Franka Soeria Berupaya Menekan Sampah Fashion

Franka Soeria Berupaya Menekan Sampah Fashion
Franka Soeria. ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / WBP Minggu, 19 Mei 2019 | 08:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gaya hidup minim sampah bukan hanya terbatas pada mengurangi penggunaan plastik. Nyatanya, pakaian yang digunakan sehari-hari bisa menjadi limbah tekstil yang merusak bumi, jika menumpuk di lemari dan bersiap turun ke tempat pembuangan akhir (TPS).

Seorang modest fashion expert, Indonesia, Franka Soeria telah menyadari hal ini, di tengah geliat industri fashion dunia. Beragamnya tren dan mode busana membuat masyarakat ingin tampil eksis hingga melampai kebutuhan berbusana dalam sehari-hari.

Saat dijumpai Beritasatu.com beberapa waktu lalu, Franka Soeria ingin membawa pesan ini hingga ke masyarakat, dan pelaku industri fashion, termasuk desainer modest fashion di Indonesia. Hal ini penting, karena jika dibiarkan, budaya konsumtif akan mengakar lebih dalam. “Kenapa modest fashion jatuhnya jadi konsumtivisme banget. Di sini yang saya ingin tekankan modest fashion itu harus meaningful, berguna bagi banyak orang. Kita selama ini hanya berpikir untuk bersaing dan berkompetisi. Jadi tidak sehat,” terang Franka Soeria di kawasan Jakarta Pusat.

Memang usaha mencegah konsumerisme berbusana tidak semudah membalikan telapak tangan. Perempuan yang mendirikan pekan mode Modest Fashion Week di Istanbul, London dan Dubai, mengaku butuh komitmen dan waktu panjang.

“Saya akui memang sulit, melakukan hal yang baik melalui fashion. Semisal mengajak desainer membuat baju yang sustainable. Capek, dan akan ada banyak effort. Namun, we can do it and we will do it,” jelas Franka Soeria.

Meski berkecimpung di dunia fashion, Franka Soeria berusaha menahan nafsunya membeli busana baru di setiap kesempatan. Ia pun tak malu, meski banyak yang mencibirnya.

“Saya sengaja menggunakan busana yang sama di setiap kegiatan. Orang bicara kepada saya, “Kamu tidak punya baju lain ya?”. Namun inilah yang akan saya terus terapkan, bagaimana pakaian bisa dipakai terus menerus sesuai dengan fungsinya,” tutur Franka Soeria.

Franka Soeria juga mengajak para pengrajin untuk menggunakan pewarna alam yang lebih ramah lingkungan. Pasalnya, banyak industri busana yang menggunakan material kimia.

Melansir Instagram @NatGeoIndonesia, berdasarkan data yang didapat buku This is A Good Guide karya Marieke Eyskoot, sebanyak 50.000 ton pewarna kain dibuang ke sungai tanpa pengolahan. Adapun total emisi karbondioksida secara global, sebesar 10 persen disumbangkan industri fashion, dimana industri aviasi (penerbangan) hanya meyumbang 2 persen.



Sumber: BeritaSatu.com