Kasus Suap Dana Hibah, Sekjen KONI Dituntut 4 Tahun Penjara

Kasus Suap Dana Hibah, Sekjen KONI Dituntut 4 Tahun Penjara
Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy (tengah) berbincang dengan kuasa hukumnya seusai menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2019). Ending didakwa menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana agar membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kemenpora yang akan diberikan kepada KONI. ( Foto: ANTARA FOTO / Sigid Kurniawan )
Fana Suparman / JAS Jumat, 10 Mei 2019 | 09:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (Sekjen KONI) Ending Fuad Hamidy untuk dihukum empat tahun pidana penjara dan denda Rp 150 juta subsider tiga bulan kurungan.

Jaksa meyakini Ending terbukti bersalah menyuap pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hiba‎h dari pemerintah melalui Kempora kepada KONI.

"Menyatakan terdakwa Ending Fuad Hamidy terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak pidana korupsi
secara bersama-sama dan berlanjut," kata jaksa Ronald Worotikan saat membacakan surat tuntutan terhadap Ending di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Selain Sekjen KONI, Jaksa KPK juga menuntut Bendahara KONI Johny E Awuy atas perkara yang sama. Jaksa menuntut Johny untuk dihukum 2 tahun pidana penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama dua tahun serta pidana denda Rp 100 juta subsider tiga bulan kurungan," kata Ronald.

Dalam menjatuhkan tuntutan ini, Jaksa mempertimbangkan sejumlah hal. Untuk hal yang memberatkan, Jaksa menilai perbuatan Ending dan Johny tidak mendukung pemerintah yang sedang giat-giatnya melakukan pemberantasan korupsi.
"Untuk hal yang meringankan, terdakwa berlaku sopan dalam persidangan, belum pernah dihukum dan mempunyai tanggungan dalam keluarga," kata Jaksa.

Jaksa meyakini, Ending Fuad Hamidy dan Jhony E Awuy terbukti menyuap Deputi IV Kempora Mulyana berupa uang Rp 400 juta, satu unit mobil Toyota Fortuner VRZ TRD, kartu ATM debit BNI dengan saldo Rp 100 juta dan satu unit ponsel Samsung Galaxy Note 9.

Selain itu, Ending bersama Johny juga memberikan uang Rp 215 juta kepada pejabat pembuat komitmen (PPK) Kempora Adhi Purnomo dan staf Kempora Eko Triyanta.

Suap berupa uang dan barang itu diberikan supaya Mulyana dan dua orang lainnya membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kempora RI yang akan diberikan kepada KONI.

Pemberian itu dilakukan agar Mulyana memuluskan pencairan Proposal Bantuan Dana Hibah kepada Kemenpora RI dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga pada ajang Asian Games 2018 dan Asian Paragames 2018. Dalam proposal itu KONI mengajukan dana Rp 51,52 miliar.

Selain itu, pemberian tersebut juga dilakukan guna memuluskan pencairan usulan kegiatan pendampingan dan pengawasan program SEA Games 2019 tahun anggaran 2018.



Sumber: Suara Pembaruan