Kemarau Lebih Kering, Waspadai Karhutla

Kemarau Lebih Kering, Waspadai Karhutla
Sejumlah personel pemadam kebakaran dari PT Sumatera Riang Lestari melakukan proses pemadaman kebakaran hutan yang berbatasan dengan konsesi perusahaan di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (27/2/2019). Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pulau Rupat sudah berlangsung sebulan sejak mulai membara pada 28 Januari 2019, dan tim pemadam gabungan dari Satgas Darurat Karhutla Riau dibantu perusahaan kini mulai bisa mengendalikan kebakaran di daerah tersebut. ( Foto: ANTARA/FB Anggoro )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Senin, 1 April 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meski saat ini masih masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus diantisipasi dan ditingkatkan, khususnya di wilayah yang sudah minim curah hujan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan, awal musim kemarau 2019 di Indonesia diperkirakan terjadi pada April-Mei. Sementara itu, di masa transisi dari musim penghujan menuju kemarau ditandai dengan fenomena musim pancaroba. Ciri-cirinya antara lain adalah terjadi perubahan cuaca ekstrem dari terik menjadi hujan lebat, angin kencang, hingga suhu yang berubah-ubah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengimbau agar masyarakat Indonesia lebih meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan akan memasuki puncaknya pada bulan Agustus.

"Terutama di wilayah yang rawan dengan kebakaran lahan seperti di Kalimantan Timur dan sebagian wilayah Sumatera, khususnya Riau," katanya akhir pekan lalu.

Dalam keterangan tertulisnya, ia menyebut, meski musim kemarau diperkirakan masuk pada April-Mei ini, tetapi belum semua wilayah mengalami perubahan musim. Sebaliknya, ada juga wilayah yang sudah mengalami dampak kekeringan.

BNPB mengimbau agar warga mempersiapkan diri untuk menghadapi musim kemarau tersebut, khususnya Riau, dan wilayah-wilayah lain yang rawan dengan karhutla.

Hingga saat ini, wilayah Riau menjadi daerah yang terus dipantau oleh BNPB dan lembaga lain terutama dalam kaitan kebakaran hutan dan lahan yang terus meningkat. Data KLHK menyebut, luas karhutla di Riau mencapai 2.778,19 hektare (ha) dari 1 Januari-28 Maret 2019.

Kasus terbesar dalam karhutla tersebut adalah meluasnya kebakaran lahan gambut yang berada di 12 kota/kabupaten di Provinsi Riau dengan wilayah terluas ada di Bengkalis, dengan total area terbakar hingga 1.277,8 ha.

Dalam rangka tanggap darurat dan guna menanggulangi bencana karhutla tersebut, BNPB bersama sejumlah lembaga dan beberapa pihak swasta telah mengirimkan sedikitnya 12 helikopter. Masing-masing tiga dari BNPB, tiga milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dua dari TNI, satu dari Polri dan tiga milik swasta, serta satu pesawat khusus hujan buatan. Kegiatan pemadaman udara (water bombing) sejak Januari hingga 27 Maret 2019 dilakukan sebanyak 4.383 kali dengan air yang dijatuhkan sebanyak 14,5 juta liter air.

Sedangkan untuk hujan buatan dilakukan 37 kali sorti penerbangan dengan menyemai 29.200 kilogram garam di Kabupaten Bengkalis, Siak, Pelalawan, Kepulauan Meranti dan Kota Dumai (Riau).

Kendati hujan buatan telah dibuat dan pemadaman karhutla dari darat dan udara sudah dilakukan, namun titik panas (hot spot) masih terpantau. Hal ini dikarenakan ketebalan lahan gambut sehingga meski telah dilakukan pemadaman, namun titik api muncul kembali.

Selain itu, sulitnya sumber air, terik matahari, dan kencangnya angin juga mempengaruhi munculnya titik-titik api pascapemadaman.



Sumber: Suara Pembaruan