Julian Noor

Cita-cita Harus Diperjuangkan

Cita-cita Harus Diperjuangkan
Julian Noor. ( Foto: Istimewa )
Nida Sahara / AB Senin, 13 Agustus 2018 | 12:15 WIB

Sebuah keinginan atau cita-cita tak bisa direngkuh sambil ongkang-ongkang kaki, duduk manis, dan berpangku tangan. Tak bisa pula diraih hanya dengan mengharapkan durian runtuh. Segalanya harus diperjuangkan. Semakin tinggi keinginan atau cita-cita, semakin berat perjuangan untuk mendapatkannya.

Begitulah Julian Noor menapaki perjalanan kariernya. Bagi chief executive officer (CEO) PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) ini, perjuangan dan kerja keras memiliki garis vertikal dengan keinginan dan cita-cita.

“Saya dibesarkan oleh keluarga yang sangat sederhana. Orangtua saya menanamkan prinsip bahwa untuk mendapatkan suatu keinginan, saya harus memperjuangakannya, saya harus mendapatkannya melalui kerja keras,” ujar Julian Noor di Jakarta, baru-baru ini.

Namun, pria kelahiran Banjarmasin, 20 Juli 1961, itu bukan tipe pekerja keras yang ingin menikmati sendiri seluruh hasil jerih payahnya. “Saya ingin memberikan manfaat kepada banyak orang. Sebab, sesuai ajaran agama yang saya dalami, sebaik-baiknya manusia adalah yang mampu memberikan banyak manfaat kepada orang lain,” tuturnya.

Julian Noor tergolong belum lama menakhodai Adira Insurance. Ia diangkat menjadi CEO perusahaan tersebut pada November 2017. Tugas utamanya adalah melakukan pemulihan (recovery) perusahaan.

Penunjukannya tidak sia-sia. Per semester I-2018, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan premi double digit di tengah kondisi industri asuransi yang kurang kondusif. Asuransi kendaraan bermotor menjadi pendorong utama pertumbuhan premi perseroan, dengan komposisi 55 persen, selebihnya adalah produk asuransi lainnya.

Pencapaian itu menjadi sinyal bahwa kinerja bisnis Adira Insurance tahun ini bakal di atas industri. "Tahun ini target premi kami Rp 2,7 triliun, dibanding premi tahun lalu Rp 2,2 triliun. Kami akan pertahankan pertumbuhan double digit sampai akhir tahun. Tidak mudah, memang, tetapi kami akan berusaha," kata Julian. Berikut wawancara dengannya:

Bisa diceritakan pengalaman karier Anda?
Saya bekerja hampir 30 tahun di industri asuransi. Starting saya dulu adalah menjadi underwriter asuransi ternak sapi atau livestock insurance, yaitu asuransi yang menjamin hewan ternak besar.

Dahulu ada proyek Bank Dunia yang disalurkan ke beberapa koperasi di Jawa, melalui bank di sini. Bank Dunia minta tidak hanya kredit yang diasuransikan, tetapi juga sapinya. Kebetulan di Indonesia tidak pernah ada asuransi sapi semacam itu.

Ada dua pilihan, apakah hire orang asuransi untuk belajar ternak, atau orang ternak untuk belajar asuransi. Yang diambil kemudian pilihan kedua.

Maka saya mulai di situ, belajar, mempelajari, mungkin menjadi orang pertama kali yang belajar asuransi ternak di Indonesia. Dulu ada instruktur dari India yang membantu pemahaman apa yang terjadi di India dan livestock insurance, itu sekitar tahun 1989.

Begitu proyek itu berjalan empat tahun, sebelum berakhir, saya putuskan untuk berkarier dan mendalami bidang asuransi. Saat itu ada regulasi baru. Pada 1992 terbit undang-undang tentang asuransi yang mensyaratkan keahlian sertifikasi bidang asuransi. Saya memutuskan ambil sertifikasi dan menjadi orang ke-12 yang mengambil sertifikasi itu di Indonesia.

Anda juga aktif di asosiasi?
Saya masuk Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) pada 2011. Itu juga ada trigger-nya. Waktu itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mau berdiri, UU-nya pun sedang dibahas. OJK dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK.

Asuransi kan dulu di bawah Kementerian Keuangan (Kemkeu), bank di bawah Bank Indonesia (BI), dan pasar modal di bawah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Kemkeu. Jadi, pembicaraannya cukup panjang.

