Indonesia Ajak Dunia Perkuat Sistem Peringatan Dini Multibencana

Indonesia Ajak Dunia Perkuat Sistem Peringatan Dini Multibencana
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati (kedua dari kiri) menjadi pembicara utama dalam forum internasional Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), Second Multi-Hazard Early Warning Conference (MHEWC-II), di Jenewa, Swiss, 14 Mei 2019. ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Jumat, 17 Mei 2019 | 15:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mendapatkan kehormatan menjadi pembicara utama dalam forum internasional Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), Second Multi-Hazard Early Warning Conference (MHEWC-II), di Jenewa, Swiss.

Dwikorita mengajak pemerintah di seluruh dunia memperkuat sistem peringatan dini multibencana, melalui penerapan sistem yang terintegrasi antarlembaga dengan dukungan inovasi teknologi, tanpa mengabaikan kekuatan dan kearifan lokal.

Untuk menguatkan dan menjaga efektivitas peringatan dini multibencana ini, perlu adanya regulasi yang mengatur koordinasi, harmonisasi, dan sinergi peran, serta data integrasi antarlembaga atau pihak terkait.

“Indonesia belajar dari kejadian gempa bumi dan tsunami di Palu dan Selat Sunda, kejadian ini menunjukkan bahwa wilayah Indonesia memiliki karakteristik kegempaan baru yang jarang terjadi,” imbuh Dwikorita, dalam keterangan tertulisnya kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Tidak hanya itu, lanjut Dwikorita, Indonesia pun memiliki karakteristik cuaca dan iklim yang unik.

Tentunya, kata Dia, ini menjadi sebuah tantangan khususnya bagi pemerintah Indonesia, mengingat Indonesia berada di dalam lingkaran cincin api Pasifik yang terbentuk oleh gerak lempeng tektonik aktif.

“Cincin api Pasifik adalah zona berbentuk tapal kuda dan menjadi sabuk gempa paling aktif di dunia. Bukan hanya Indonesia, negara lain, seperti Jepang, Taiwan, dan Selandia Baru pun masuk dalam cincin api Pasifik tersebut,” terangnya.

Ledakan populasi yang semakin meningkat, kata dia, mengakibatkan tingginya kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, iklim ekstrem, bahkan gempa bumi dan tsunami.

“Untuk pengurangan dampak risiko bencana, kearifan lokal dan aspek sosial sangat dibutuhkan dalam menjaga efektivitas dan keberhasilan sistem peringatan multibencana, tersebut, " sambung Dwikorita.

Menurutnya, pada saat ini belum terbukti adanya teknologi yang mampu memberikan peringatan dini dalam waktu kurang dari 3 menit setelah gempa terjadi, seperti yang dibutuhkan untuk kejadian tsunami di Palu. Waktu datangnya tsunami Palu kurang lebih 2 menit setelah terjadi gempa, sebelum peringatan dini diberikan pada menit kelima.

Berdasarkan evaluasi dari berbagai kejadian tsunami, terbukti belum ada sistem atau teknologi yang sempurna dalam memberikan peringatan dini, karena hampir selalu ada hal-hal yang terjadi di luar perkiraan, pada saat kejadian bencana di berbagai negara.

Dengan berbagai keterbatasan yang masih ada, maka Dwikorita menegaskan, kearifan lokal dan teknologi sederhana yang lebih mudah dipahami dan dioperasikan oleh masyarakat lokal, tetap harus diterapkan/diintegrasikan dalam sistem peringatan dini berbasis teknologi maju.

"Melalui pertemuan ini, sebagai tindak lanjut Sendai Framework, dapat dijadikan langkah bagi negara-negara internasional untuk melakukan pengurangan dampak risiko bencana alam melalui pengembangan sistem peringatan dini multibencana," ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan