU di berbagai daerah yang umumnya sangat sederhana selalu memberikan pesan kepada umatnya untuk selalu rukun dan bersabar menghadapi setiap persoalan.

Dalam konteks Indonesia secara luas, Aqil menekankan pentingnya menjaga keutuhan Indonesia dengan menjaga dan mempertahankan budaya. Menurut dia, menjaga NKRI itu bukan hanya dalam konteks geografis, tapi juga keutuhan budaya.

“Siapa lagi kalau bukan kita yang harus menjaga keutuhan budaya. Jika budaya hancur, maka hancurlah martabat bangsa. Saya mengimbau siapa pun yang menimba ilmu di luar negeri, jangan membawa budaya mereka ketika sudah kembali ke Tanah Air,” kata dia.

Said Agil membeberkan tiga misi atau agenda utama yang harus dijalankan 'manusia Indonesia' di atas, karena mengacu pada arti kata manusia atau insan dalam Bahasa Arab yang bermakna harmoni, intim, atau akrab.

“Jadi, sejak lahir, manusia membawa amanah keharmonisan. Manusia adalah makhluk yang damai dan harmonis, tidak penting apa agama dan sukunya, “ tegasnya.

Teknologi Digital
Sementara itu, merespons tema ceramah Aqil tentang 'pengentasan kemiskinan', Mochtar Riady bercerita tentang masa kecilnya yang juga merasakan kemiskinan. Setelah Ibunya meninggal pada saat Mochtar berusia sembilan tahun, dia harus mencari nafkah saat berusia 12 tahun, dengan mengawal barang hasil bumi yang diangkut kereta api dari Jember, Jatim, ke Jakarta.

“Saya pernah mengalami kemiskinan, sehingga saya tahu rasanya miskin itu seperti apa. Saya pernah merasakan tidak tahu besok akan makan apa,” kenang Mochtar.

Kepedulian dan misi besar Mochtar untuk mengentaskan kemiskinan bak gayung bersambut ketika Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito meminta ide dan pemikiran-pemikirannya.

Dalam pandangan Mochtar, sistem perdagangan yang tidak adil di Indonesia merupakan salah satu penyebab kemiskinan terutama di perdesaan, di samping karena ketertinggalan dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

Sistem perdagangan tidak adil karena sistem rantai distribusi yang tidak benar. Akibatnya, rakyat pedesaan harus membeli barang yang lebih mahal dibanding masyarakat perkotaan. Tapi sebaliknya, mereka yang umumnya memproduksi hasil bumi menerima harga jual yang jauh lebih rendah dari semestinya.

Kondisi itu, kata Mochtar, dapat diatasi dengan teknologi digital, lewat sistem perdagangan secara elektronik (e-commerce). Dalam hal ini, Indonesia harus mengacu pada konsep Alibaba, e-commerce raksasa Tiongkok, yang menyediakan tempat di dunia maya untuk bertemunya pembeli dan penjual secara langsung. Alibaba telah berhasil mengentaskan kemiskinan jutaan petani di Tiongkok, karena mereka mendapatkan harga yang wajar setelah berjualan lewat Alibaba.

Indonesia bisa menerapkan konsep itu, agar petani di desa dapat mendapat harga jual hasil bumi seperti harga di kota, sekaligus dapat membeli barang keperluan sehari-hari sama harganya dengan masyarakat kota. “Konsep inilah yang saya tawarkan kepada Menteri Perdagangan,” ucap Mochtar.

Ada empat syarat agar sistem e-commerce tersebut mampu mengentaskan kemiskinan di perdesaan. Pertama, kata Mochtar, infrastruktur telekomunikasi harus bagus. Kedua, didukung oleh sistem pembayaran secara elektronik (e-payment) yang kredibel. Syarat ketiga, adanya penjamin atau penengah jika terjadi sengketa antara pembeli dan penjual. Keempat, sistem logistiknya mendukung.

 



Sumber: Investor Daily