Tugas pengawasan industri keuangan nonbank dan pasar modal secara resmi beralih dari Kemkeu dan Bapepam-LK ke OJK pada 31 Desember 2012. Sedangkan pengawasan di sektor perbankan dan lembaga keuangan mikro masing-masing beralih ke OJK pada 31 Desember 2013 dan pada 2015.

Para senior asuransi saat itu memperkirakan OJK membutuhkan asosiasi sebagai mitra. Maka, dahulu mereka mencari orang yang dianggap punya kompetensi memimpin asosiasi sebagai direktur eksekutif AAUI. Sebelum menjadi direktur eksekutif, saya sebetulnya sudah menjadi pengurus di AAUI. Saya memang senang berorganisasi. Jadi, saya dianggap cocok memimpin asosiasi. Itu saya jalani pada 2011-2017.

Proses menjadi CEO Adira Insurance?
Pada 2015 saya diminta menjadi komisaris independen Adira Insurance. Pada 2017, CEO Adira Insurance mengundurkan diri dan Adira waktu itu butuh pengganti dalam waktu cepat. Mungkin pemegang saham menganggap saya sebagai orang yang cocok memimpin Adira Insurance. Mereka minta saya. Waktu itu saya berembuk dengan para senior di asuransi, sebab tugas saya di industri banyak.

Kalau para senior tidak mau lepas saya di sana, saya juga tidak mau lepas. Ternyata para senior melepas saya. Saya sampaikan kepada pemegang saham bahwa saya diizinkan para senior asuransi yang selama ini menjadi bagian dari pembina asosiasi. Sejak itu, saya jalani tugas sebagai CEO Adira Insurance.

Kunci sukses Anda hingga berada di posisi saat ini?
Pertama, saya tergolong orang yang workaholic. Background saya berpengaruh cukup banyak. Saya dibesarkan keluarga yang sangat sederhana. Orangtua saya menanamkan prinsip yang sangat kuat bahwa bila ingin sesuatu maka saya harus mendapatkannya lewat perjuangan, harus lewat kerja keras. Itu yang membentuk karakter saya.

Kalau saya tidak bekerja keras malah aneh bagi diri saya sendiri. Dalam arti bukan persoalan menyangkut kompensasi, tetapi bagian dari karakter yang terbentuk. Saya juga tidak pernah hitung-hitungan pekerjaan. Prinsip saya bersyukur pun dibentuk dengan cara-cara itu.

Kedua, saya selalu mencoba untuk kreatif. Artinya, dalam mencari solusi terhadap setiap masalah, di tengah keterbatasan, saya selalu mencoba untuk explore apa pun yang saya bisa. Saya tanamkan hal ini di perusahaan. Saya tidak mau buang apa yang ada tapi nggak diberdayakan dengan baik. Bagi saya, itu mubazir. Yang terpenting adalah bagaimana memaksimalkan potensi itu.

Ketiga, saya menganggap integritas bagian dari kunci sukses seseorang. Mungkin banyak yang lebih pintar dari saya, banyak yang lebih jago dari saya. Di Indonesia kan banyak yang pintar, tetapi yang jujur jarang. Saya sih tidak mengklaim diri saya masuk katagori jujur. Namun, dalam banyak hal, saya berupaya menjaga integritas dengan baik, untuk tidak mengotorinya, yang bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Industri asuransi ini kecil, sehingga ketika bermasalah semua orang akan tahu.

Intinya, kembali lagi, kalau ingin mendapatkan sesuatu harus bekerja keras. Ada orang mendapatkan uang banyak, tetapi tidak bekerja keras, itu agak aneh menurut saya, menyimpang dari prinsip hidup.

Nilai-nilai tersebut membuat saya bekerja lebih fokus dan maksimal karena saya tidak berpikiran macam-macam. Hal ini pun saya tanamkan di perusahaan. Integritas akan gampang ditegakkan kalau dari atas memberikan contoh atau teladan.

Filosofi hidup Anda?
Menurut agama yang saya dalami, yaitu Islam, sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Jadi, saya ingin sebanyak mungkin orang mendapatkan manfaat dari saya. Mungkin banyak orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya, tetapi saya agak jarang menikmati hasil pekerjaan saya.

Saya punya dua bisnis di Bogor, yakni warung makan dan salon. Yang satu sudah 17 tahun dan yang satu lagi sudah sembilan tahun. Karyawannya ada 70 orang. Sebetulnya kebahagiaan saya adalah bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, bisa membuat mereka happy. Pada hari Senin sampai Jumat, saya bekerja di Adira. Pada hari Sabtu, ketika saya "mengurus" orang lain, itu bagian dari rekreasi saya.

