Asia Perlu Kebersamaan Maksimalkan Manfaat Fintech

Asia Perlu Kebersamaan Maksimalkan Manfaat Fintech
Mirza Adityaswara. ( Foto: Antara )
Nasori / NAS Jumat, 12 Oktober 2018 | 17:56 WIB

Nusa Dua, Bali — Para pembuat kebijakan di kawasan Asia perlu memperkuat kerja sama guna memanfaatkan potensi teknologi keuangan baru bagi pertumbuhan inklusif. Pada saat bersamaan, mereka pun perlu melakukan kolaborasi guna memastikan bahwa kawasan ini mampu merespons dengan lebih baik tantangan yang ditimbulkan ekonomi digital atau teknologi finansial (fintech).

Apalagi, dengan segala kondisi yang dimiliki, Asia, termasuk Indonesia, dinilai sebagai tempat ideal bagi teknologi finansial untuk berkembang. Indonesia misalnya, memiliki lebih dari seperempat juta masyarakat yang tersebar di ribuan pulau selalu siap untuk terintegrasi dengan teknologi baru. Struktur demografi muda yang dimiliki juga bersemangat untuk memasuki dunia digital masa depan.

“Lebih dari 50 juta UMKM di Indonesia pun tak sabar menanti untuk terlibat dalam e-commerce. Selain itu, masyarakat barunya didorong oleh kelompok kelas menengah yang dinamis dan demokratis, yang memandang ekonomi digital sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, seperti layaknya evolusi,” ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara di Badung, Bali, Kamis (11/10).

Ia mengatakan itu saat memberikan pidato pada Panel Dialog Kebijakan Tingkat Tinggi Mengenai Kerja Sama Kawasan untuk Mendukung Inovasi, Inklusi, dan Stabilitas di Asia (High-Level Policy Dialogue on Regional Cooperation to Support Innovation, Inclusion, and Stability in Asia), yang diadakan oleh Asian Development Bank (ADB), Bank Indonesia, dan Kantor Riset Makroekonomi Asean+3 (Asean+3 Macroeconomic Research Office-AMRO). Acara ini masih dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua

Pada acara dialog itu mengemukan seputar peran teknologi baru seperti mobile banking, big data, dan jaringan transfer peer-to-peer yang telah memperluas jangkauan layanan keuangan kepada orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank atau tidak terjangkau bank, sehingga meningkatkan pendapatan dan standar hidup.

Sementara di sisi lain, fintech juga membawa risiko penipuan siber, keamanan data, dan pembobolan privasi. Disintermediasi layanan fintech atau konsentrasi layanan di antara beberapa penyedia juga dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan.

“Teknologi keuangan baru yang menyebar dengan begitu cepat adalah teknologi yang sangat menjanjikan untuk inklusi keuangan,” ujar Presiden Asian Development Bank (ADB) Takehiko Nakao, salah satu panelis. Oleh karena itu, perlu didorong lingkungan yang memungkinkan teknologinya berkembang serta memperkuat kerja sama kawasan guna membangun standar peraturan dan sistem pengawasan yang harmonis termasuk untuk mencegah pencucian uang internasional, pendanaan teroris, dan kejahatan siber..

“Teknologi adalah pemberdaya yang menghubungkan perekonomian dan sistem keuangan kita, yang tak hanya menyebarkan manfaat, tetapi juga risiko, melintasi batas negara. Mengingat pesatnya pertumbuhan perekonomian di Asia Timur, para pembuat kebijakan perlu memahami dan mengelola dampak teknologi di dalam sistem keuangan kita demi mempertahankan stabilitas keuangan,” kata Direktur AMRO Junhong Chang.

Meskipun Asia mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir, sektor keuangan masih tertinggal di sejumlah negara. Orang dewasa di kawasan Asia yang sudah memiliki rekening bank tercatat kurang dari 27%, jauh di bawah rata-rata global sebesar 38%. Sementara itu, hanya 84% dari perusahaan di kawasan ini sudah memiliki rekening giro atau tabungan, setara dengan Afrika tetapi ketinggalan dari Amerika Latin yang mencapai 89% dan 92% di emerging Europe (kawasan Eropa Tengah dan Timur).



Sumber: Investor Daily
CLOSE