Pengacara Duga Ani Hasibuan Jadi Target, Polisi: Kami Profesional

Pengacara Duga Ani Hasibuan Jadi Target, Polisi: Kami Profesional
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Prabowo Argo Yuwono. ( Foto: Suara Pembaruan/Mikael Niman )
Bayu Marhaenjati / JAS Jumat, 17 Mei 2019 | 19:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polda Metro Jaya membantah kalau penyidik kejar tayang dalam menangani proses hukum dokter Ani Hasibuan, terkait kasus dugaan tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian dan atau menyiarkan berita bohong. Termasuk, menjadikannya sebagai target.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya mengatakan, penyidik bekerja secara profesional dalam menangani setiap kasus.

"Polisi bertugas secara profesional. Tidak ada target apapun. Kita melakukan penyelidikan berdasarkan laporan yang masuk," ujar Argo, Jumat (17/5/2019).

Dikatakan Argo, apabila terlapor merasa keberatan, silakan diklarifikasi. Setiap terlapor diberikan kesempatan untuk mengklarifikasi laporan.

"Saat ini masih tahap pemeriksaan saksi terlapor. Jika saksi keberatan dengan tuduhannya silakan klarifikasi. Klarifikasi itu kan waktu yang digunakan untuk membela diri dengan bukti-bukti atau dokumen yang ada," ungkap Argo.

Sebelumnya diberitakan, tim kuasa hukum Ani Hasibuan, menilai proses hukuman terhadap kliennya sangat cepat sehingga seperti kejar tayang. Pihak pengacara juga menduga kalau kliennya sudah menjadi target.

"Kami duga ini ada kejar tayang karena sangat cepat itu. Tidak kurang seminggu (pasca-laporan) proses ini dikejar. Kami menduga ibu Ani jadi target," kata pengacara Ani, Amin Fahrudin.

Diketahui, penyidik memanggil Ani untuk didengarkan keterangannya sebagai saksi kasus dugaan tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian dan atau menyiarkan berita bohong, di Polda Metro Jaya, hari ini. Namun, Ani tidak bisa hadir karena sedang sakit.

Berdasarkan surat panggilan nomor: S/Pgl/1158/V/RES.2.5/2019/Dit Reskrimsus, Ani diminta hadir sebagai saksi terkait dengan kasus dugaan tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dan/atau menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, sebagaimana konten yang terdapat di portal berita tamshnews.com, pada Minggu, 12 Mei 2019.

Portal tamshnews.com menulis judul, dr. Ani Hasibuan SpS: Pembantaian Pemilu, Gugurnya 573 KPPS Ditemukan Senyawa Kimia Pemusnah Massal. Media dengan jargon "The Reality News Leading, Media NKRI", itu juga memasang foto Ani dalam pemberitaannya.

Sementara itu, pemanggilan Ani berkaitan dengan laporan yang dibuat Carolus Andre Yulika dengan nomor LP/2929/V/2019/PMJ/Dit.Reskrimsus, tertanggal 12 Mei 2019, terkait Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 35 Jo Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan/atau Pasal 14 dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana Jo Pasal 55 Ayat (1) Jo Pasal 56 KUHP.



Sumber: BeritaSatu.com