Siapa Menebar Suap Hartono?

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/articlelanding.php

Line Number: 21

Backtrace:

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/views/articlelanding.php
Line: 21
Function: _error_handler

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/controllers/Article.php
Line: 18
Function: view

File: /home/user/beta.beritasatu.com/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/articlelanding.php

Line Number: 21

Backtrace:

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/views/articlelanding.php
Line: 21
Function: _error_handler

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/controllers/Article.php
Line: 18
Function: view

File: /home/user/beta.beritasatu.com/index.php
Line: 315
Function: require_once

" class="hz_appear" />

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/articlelanding.php

Line Number: 26

Backtrace:

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/views/articlelanding.php
Line: 26
Function: _error_handler

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/controllers/Article.php
Line: 18
Function: view

File: /home/user/beta.beritasatu.com/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: views/articlelanding.php

Line Number: 26

Backtrace:

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/views/articlelanding.php
Line: 26
Function: _error_handler

File: /home/user/beta.beritasatu.com/application/controllers/Article.php
Line: 18
Function: view

File: /home/user/beta.beritasatu.com/index.php
Line: 315
Function: require_once

Senin, 5 Juli 2010 WIB

Meski sudah berada Taipei Taiwan yang berjarak ribuan kilometer dari Jakarta , nama Hartono Tanoesoedibjo terus disebut banyak orang di Jakarta.

Bukan terutama karena dia ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi Sisminbakum, melainkan karena kemudian dia juga disebut-sebut  membayar US$ 3 juta ke Jaksa Agung Hendarman Supandji.

Hartono Tanoe adalah kakak Harry Tanoesoedibjo (bukan adik seperti yang ditulis beritasatu.com sebelumnya). Dia adalah kuasa pemegang saham PT Sarana Rekatama Dinamika, perusahaan yang menjadi mitra Departemen Hukum dan HAM (sekarang Kementerian Hukum dan HAM) dalam proyek Sisminbakum. Bersama mantan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendara, Hartono Tanoe ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam Sisminbakum sejak 25 Juni 2010.
 
Namun sehari sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Hartono Tanoe sudah kabur ke Taipei. Dia menumpang pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan CI 680, melalui Bandara Soekarno-Hatta sehabis subuh pukul 05.04, 24 Juni 2010. Siangnya, tim Kejaksaan Agung baru menggelar rapat soal penetapan Hartono Tanoe sebagai tersangka.
 
Indonesia Corruption Watch  menduga ada orang dalam Kejaksaan Agung yang membocorkan informasi sehingga Hartono Tanoe bisa kabur  pergi ke Taiwan sehari sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Namun menurut Wakil Jaksa Agung Darmono,  soal kaburnya Hartono Tanoe ke Taiwan itu hanya kebetulan, dan Kejaksaan Agung akan memanggil ulang.
 
Memberikan keterangan kepada wartawan di Kejaksaan Agung, Kamis pekan lalu, Hotman Paris Hutapea, pengacara Hartono Tanoe mengatakan, Hartono keluar negeri sejak 10 Juni 2010 untuk urusan keluarga dan keperluan berobat. Tak lupa Hotman menjelaskan, kliennya meminta penundaan pemeriksaan sampai satu atau dua pekan ke depan. Jika keterangan Hotman bisa dipercaya, itu berarti antara tanggal 7-8 Juli mendatang, Hartono Tanoe akan datang ke Kejaksaan Agung untuk diperiksa.
 
Lalu tentang isu suap US$ 3 juta dari Hartono Tanoe kepada Hendarman, menurut Yusron Ihza Mahendra (adik Yusril Ihza Mahendra) muncul sebelum enam anggota Komisi III DPR bertemu dengan Hendarman dan dimanfaatkan oleh enam anggota DPR itu untuk menekan Hendarman.
 
Enam anggota Komisi III yang mendatangi Hendarman di kantornya, sekitar dua pekan sebelum masa reses DPR 18 Juni 2010 itu adalah Ahmad Yani dari PPP, Ahmad Rofai dari PAN, Bambang Soesatyo dari Partai Golkar, Desmon J Mahesa dari Partai Gerindra, Herman Heri dari PDI-P,  dan Syarifuddin Suding dari Partai Hanura.
 
