Rapid Test Produksi Kimia Farma Deteksi DBD Lebih Dini

Rapid Test Produksi Kimia Farma Deteksi DBD Lebih Dini
Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengunjungi pabrik rapid test milik Kimia Farma di Denpasar, Bali, 23 April 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Manafe )
Dina Manafe / HA Rabu, 24 April 2019 | 01:13 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengunjungi pabrik rapid test milik Kimia Farma di Denpasar, Bali, Selasa (23/4/2019). Menkes datang bersama rombongan Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat bersama 40-an wartawan dari Jakarta dalam rangka kunjungan lapangan tematik media massa di Denpasar, Bali, selama 23-26 April.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi, PT Kimia Farma (Persero) Tbk atau Kimia Farma menjalankan bidang usaha healthcare (kesehatan) dari hulu hingga ke hilir.

Lini bisnis yang dimiliki mulai dari manufaktur, riset dan pengembangan, pemasaran, distribusi dan perdagangan hingga ritel. Salah satu fasilitas produksi yang mendukung kegiatan manufaktur Kimia Farma adalah pabrik rapid test yang berlokasi di Jalan Cargo Taman II No. 9, Denpasar, Bali.

Pabrik ini dapat memproduksi alat diagnostik rapid test skala industri di Indonesia. Rapid test digunakan untuk pemeriksaan atau skrining medis awal dengan menggunakan peralatan yang sederhana serta memberikan hasil dalam waktu yang cepat.

Menkes mengatakan, ini adalah salah satu kemajuan dalam bidang teknologi kesehatan di dalam negeri. Diharapkan dengan diproduksi di dalam negeri, kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan harga yang lebih efisien.

“Saya bangga karena ini adalah karya anak bangsa sendiri, ilmu yang yang datang dari anak bangsa sendiri. Tentu sudah dengan metode penelitian yang sahih baru menghasilkan produk ini,” kata Menkes kepada wartawan usai melihat dari dekat proses produksi rapid test tersebut.

Menurut Menkes, rapid test memungkinkan diagnosa untuk beberapa penyakit, seperti malaria, hepatitis B, sifilis, dan demam berdarah dengue (DBD) secara lebih dini. Dulu, kata Menkes, gejala penyakit DBD spesifik, sehingga mudah untuk dilakukan diagnosa. Namun sekarang DBD tidak lagi menunjukkan gejala spesifik, sehingga sering diabaikan. Pada sebagian kasus tidak tertolong karena terlambat terdiagnosa. Penderita baru ke rumah sakit ketika trombositnya turun, namun terlambat karena darah sudah merembes ke organ lain seperti kanker.

“Seringkali karena panasnya sudah turun kita anggap demam sudah hilang. Tetapi ternyata trombositnya turun baru ke rumah sakit. Namun sudah terlambat karena darahnya sudah merembes ke mana-mana, ke otak, ke paru-paru, dan inilah yang sebabkan kematian menjadi tinggi,” kata Menkes.

Dengan adanya rapid test ini, lanjut Menkes, dokter akan lebih cepat melakukan pemeriksaan dan intervensi lebih lanjut.

Di kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Bisnis Kimia Farma, Pujianto, mengatakan, fasilitas produksi rapid test ini merupakan wujud komitmen kemandirian Kimia Farma yang diharapkan dapat mengembangkan produk lokal Indonesia serta sebagai upaya Perseroan menjadi perusahaan healthcare yang memberikan akses produk dan layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Produk rapid test yang telah berhasil diproduksi Kimia Farma dan mendapat izin edar, yaitu tes kehamilan, tes Hepatitis B, Sifilis, malaria, dan DBD. Sementara itu, test kit yang saat ini masih dalam pengembangan, ialah HIV 1 dan 2, tes narkoba, daln lain-lain.

Saat ini, Kimia Farma juga sedang melakukan pengembangan bahan baku test kit untuk antibodi monoklonal lokal bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk Dengue NS1 dan Universitas Andalas untuk antibodi monoklonal lainnya beserta reagensia.



Sumber: Suara Pembaruan