Cuaca Terik karena Equinox

Cuaca Terik karena Equinox
Warga mengambil air dari sumur buatan yang digali di dasar sungai di Desa Ketro, Grobogan, Jawa Tengah, 25 September 2018. Sejak lima bulan terakhir warga mengandalkan pasokan air dari tempat tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan belum mendapatkan bantuan air bersih dari pemda setempat. ( Foto: Antara / Yusuf Nugroho )
Ari Supriyanti Rikin / JAS Rabu, 10 Oktober 2018 | 11:20 WIB

Jakarta - Cuaca panas terik yang dirasakan beberapa hari ini diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir pekan. Selain masih periode musim kemarau, kondisi equinox membuat jarak radiasi cahaya matahari dekat dengan belahan bumi Indonesia.

Equinox adalah salah satu fenomena astronomi saat gerak semu matahari melintasi tepat diatas garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September. Hal ini disebabkan oleh pergerakan bumi pada porosnya dan peredaran bumi mengelilingi matahari.

Saat fenomena ini berlangsung penyinaran matahari hampir relatif sama, termasuk wilayah yang berada di subtropis bagian utara maupun selatan.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, saat ini musim kemarau masih berlangsung sehingga tutupan awan berkurang. Pada kondisi itu radiasi matahari cenderung lebih besar ke permukaan bumi dan suhu permukaan bumi pun meningkat.

Selain itu lanjutnya, memang ada gejala El Nino lemah. Kondisi ini diperkirakan terjadi pada Oktober hingga awal tahun. El Nino adalah suatu keadaan yang cenderung kering dan minim hujan.

"Dengan kondisi seperti itu, musim hujan akan mundur dan diperkirakan akhir Oktober atau awal November merupakan awal musim hujan," katanya ketika dihubungi Suara Pembaruan, di Jakarta, Rabu (10/10).

Prabowo menjelaskan, equinox di Jakarta berada di 6° lintang selatan. Equinox terjadi pada 23 September, kemudian Jakarta akan mengalami fenomena itu pada 9 Oktober. Dengan pergeseran matahari seperempat derajat per hari maka pada 9 Oktober posisi matahari tepat di atas Jakarta.

Dengan posisi itu, menyebabkan jarak radiasi matahari dengan bumi terdekat. Konsekuensinya suhu permukaan bumi lebih lebih panas. Ditambah lagi, kondisi awan yang sedikit, potensi uap air berkurang, suhu bumi pun akan terasa lebih panas.

BMKG mencatat, pada 9 Oktober 2018, suhu di Jatiwangi, Cirebon arah selatan mencapai 37,4° Celcius, sedangkan di Jakarta 34,8 °Celcius saat posisi matahari tepat di atas.

Dampak dari pergeseran matahari ini terjadi empat hari sebelum dan empat hari sesudah. Artinya setelah 9 Oktober kondisi panas terik dan suhu udara tinggi masih akan terjadi.

Sejauh ini, lanjutnya, belum ada potensi siklon tropis. Sejumlah siklon yang sebelumnya terjadi berada di belahan bumi utara dan pengaruhnya tidak terlalu signifikan.

Untuk jumlah hari tanpa hujan, dari monitoring BMKG, wilayah yang paling tinggi angkanya adalah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat mencapai lebih dari 100 hari tanpa hujan berturut-turut.

Untuk wilayah Indonesia Timur pola curah hujan memang berbeda dengan wilayah Indonesia Barat. Secara geografis wilayah ini dekat dengan Australia, aliran udara yang datang dari Australia relatif kering dan tidak membawa uap air.

"Musim hujan di NTT dan NTB diperkirakan terjadi pada Desember," ucapnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE