Ramadan Momentum Tingkatkan Empati Terhadap Sesama

Ramadan Momentum Tingkatkan Empati Terhadap Sesama
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi. ( Foto: Istimewa )
Maria Fatima Bona / FER Minggu, 5 Mei 2019 | 18:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa’adi, mengajak umat Islam agar memasuki bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Dalam hal ini, umat harus menghindari perbuatan yang dapat mendatangkan kemudaratan bagi diri sendiri dan orang lain.

Zainut menuturkan, Ramadan harus dimaknai sebagai bulan yang penuh rahmat dan kasih sayang. Berpuasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan, minum dan semua hal yang dapat membatalkannya. Namun, berpuasa diharapkan dapat melatih kepekaan terhadap kesulitan orang lain, melatih empati kepada orang yang belum beruntung, keberpihakan kepada orang yang teraniaya, menghargai nilai-nilai kemanusian dan menjauhkan diri dari perbuatan zalim, aniaya, fitnah, hoax, ujaran kebencian dan bentuk kejahatan lainnya.

"Berpuasa merupakan implementasi dari nilai-nilai Islam tentang perdamaian, kasih sayang, dan keadilan. Oleh karena itu, MUI mendorong agar umat Islam mengedepankan toleransi dan semangat persaudaraan. Meminta umat Islam untuk menghargai perbedaan dan meninggalkan sikap egoisme kelompok yang berlebihan dalam kehidupan sosial dan keagamaan agar tidak terjebak pada sikap ekslusivisme yang dapat melahirkan pertentangan, perselisihan dan perpecahan," ujar Zainut dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Minggu (5/5/2019).

Selain itu, umat juga diajak untuk mengembangkan semangat persaudaraan, baik persaudaraan Islam maupun persaudaraan kebangsaan. Hal ini penting khususnya setelah berakhirnya masa pencoblosan agar seluruh masyarakat kembali merajut tali silaturahmi dan persaudaraan hakiki yang selama ini tercabik-cabik, terkotak-kotak, dan terpecah belah karena perbedaan pilihan politik sehingga sering perang di media sosial maupun dalam kehidupan keseharian.

"Pada momentum bulan Ramadan yang mulia ini, saatnya kita mengakhiri semua silang sengketa, saling tuduh, fitnah dan saling olok dengan penyebutan 'kampret' dan 'cebong'. Marilah kita kembali menjadi manusia yang mulia karena kita adalah saudara," ujar Zainut.

Pada kesempatan sama, Zainut juga meminta lembaga penyiaran meningkatkan kepatuhannya pada Undang-undang (UU) Penyiaran serta Pedoman Perilaku dan Standard Program Siaran yang dikeluarkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

MUI mengimbau stasiun televisi selama bulan Ramadan tidak mengganggu dengan siaran-siaran yang kurang baik seperti tayangan yang mengandung kekerasan, perilaku seks menyimpang, hal-hal gaib, paranormal, klenik dan candaan yang berlebihan. Selain itu, Zainut juga meminta kepada para penyelenggara jasa hiburan malam untuk tutup selama bulan Ramadan.

"Kepada para pengusaha jasa restoran dan warung makan untuk mengatur waktu operasionalnya dan atau membuka usahanya dengan tidak secara terbuka, atraktif dan terang-terangan," tegas Zainut.



Sumber: BeritaSatu.com