“Saya enggak mau dikira menyebar fitnah, kalau salah payah. Tanya  saja ke Desmon J Mahesa yang ngomong ke radio. Saya mau menuntut, tapi kalau salah ini bisa gawat. Urusannya bisa nyawa,” kata Yusril kepada wartawan beritasatu.com.
 
Lalu Desmon yang disebut-sebut oleh Yusril itu mengaku, tidak tahu kenapa bisa dituduh menyebarkan isu tersebut. “Bukan, bukan dari saya itu, saya sendiri malah tidak tahu dari mana itu bisa beredar,” kata Desmond tadi malam.
 
Bantahan yang lebih kurang sama juga disampaikan Bambang Soesatyo dan Ahmad Yani.  
 
Apa yang sebetulnya terjadi dalam pertemuan antara enam anggota DPR dan Hendarman itu?
 
Darmono mengatakan hanya membahas soal kemitraan antarlembaga.  Ahmad Yani dan Desmon mengaku, tidak ada yang khusus yang dibahas apalagi menekan Hendarman dalam kasus Sisminbakum. Kalau ada pembicaraan soal Sisminbakum, Desmon mengistilahkan sebagai sesuatu yang tidak disengaja karena  Yohanes Waworuntu, pernah mengadu ke Komisi III mengenai penanganan kasus tersebut.   
 
Yohanes adalah Direktur PT Sarana Rekatama Dinamika, salah satu terpidana dalam kasus Sisminbakum yang divonis penjara lima tahun, dan kini berusaha mencari perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, dan meminta Komisi Yudisial memeriksa para hakim di Mahkamah Agung yang memperberat hukumannya menjadi lima tahun.
 
“Dari keterangan Yohanes itulah kita ingin tahu bagaimana perkembangan (kasus Sisminbakum) kok Hartono Tanoe sudah berkali- kali dipanggil tapi tidak datang- datang. Jadi tidak fokus. Tidak fokus juga menyinggung mengenai Yusril,” kata Desmon.
 
Kata Ahmad Yani, Hendarman kemudian menjelaskan akan ada dua tersangka lagi dalam kasus Sisminbakum yaitu Hartono Tanoe dan Yusril. Tapi benarkah?
 
Bambang mengatakan, saat bertemu dengan Hendarman, enam anggota Komisi III bukan saja meminta melainkan juga mendesak Kejaksaan Agung menuntaskan kasus Sisminbakum.  Alasannya,  Komisi III melihat ada perlakuan khusus dari Kejaksaan Agung terhadap kasus Sisminbakum.
 
Bambang tidak menjelaskan terperinci, apa yang disebutnya sebagai perlakuan khusus itu.  Namun menurut Malam Sambat Kaban, kolega Yusril di Partai Bulan Bintang, Hendarman sebelumnya pernah mengakui kasus Sisminbakum adalah sebuah kebijakan dan karena itu tidak bisa diadili.
 
Lalu bagaimana dengan  isu suap US$ 3 juta dari Hartono Tanoe kepada Hendarman itu?
 
Ahmad Yani  bercerita asal-usul uang suap US$ 3 juta itu justru disampaikan oleh Hendarman ketika menerima enam anggota Komisi III.  “Hendarman menceritakan soal isu suap itu dan membantah menerimanya. Kata beliau, kalau dia terima uang, mana mungkin Hartono ditetapkan sebagai tersangka," kata Ahmad Yani.
 
Dalam pertemuan itu juga terungkap isu bahwa Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi juga menerima uang dari Hartono Tanoe sebesar US$ 10 juta. " Iya, diceritakan juga isu-isu itu. Tapi kita masih menganggap itu fitnah," kata Ahmad Yani.
 
Hendarman belum menjawab permintaan konfirmasi yang dikirimkan oleh wartawan beritasatu.com. 
Sumber: -