Perokok Anak Capai 15,8 Juta di 2030, Pemerintah Didesak Ratifikasi FCTC

Perokok Anak Capai 15,8 Juta di 2030, Pemerintah Didesak Ratifikasi FCTC
Kampanye Bahaya Rokok terhadap Anak-anak ( Foto: Istimewa )
Dina Manafe / IDS Kamis, 16 Mei 2019 | 12:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Indonesia dinilai belum memiliki regulasi maupun upaya pengendalian rokok yang komprehensif. Indonesia memang sudah punya regulasi nasional yang khusus untuk mengendalikan produk tembakau, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012. Namun regulasi itu dinilai tidak komprehensif, masih ramah terhadap industri rokok, dan lemah dalam penegakan hukumnya.

Karena itu, jaringan pengendalian tembakau Indonesia, yang terdiri dari Komnas Pengendalian Tembakau, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau, No Tobacco Community, Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI), dan belasan organisasi kemasyarakatan lainnya mendesak presiden untuk menghentikan eksploitasi industri rokok. Desakan itu dikemukakan dalam temu media “Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019” di Jakarta, Rabu (15/5/2019)

Mewakili jaringan pengendalian tembakau, Renny Nurhasana dari PKJS UI, mengatakan, pemerintah selama ini kurang tuntas melaksanakan upaya pengendalian tembakau dengan menyeluruh. Penerapan kebijakan yang lemah berbanding lurus dengan kejayaan industri rokok yang semakin kuat mencengkeram kehidupan masyarakat, terutama kelompok rentan, seperti anak, perempuan dan penduduk miskin.

Melonjaknya prevalensi perokok anak di tahun 2018 adalah cerminan buruknya upaya pengendalian tembakau di Indonesia. Eksploitasi industri rokok yang masif dan terus menerus pada anak-anak terbukti sukses besar. Menurut Tobacco Atlas, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok anak terbesar di dunia. Hingga 2016 jumlahnya mencapai 8,8%, dan meningkat menjadi 9,1% di 2018 atau sebanyak 7,8 juta anak usia 10-15 tahun menurut data Riskesdas 2018.

Sementara menurut data Global Youth Tobacco Survey (GYTS), 2 dari 5 anak Indonesia usia 10-15 tahun merokok sebanyak 13 batang per hari atau 4.745 batang setahun. Jika tidak ada upaya serius, menurut Bappenas, pada tahun 2030 jumlah perokok anak diprediksi mencapai 15, 8 juta atau 15,91%.

Selain itu, prevalensi perokok pria di Indonesia masih terus yang tertinggi di dunia (62,9%) dan prevalensi perokok nasional stagnan sebesar 33,8%. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak ketiga di seluruh dunia.

“Pemerintah mendatang harus belajar dari kesalahan pemerintahan sebelumnya yang telah gagal melindungi masyarakat dari eksploitasi industri rokok. Sudah saatnya pemerintah tegas dan berani menghentikan ini semua,” kata Renny

Mengapa FCTC masih terus didesak untuk diratifikasi pemerintah? Karena pengendalian rokok di Indonesia masih bermasalah. Misalnya, harga rokok yang murah dan terjangkau karena cukainya sangat rendah dan penerapan kebijakan kawasan tanpa rokok (KTR) yang lemah. Baru beberapa daerah sudah menerapkan kebijakan KTR, dan itu pun sering dilanggar. Tidak ada larangan total iklan, promosi, dan sponsor rokok. Informasi bahaya merokok kepada masyarakat juga minim.



Sumber: Suara Pembaruan