Visi Anda untuk Adira Insurance?
Untuk visi korporasi, Adira Insurance ditetapkan menjadi perusahaan asuransi pilihan masyarakat. Kami ingin Adira Insurance menjadi tiga besar di industri asuransi nasional, dari saat ini 6-7 besar.

Namun, kalau visi saya pribadi ada beberapa. Pertama, saya ditugasi melakukan recovery kinerja Adira. Sebab data menunjukkan ada penurunan kinerja Adira dalam beberapa tahun terakhir. Saya ingin pada tahun-tahun mendatang Adira bisa lebih baik dan kembali menjadi perusahaan papan atas di industri asuransi Indonesia.

Kedua, visi digitalisasi. Ini sangat challenging ke depan. Lalu, bagaimana Adira bisa memanfaatkan digital untuk kemajuan perusahaan. Tantangan disrupsi ada, tantangan lainnya ada, dan itu bagi saya sangat menantang. Saya harus banyak baca dan belajar apa yang terjadi.

Ketiga, bagaimana me-manage Adira Insurance dengan sumber daya manusia (SDM) generasi milenial. Itu tidak mudah. Mereka disiapkan menjadi generasi penerus Adira agar Adira bisa terus tumbuh, besar, dan menjadi perusahaan pilihan.

Gaya kepemimpinan Anda?
Saya orang yang secara praktik bisa membuat perencanaan (planing), directing, evaluasi, dan kontrol yang baik. Saya pakai teori itu untuk implementasi pekerjaan harian. Tidak mungkin mencapai hasil yang baik jika tidak membuat perencanaan yang baik.

Kemudian tidak mungkin kita bisa membuat perencanaan yang baik jika tidak mampu memberikan arahan secara tepat kepada orang untuk mencapai tujuan yang ingin kita capai.

Kemudian untuk evaluasi, saya juga cukup concern. Terakhir, ada reward dan punishment. Saya juga termasuk orang yang senang menegakkan kedua hal itu. Kalau tidak perform, kasih punishment. Kalau perform, ya dikasih reward.

Masalah utama dalam memimpin itu kan bagaimana menyatukan visi dengan karyawan. Satu-satunya cara untuk mencapainya adalah menjalin komunikasi yang baik. Makanya, saya intens berkomunikasi dengan karyawan.

Obsesi pribadi Anda?
Saya berharap bisa dikasih kesempatan berumur panjang oleh Tuhan agar punya waktu untuk mendalami agama seutuhnya. Sebagai CEO, waktu saya banyak tersita untuk pekerjaan, sehingga waktu untuk melaksanakan ibadah, seperti membaca dan mendalami Alquran, sedikit banget. Ikut pengajian pun minim. Saya ingin hidup saya lebih seimbang.

Bagaimana Anda memandang kehidupan ini?
Kembali lagi ke agama, hidup itu cuma sementara. Jadi, hidup itu bagian dari perjalanan yang dirancang Yang Maha Kuasa. Kita diuji, apakah dalam perjalanan yang sangat singkat itu banyak berbuat baik atau berbuat buruk. Kalau dikasih rezeki, apakah digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

Saya melihatnya begitu.

Peran keluarga dalam karier Anda?
Keluarga, bagi saya, adalah yang utama. Kontribusinya sangat besar dalam karier saya. Saya kebetulan punya istri yang background-nya dosen di IPB. Saya banyak berdiskusi dengan dia. Saya selalu mengatakan, kalau berkarier jangan lupakan keluarga.

Pandangan Anda terhadap pekerjaan?
Nikmati saja pekerjaan itu dengan baik, jangan jadikan beban. Harus enjoy. Bagaimana caranya? Ya dengan memahami pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Kita bekerja tujuannya apa? Apa yang mau dicapai? Maka, pahami cara mencapainya.

Siapa sumber inspirasi Anda?
Yang paling menginspirasi saya adalah ayah saya yang sudah almarhum. Dari bapak, saya mendapatkan banyak hal. Beliau adalah pekerja keras. Saya terinspirasi oleh beliau. Juga dalam hal integritas.

Saya pun banyak belajar dari para atasan saya. Saya mengambil pelajaran yang bagus dari atasan yang bagus. Dari atasan yang tidak bagus, saya belajar ketidakbagusan dia agar saya tidak melakukan hal yang tidak bagus itu.

 



Sumber: Investor Daily
CLOSE